Reporter: Busthomy Asyari
Editor: Ahmad Churry
Jakarta, – Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan terus berinovasi di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya melalui pengembangan solusi IT dengan nama SeBalik Banyuasin.
Menurut Ir. Erwin Ibrahin, ST, MM, MBA, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kab. Banyuasin, SeBalik merupakan akronim dari Sistem Basis Data Pemulihan Ekonomi Kerakyatan, Industri dan Koperasi Banyuasin. Dengan adanya sistem basis data yang dikembangkan tahun 2021 ini, pihaknya turut membantu pemerintah dalam program pemulihan ekonomi di daerah tersebut.
“Sistem basis data SeBalik ini kami ambil dari salah satu desa di Kabupaten Banyuasin, namanya Sebalik. Jadi ini sebagai platform basis data yang bisa digunakan oleh pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan yang tepat dalam menggenjot perekonomian di sini. Dan terbukti berhasil. Di saat daerah lain masih banyak yang terkontraksi, perekonomian kami sudah bertumbuh di tahun ini,” terang Erwin .
Paparan Erwin ini disampaikan dalam sesi wawancara penjurian TOP Digital Awards 2021 yang digelar Majalah IT Work. Proses penjurian sendiri dilakukan secara virtual oleh juri-juri yang kompeten di bidangnya, pada Selasa (26/10/2021). Dinas PKUKM Kabupaten Banyuasin sendiri menjadi salah satu peserta yang terpilih dalam proses penjurian TOP Digital Awards di tahun 2021 ini.
Diterangkan Erwin, deskripsi sistem sendiri merupakan portal WebGIS DPKUKM Banyuasin yang dibangun dengan platform ESRI hasil kerja sama dengan Universitas IGM Palembang. Portal ini dibangun terdiri atas 3 bagian besar antara lain Web Map Services (WMS), Aplikasi Desktop (dapur pemrosesan) dan Aplikasi Web dan Mobile. Portal berperan sebagai hub yang menghubungkan fungsi ketiganya.
“Web Map Service ini dimanfaatkan sebagai sumber data dasar geospasial, Aplikasi Desktop dimanfaatkan sebagai wadah manajemen data dan Aplikasi web dan Mobile dimanfaatkan sebagai layanan atau wadah untuk penyebarluasan informasi, controlling, analisis dan pengambilan keputusan,” dia menerangkan.
Dalam hal ini, kembali dia melanjutkan, webGIS yang disusun berperan sebagai Portal yang diakses oleh client/pengguna dan didukung dengan ketersediaan data dan informasi dari Geodatabase melalui Hosting Server. “Jadi melalui WebGIS yang terbangun, memungkinkan kegiatan berbagi pakai data dan informasi koperasi, UKM, IKM, pasar dan perdagangan dengan mudah untuk berbagai kegiatan seperti pengaturan dan pembaharuan data, berbagai data dan informasi, serta monitoring dan evaluasi (analisis, pemodelan dan ekplorasi data,” kata Erwin.
Manfaat SeBalik
Aplikasi ini diklaim dia memiliki banyak manfaat dan dampak terhadap instansi Kabupaten Banyuasin. Menurutnya, dengan adanya aplikasi ini menjadikan penyajian data lebih detail dan lebih komprehensif dalam memudahkan Pemerintah Kabupaten Banyuasin untuk melakukan intervensi kebijakan, baik kebijakan pembangunan infrastruktur, perekonomian, sosial budaya, sumber daya manusia dan pemukiman wilayah sehingga mampu meningkatkan produktivitas perekonomian kerakyatan skala kecil, menengah, dan besar.
Sehingga, lanjutnya, melalui intervensi kebijakan yang tepat sasaran ini dapat meningkatkan kualitas pembangunan, pemberdayaan dan pengelolaan berbagai bidang yang ditunjukan dengan sebaran strategi kebijakan fiskal langsung pada titik lokasi yang disajikan pada objek pelaku ekonomi kerakyatan by name by address sesuai dengan data yang telah ditetapkan.
“Selain itu, penyaluran program bantuan produktif di dalam pemulihan ekonomi nasional yang dicanangkan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten tidak tumpang tindih bahkan saling mendukung yang menjadikan efisiensi anggaran secara optimal dan menumbuhkan efektivitas layanan,” cerita dia.
