Jakarta, Itech-Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk turut berpartisipasi mengurangi dampak negatif lingkungan dari penggunaan kantong plastik. Selain itu, BATAN terus berupaya menarik industri agar melirik teknologi plastik ramah lingkungan dengan bantuan teknologi nuklir yang dapat dimanfaatkan sebagai solusi tepat untuk mengatasi penggunaan plastik konvensional.
Teknologi plastik yang mudah diurai, sebenarnya sudah dikembangkan BATAN sejak 15 tahun silam. Produk teknologi plastik ramah lingkungan dikembangkan oleh Pusat Aplikasi Isotop dan Raidasi BATAN dengan menggunakan komposit limbah tapioka.
Penggunaan teknologi nuklir saat pembuatan plastik digunakan saat menjadikan bijih plastik kopolimer atau menjadikan senyawa dengan ikatan kompleks. Proses itu menggunakan teknologi radiasi gamma dan berkas elektron. Kemudian penyinaran dengan radisi tidak akan mengakibatkan bahan yang disinari menjadi radioaktif.
Apabila tidak menggunakan radiasi, maka proses pembentukan kopolimer memerlukan suhu sekitar 60 derajat celsius. Artinya, energi listrik yang dibutuhkan pun harus dalam jumlah yang besar.“Keunggulan lain plastik ramah lingkungan adalah proses pembuatannya relatif cepat dan produk yamg dihasilkan dapat terurai sempurna setelah penguburan di dalam tanah selama dua hingga enam bulan,” jelas Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto di Jakarta, Selasa (8/3).
Uniknya, teknologi plastik ramah lingkungan Batan hampir sama dengan plastik konvensional. Yaitu mudah dibentuk, mudah diwarnai, sampai penggunaan di luar kantong plastik, misalnya pembuatan vas bunga, pot, produk hiasan, piring, gelas dan lainnya. Namun sayangnya belum ada indutsri yang melirik plastik ramah lingkungan buatan Batan ini, karena membutuhkan investasi yang lumayan besar yakni 70 miliar hingga 90 miliar untuk membangun satu iradiator. sehingga kebanyakan Investor masih ragu kapan balik modalnya, karena tanpa ini pun mereka sudah untung
Padahal untuk memenuhi kebutuhan plastik, Indonesia butuh setidaknya lima iradiator yang hanya khusus memproduksi plastik. Sementara Indonesia baru punya dua iradiator, yaitu iradiator non komersial milik BATAN untuk kegiatan riset, dan iradiator komersial yang berlokasi di Cikarang untuk kegiatan iradiasi produk lainnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, “Industri harus membuat plastik yang seramah mungkin untuk lingkungan. “Saya minta pemerintah memberikan perhatian terhadap penelitian BATAN yang punya plastik ramah lingkungan, agar dapat diproduksi secara massal,” ujarnya.
Tulus menilai kebijakan plastik berbayar di satu sisi bagus, tapi konteks kebijakan plastik berbayar bukan pada nilai rupiah yang harus dikeluarkan konsumen untuk membeli plastik. Namun industri retail (dagang) harus aktif melakukan kampanye agar konsumen tidak menggunakan plastik dalam transaksinya, atau pilihan lain, yaitu menggunakan plastik ramah lingkungan. “Niilai rupiah yang dikeluarkan konsumen untuk membeli kantong plastik tidak sebanding dengan dampak buruk lingkungan yang ditimbulkan,” tutupnya.
Sekedar diketahui, data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), penggunaan plastik mencapai sekitar 300 lembar per hari per toko. Sementara jumlah gerai di seluruh Indonesia mencapai 90 ribu, artinya sebanyak 9,85 miliar lembar kantong plastik dihasilkan per tahun.Tak mengherankan, jika Indonesia menempati peringkat kedua di dunia, setelah China, yang tingkat konsumsi plastiknya paling tinggi. (red/ju)














