Trellix, perusahaan keamanan siber dengan platform Extended Detection and Response (XDR), merilis hasil penelitian yang mengungkap dampak dari sistem keamanan yang terisolir, titik lemah dalam sebuah sistem keamanan, serta kurangnya kepercayaan diri di antara tim operasi keamanan (SecOps) di Indonesia.
Dengan melakukan survei ke 500 ahli keamanan siber di Indonesia, penelitian ini juga memberikan pandangan terhadap masa depan keamanan siber serta teknologi yang siap merevolusi operasi keamanan.
Survei ini memperlihatkan 93% dari responden menggambarkan bahwa model sistem keamanan yang mereka gunakan saat ini ‘terisolir’. Sehingga, tiga perempat (75%) dari responden besar kemungkinan akan mengalokasikan anggaran mereka untuk mengadopsi solusi yang lebih canggih, termasuk XDR, untuk memberikan pendekatan keamanan siber yang lebih terintegrasi.
Lewat siaran pers, 28/09/2022, Jonathan Tan, Managing Director, Asia, at Trellix mengatakan, “Dengan sederet insiden keamanan siber yang terjadi sepanjang tahun 2022, Indonesia saat ini berada pada posisi yang krusial. Untuk melawan serangan-serangan siber ini, data loss prevention harus menjadi salah satu prinsip utama dari setiap platform keamanan siber.”
“Alih-alih mengadopsi lebih banyak produk keamanan yang berbeda, yang dibutuhkan organisasi di Indonesia adalah perubahan radikal dalam pendekatan mereka terhadap keamanan siber, menuju sistem bersifat menyeluruh dan cerdas yang dapat bekerja secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan mereka,” ia menyarankan.
Baca: Transformasi Digital Harus Didukung oleh Pertahanan Siber Nasional yang Kuat














