Penulis: Busthomi
Editor: Fauzi
Transformasi digital di PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (IDX: BJTM) atau Bank Jatim dinilai sudah berhasil. Dengan sederet aplikasi digital yang dikembangkannya, terbukti bank kebanggaan masyarakat Jatim tersebut mampu melecut pendapatan bank berkat langkah digitalisasi.
Keandalan produk digital dan solusi TI yang dikembangkannya dalam beberapa tahun terakhir sudah kian maju dan menguntungkan banyak pemangku kepentingan. Mulai dari Pemerintah Daerah, Aparat Sipil Negara (ASN), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Asosisasi Pengusaha & Konstruksi, Pendidikan dan tentu saja Nasabah Umum. Hal itu ternyata berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan pasca pandemi ini.
Langkah digitalisasi ini pun tak pelak sebagai modal utama untuk menjadikan Bank Jatim sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) nomor pertama di Indonesia. Memang bukan langkah mudah, namun Bank jatim siap mewujudkannya. Hal ini pun selaras dengan Visi-Misi Bank Jatim dengan digitalisasi menjadi penyokong di dalamnya.
Pernyataan dariBank Jatim itu terungkap dalam sesi penjurian TOP Digital Awards 2022 yang diselenggarakan Majalah It Works dengan menggandeng banyak lembaga professional di bidang IT pada Senin (10/10/2022) lalu yang dilakukan secara daring.
Dalam sesi penjurian kali ini, dihadiri langsung oleh Direktur Teknologi Informasi dan Operasi Bank Jatim, Tonny Prasetyo dan didampingi Pemimpin Divisi Teknologi Informasi Bank Jatim, Eko Tri Prasetyo.
Dipaparkan Tonny, transformasi digital yang dilakukan Bank Jatim ini sudah berlangsung lama dan memiliki tingkat kematangkan TI atu IT Maturity Level yang sangat baik. Dengan maturity model yang digunakan oleh perseroan dalam mengembangkan setiap aplikasi IT tersebut memiliki tiga tingkatan level maupun acuan pengembangan, yaitu harus sesuai dengan:
Pertama, Peraturan OJK No 38/POJK.03/2016 tentanng penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh Bank Umum; kedua, Surat Edaran OJK No 21/SEOJK.03/2017 tentang penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh Bank Umum; dan ketiga, COBIT 5.0 sebagai salah satu framework IT Governance.
“POJK dan SEOJK itu mengatur tentang penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank umum. Adapun COBIT 5.0 itu sebagai salah satu framework IT Governance yang paling banyak digunakan, juga menyatakan pentingnya memiliki IT Strategic Plan yang selaras (align) dengan strategi bisnis,” tutur Tonny menjelaskan.
Dan salah satu solusi TI atau aplikasi yang berhasil meningkatkan pendapatan perseroan adalah JConnect Mobile. Aplikasi yang dikembangkan sejak tahun lalu itu sebuah layanan digital banking yang merupakan strategi Bank Jatim untuk memberikan layanan yang adaptif terhadap kebiasaan baru masyarakat dalam bertransaksi terutama di era pandemi.
Selain itu juga diharapkan hadirnya JConnect ini dapat meningkatkan kemudahan dan kenyamanan nasabah dalam mengakses layanan perbankan di era 4.0.
Seperti disebutkan Tonny, tujuan JConnect adalah untuk memperkuat tiga pilar penting yang saat ini terus dikembangkan oleh Bank Jatim, antara lain pilar Pemerintah Daerah dan ASN, UMKM, serta Masyarakat Umum. “Dengan kata lain, kami berkomitmen untuk hadir dan terus mengembangkan inovasi layanan digital perbankan kepada tiga pilar penting tersebut,” tegasnya.
Platform digital JConnect ini hadir di tengah-tengah Pemda dan ASN untuk terus melakukan integrasi pengelolaan keuangan daerah atau elektronifikasi keuangan daerah serta layanan transaksi non tunai bagi ASN.
Selanjutnya, dalam hal pembiayaan, bank yang dikomandoi oleh Direktur Utama Busrul Iman itu tidak hanya bertugas untuk melakukan penyaluran kredit terhadap UMKM, namun melalui JConnect, Bank Jatim siap membantu proses digitalisasi para pelaku UMKM, menyediakan sarana transaksi secara online, cashless payment, serta pemasaran melalui market place.
“Jadi, dengan hadirnya JConnect ini, segala kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan yang aman, mudah diakses serta dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja dapat terpenuhi. Karena, aplikasi mobile ini digunakan untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan secara mandiri. Dengan fitur unggulannya adalah, QRIS, Top Up e-Wallet, Pembayaran Pajak, Pembelian Pulsa dan Token Listrik,” jelas Tonny.
