Jakarta, Itech- Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi mengatakan dalam rangka mencegah kebakaran di lahan gambut, perlu dilakukan monitoring kadar air dalam gambut. Pada hakikatnya lahan gambut berfungsi menyerap air. Penyebab sulitnya pemadaman api akibat gambut yang kehilangan air.
“Sebanyak 90% lahan gambut berupa air yang berperan penting sebagai sumber air tawar. Untuk mencegah lepasnya air dari gambut, dengan membuat sekat kanal agar gambut tetap basah,” katanya di sela peluncuran buku “Tropical Peatland Ecosystem” Masa Depan Pengelolaan Gambut Tropika’ di kantor BPPT, Jakarta, (22/2).
Bambang yang juga peneliti gambut menambahkan, buku Tropical Peatland Ecosystem yang ditulis pengajar Universitas Hokkaido, Mitsuro Osaki ini berisi pemikiran baru dan pandangan baru mengenai ilmu mutakhir paling lengkap mengenai penanganan gambut tropika. Selain itu, mengulas lebih dalam mengenai kabut asap akibat kebakaran lahan gambut yang dipicu kemarau serta gejala alam El-nino.
“Buku yang isinya merupakan hasil kerjasama dengan ilmuwan Indonesia ini merupakan sumber yang bagus bagi para ilmuwan yang tertarik dalam dampak lahan basah pada perubahan iklim dan fungsi ekosistem, yang mengandung sejumlah besar hasil penelitian terbaru seperti pemantauan-sensing-modeling untuk karbon-air fluks dan pengelolaan lahan gambut di daerah tropis,” terang Bambang.
Lebih lanjut Presiden Himpunan Gambut Jepang, memperkirakan lebih dari 23 juta hektar (62%) dari total luas lahan gambut tropis global terletak di Asia Tenggara, di dataran rendah atau pesisir daerah Sumatera Timur, Kalimantan, Papua Barat, Papua Nugini, Brunei, Semenanjung Malaysia, Sabah , Sarawak dan Thailand Tenggara.
“Lahan gambut tropis memiliki fungsi penyimpanan karbon-air yang vital dan tuan rumah untuk keragaman besar dari spesies tanaman dan hewan. ekosistem lahan gambut sangat rentan terhadap perubahan iklim dan dampak aktivitas manusia seperti penebangan, drainase dan konversi ke lahan pertanian,” ujar Mitsuro Osaki yang dikenal juga sebagai praktisi Gambut asal Jepang ini.
Di Asia Tenggara, kekeringan episodik berat terkait dengan El Niño-Southern Oscillation, dalam kombinasi dengan lebih-drainase, degradasi hutan, dan perubahan penggunaan lahan, telah menyebabkan kebakaran lahan gambut yang luas dan oksidasi gambut mikroba. lahan gambut 20 Mha Indonesia diperkirakan mencakup sekitar 45-55 GtC stok karbon.
Dikatakan, sebagai hasil dari penggunaan lahan dan pembangunan, Indonesia adalah penyumbang terbesar gas rumah kaca ketiga (dioksida 2-3 Gtons karbon ekuivalen per tahun), 80% dari yang disebabkan deforestasi dan hilangnya lahan gambut. Dengan demikian, lahan gambut tropis ekosistem kunci dalam hal siklus karbon-air dan perubahan iklim. (red/ju)














