Jakarta, ItWorks- Seiring meningkatnya gaya hidup yang serba digital di kalangan masyarakat, implementasi teknologi digital pada layanan kesehatan di rumah sakit kian menjadi keniscayaan yang tak terelakkan, Sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan layanan, sekaligus competitiveness (daya saing), Primaya Hospital bertekad untuk memacu implementasi teknologi digital (transformasi digital) di berbagai lini.
“Kami bertekad menghadirkan layanan kesehatan menyeluruh bagi masyarakat dengan keunggulan sistem teknologi informasi (TI), serta peralatan medis modern yang lebih mumpuni. Saat ini, kami telah menerapkan sistem EMR (Electronic Medical Record) yang sangat membantu mudahkan tenaga medis ataupun dokter mengakases data dan informasi pasien secara cepat dan akurat. Saat ini, kami juga sedang membangun pusat data terpadu (data center) yang nantinya bisa terintegrasi dengan semua jaringan rumah sakit yang ada di Grup Primaya yang saat ini ada 15 rumah sakit. Kami juga sudah menerapkan sistem teknologi untuk layanan antrian on line dan juga layanan telemedichine. Ke depan digitalisasi akan terus kami perkuat sebagai kekuatan layanan kami yang lebih professional,” ungkap CEO Primaya Hospital, Leona A Karnali menjawab ItWorks usai paparan pers “Penawaran Umum Perdana Saham Primaya Hospital” Senin, (17/10/ 2022), di Jakarta.
Dikatakan, Primaya Hospital saat ini telah mengantungi akreditasi internasional rumah sakit dari Joint Comission International (JCI) berbasis di Amerika Serikat yang hanya dimiliki oleh 23 dari 3000 rumah sakit di Indonesia, serta mendapatkan akreditasi nasional dari badan akreditasi di Indonesia. Untuk memastikan mutu pelayanan tetap terjaga, dilakukan juga audit internal secara berkala dengan menerapkan standarisasi operasional yang sama di seluruh jaringan rumah sakit.
Dalam rangka akselerasi pengembangan usaha, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk, pengelola jaringan rumah sakit Primaya Hospital Group, melakukan penawaran umum perdana (initial public offering /IPO) saham, dengan harga berkisar Rp 900-950 per saham atau setara dengan Rp 272-287,11 miliar. Sebagian besar dana hasil IPO saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis dengan membangun rumah sakit baru di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera.
“Kalau kita cermati saat sekarang ini memang pasar modal sedang kurang bagus sebagai dampak makro ekonomi global, maupun domestik. Tapi saya tetap optimistis, karena tidak semua sektor industri melemah karena pandemi covid-19. Beberapa bidang usaha justru tetap menggeliat. Salah satunya layanam rumah sakit yang justri meningkat karena adanya pandemi ini. Karena itu, saya yakin ke depan usaha bidang kesehatan ini tetap prospektif, dan ini sudah kami buktikan, di mana selama 16 tahun sejak Primaya Berdiri, dengan profesionalitas tinggi, kami bisa terus berkembang. Pandemi juga memberi pelajaran berharga dimana masyarakat kini juga semakin peduli dan menyadari pentingnya menjaga kesehatan,” ungkap Prof Yos E. Susanto, pendiri Primaya Hospital saat menyampaikan opening speech acara press conference “Penawaran Umum Perdana Saham Primaya Hospital”.
Leona A Karnali menambahkan, Perseroan menawarkan saham ke publik melalui mekanisme penawaran umum perdana (Initial public offering) dengan kode saham PRAY, sebanyak-banyaknya 302.222.300 (tiga ratus dua juta dua ratus dua puluh dua ribu tiga ratus) saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah Saham Baru dan dikeluarkan dari portepel Perseroan, yang ditawarkan kepada Masyarakat dengan Harga Penawaran Rp900,- (sembilan ratus Rupiah) sampai dengan Rp950,- (sembilan ratus lima puluh Rupiah) setiap saham. Persentase kepemilikan masyarakat mewakili sebanyak 2,17% (dua koma satu tujuh persen) dari modal ditempatkan dan disetor Perseroan pada saat Tanggal Pencatatan.
Adapun masa penawaran awal (bookbuilding) IPO berlangsung pada tanggal 14 – 21 Oktober 2022 dan perkiraan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 November 2022. Untuk merealisasikan IPO ini, Perseroan telah menunjuk PT Indo Premier Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi (underwriter).
“Sebanyak 50% dana hasil IPO saham akan dialokasikan sebagai dana tambahan perolehan tanah untuk pembangunan rumah sakit di kota-kota besar di Pulau Sumatera dan Jawa. Kemudian sebanyak 25% akan digunakan untuk dana tambahan biaya pengembangan gedung dan layanan rumah sakit yang telah ada, dan sisanya sekitar 25% akan digunakan untuk dana tambahan pembiayaan pembangunan gedung rumah sakit baru. Rencananya kita akan bangun rumah sakit di kota-kota tier I di Pulau Jawa dan Sumatera, termasuk di kota Jakarta ini,” ujarnya. (AC)