Apalagi salah satu indikator keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari capaian Indeks Desa Membangun (IDM). Dan IDM ini memiliki tiga indikator utama yaitu: pertama, Indikator Ketahanan Ekonomi (IKE); kedua, Indikator Ketahanan Lingkungan (IKL); ketiga, Indikator Ketahanan Sosial (IKS). Dan dari ketiga indikator utama tersebut terdapat 54 sub indicator yang dihitung di setiap desa tersebar di wilayah kabupaten Banyuasin. Nantinya, hasil perhitungan IDM itu menghasilkan 5 level capaian pembangunan dari desa yaitu: 1. Desa Mandiri; 2. Desa Maju; 3. Desa Berkembang; 4. Desa Tertinggal; 5. Desa Sangat Tertinggal.
“Jadi, dengan inovasi aplikasi ini memudahkan pengambil kebijakan yaitu Bupati Banyuasin dapat mengambil langkah-langkah strategis di dalam pencapaian target kinerja daerah berdasarkan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Banyuasin sesuai dengan tenggat waktu yang tertuang di dalam RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) secara terukur, terarah, dan akuantabel,” tutur dia.
Dengan adanya aplikasi basis data yang terukur ini, dia berharap geliat pelaku usaha di Kabupaten ‘Lumbung Pangan’ ini semakin tinggi. Maklum saja kendati kabupaten ini penghasil banyak komoditas namun nilai perdagangannya masih defisit. Saat ini, kata Erwin, kontribusi sektor industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih minus Rp21 miliar.
“Dengan kata lain barang yang masuk dari luar daerah masih cukup banyak ketimbang barang yang diproduksi sendiri. Celah masuknya memang banyak, karena kita ada pelabuhan. Untuk itu, yang paling penting menjadikan masyarakat Banyuasin semakin produktif, bahkan bisa memproduksi produk spesifikasi ekspor,” kata dia dengan menambahkan sektor yang paling dominan adalah sektor pertanian dan perkebunan.
Namun begitu, selama ini yang belum optimal pemanfaatan komoditas di sana adalah sabut kelapa. Padahal, Banyuasin merupakan penghasil kelapa terbesar di Sumatera, tapi sabut kelapanya masih tidak ada nilai, berserakan di jalanan.
“Padahal, sabut kelapa bisa menjadi bahan baku tekstil dan ini diburu oleh Korea, China, dan Jepang. Kita belum bisa oleh menjadi barang bernilai. Untuk itu, kami sudah kerja sama untuk membangun sentra industri pengolahan sabut kelapa senilai Rp25 miliar,” ujarnya.
Keberhasilan Implementasi SPBE
Melalui aplikasi SeBalik ini, Erwin yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kab. Banyuasin itu menyebutkan, adanya inovasi yang dikembangkan pihaknya itu bukti keberhasilan implementasi Sitem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Pasalnya, jelas dia, peningkatan kualitas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah serta Industri Kecil Menengah, Pasar dan Perdagangan itu supaya mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional diperlukan pendataan yang akurat, terkini dan mudah diakses oleh para pihak yang berkepentingan. Sehingga aplikasi ini sudah mewujudkan SPBE itu.
“Jadi, untuk memperoleh data Koperasi, UKM, IKM, Pasar dan Perdagangan yang akurat, terpercaya, terkini dan mudah diakses, perlu diwujudkan melalui pengembangan sistem informasi Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Industri Kecil Menengah, Pasar dan Perdagangan yang terintegrasi melalui pemanfaatan teknologi informasi, yakni SeBalik itu,” terangnya.
Ditambahkan, sesuai tuntutan kemajuan teknologi, maka informasi sekarang ini tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk data dan tabel, namun juga harus disajikan secara spasial. Informasi spasial merupakan informasi yang berhubungan dengan lokasi geografis, dimensi atau ukuran. Sehingga, pimpinan OPD Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyuasin mendorong untuk melakukan pengembangan Portal Layanan Perdagangan, Koperasi, UKM dan IKM berbasi GIS yang selanjutnya disebut dengan Portal WebGIS DPKUKM Banyuasin.
“Nantinya, output yang diharapkan antara lain tersedianya WebGIS Koperasi, UKM, IKM, Pasar dan Perdagangan Kabupaten Banyuasin. Hadirnya WebGIS ini diharapkan mampu mendorong keterbukaan informasi terhadap publik untuk mengakses informasi sebaran Koperasi, UKM, IKM, Pasar dan Perdagangan di Kabupaten Banyuasin,” pungkas dia.