Untuk diketahui, kinerja Bank Jatim sendiri terus moncer dengan adanya digitalisasi ini. Hingga Agustus 2022, aset Bank Jatim mencapai Rp100,93 triliun atau tumbuh 5,74% secara year on year (yoy), dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Jatim mencatatkan pertumbuhan 7,18% (yoy) yaitu sebesar Rp86,88 triliun, dan pengucuran kredit tumbuh positif sebesar 5,24% (yoy) menjadi Rp45,04 triliun, sehingga laba bersih Bank Jatim pun tercatat mencapai Rp1,05 triliun atau tumbuh 3,43% (yoy).
IT Unggulan Lain
Selain JConnect, perseroan juga memiliki aplikasi lain, seperti e-KMG. Aplikasi ini berupa system yang bisa dimanfaatkan oleh paa ASN atau nasabah lain sebagai solusi dalam pengajuan fasilitas kredit multiguna. Dengan fitur unggulannya terkait dengan simulasi kredit dan outsanding kredit. Sehingga semuanya bisa dilakukan melalui satu aplikasi.
Selajutnya ada Katepay. Ini merupakan salah satu inovasi dari solusi yang ditawarkan kepada nasabah, sebagai salah satu pilihan untuk melakukan investasi, hal ini cukup membanggakan bagi Bank Jatim mengingat Bank Jatim menjadi Bank pertama di Indonesia yang dapat berkolaborasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya, Jatim dalam inovasi penggunaan KIA (Kartu Identitas Anak) sebagai alat pembayaran.
“Juga ada aplikasi soal investasi lainnya yang terbaru dari Bank Jatim yakni Jconnect Invest. Ini merupakan salah satu dari solusi bisnis yang ditawarkan kepada nasabah, sebagai salah satu pilihan untuk melakukan investasi, dimana nasabah dapat melakukan investasi ke beberapa pilihan, yang diantaranya ORI (Obligasi Ritel Indonesia), SBR (Saving Bond Ritel), maupun Sukuk Negara Ritel,” terang dia.
Serta aplikasi untuk internal ada yang namanya Jatim Kilat. Diterangkan Tonny, aplikasi ini digunakanoleh tim analis kredit perseroan untuk mengetahui secara detail informasi calon debitur ketika menerima pengajuan kredit secara digital. Aplikasi ini disokong fitur unggulan untuk mempercepat SLA (Service Level Agreement) proses pengajuan kredit sekaligus sebagai monitoring proses pengajuan kredit.
Penguatan Infrastruktur & IT Security
Tonny kembali melanjutkan pemaparannya terkait dengan kondisi penguatan infrastruktur IT di Bank Jatim termasuk dengan IT security-nya. Dalam hal ini, Bank Jatim sudah melakukan banyak hal untuk membangun infrastruktur IT-nya.
Antara lain, melakukan upgrade SIEM (Security Information and Event Management) dengan cara perluasan scope dan peningkatan kapabilitas Security Incident Event Management untuk memantau log keamanan aplikasi dan sistem bank Jatim.
Dalam hal Log Managament System, Bank Jatim juga melakukan deteksi peningkatan kemampuan dan investigasi insiden keamanan teknologi informasi. “Lalau terkait End Point Management, kami memiliki aplikasi untuk pengendalian keamanan dan pengelolaan konfigurasi aset di endpoint komputer baik hardware maupun software,” terang Tonny.
“Kami juga memiliki Two Way Authentication VPN Remote Access. Ini untuk meningkatkan security login remote akses dengan dua factor authentikasi yaitu user name password dan token. Selanjutnya, ada juga Application Security Testing yaitu aplikasi untuk otomasi inspeksi keamanan source code aplikasi,” dia mengimbuhkan.
Langkah selanjutnya dalam IT security ini adalah Bank Jatim telah bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam memaksimalkan ketahanan siber security melalui cyber security maturity (CSM) yang saat ini dimiliki.
Seain itu, saat ini Bank Jatim juga sedang melakukan proses sertifikasi ISO 27001 sebagai peningkatan kegiatan security tersebut.
“Dan tentu saja, Bank Jatim juga memiliki kebijakan pengelolaan human capital TI. Antara lain dengan menjalankan prinsip segregation of duty untuk mencegah adanya personil yang dapat melakukan kesalahan atau pelanggaran (baik disengaja ataupun tidak disengaja) tanpa diketahui atau tanpa terdeteksi,” kata Tonny.














