ItWorks- Pengguna solusi keamanan siber mengungkapkan dan memprediksi bahwa teknologi inovatif mulai dari Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), Artificial intelligence (AI) antarmuka suara, dan otomatisasi proses (termasuk robotisasi komunikasi) hingga pengujian dan penilaian yang mendukung AI akan memicu peningkatan serangan siber di tahun ini. Karena itu, penting bagi pelaku bisnis meningkatkan kewaspadaan dan respons cepat terhadap risiko siber di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI ini.
Tren meningkatnya penggunaan teknologi yang menciptakan lingkungan virtual yang imersif dan menghilangkan batas antara dunia nyata dan dunia virtual, seperti VR, AR, AI, dan sejenisnya, di sisi lain juga menjadi tantangan dari aspek IT security. Hal ini juga sejalan dengan data Kaspersky yang menunjukkan terdapat sebanyak 41.039.452 ancaman online yang menyasar pengguna di Indonesia selama periode Januari hingga Desember 2022.
Saat ini teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu teknologi yang kian banyak dibicarakan dalam lanskap bisnis di tanah air. Tren peningkatan penggunaan teknologi tingkat lanjut ini di Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk cukup besar dan sekaligus berada di tengah perkembangan digital yang sangat pesat ini, diprediksi makin tinggi. Apalagi pemerintah Indonesia juga turut mendukung kehadirannya melalui penerapan langkah-langkah strategis demi menciptakan
pertumbuhan yang inklusif dan kemajuan yang cepat.Indonesia juga telah mencanangkan kesiapan memasuki era industri keempat (industri 4.0) yang sarat dengan tuntutan penggunaan smart technology seperti AI ini. Bahkan, Indonesia diproyeksikan menjadi pemimpin terdepan dalam adopsi Artificial Intelligence (AI) di ASEAN pada 2030 dan menjadi negara maju pada 2045.
Peningkatan Serangan
Berkenaan dengan tren penggunaan teknologi ini, Kapersky memprediksi bahwa teknologi inovatif mulai dari VR, AR, antarmuka suara, dan otomatisasi proses (termasuk robotisasi komunikasi) hingga pengujian dan penilaian yang mendukung AI akan memicu peningkatan serangan siber di tahun ini. Inovasi teknologi yang cepat, sistem yang kompleks, dan berbagi data yang semakin terhubung memungkinkan risiko upaya siber menjadi lebih terorganisir dan tersebar luas di dalam negeri.
Data terbaru Kaspersky menunjukkan solusi perusahaan telah memblokir sebanyak 41.039.452 ancaman online yang menyasar pengguna di Indonesia selama periode Januari hingga Desember 2022. Ini merupakan penurunan sebesar 4,52% dibandingkan 42.983.721 upaya pada periode yang sama di tahun 2021. Hal ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-68 secara global dalam hal bahaya yang terkait dengan berselancar di web.
Dalam hal ancaman lokal, hampir setengah (45%) pengguna Kaspersky di negara tersebut menjadi sasaran jenis ancaman ini. Sebanyak 56.463.262 serangan offline diblokir dari Januari hingga Desember 2022 di Indonesia. Angka ini menurun 24,52% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 dengan 74.803.899 insiden lokal pada komputer peserta KSN di Indonesia. Hal ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-64 secara global dalam hal ancaman lokal.
Statistik infeksi lokal untuk komputer pengguna merupakan indikator yang sangat penting. Worm dan virus file menyumbang atas sebagian besar insiden tersebut. Data ini menunjukkan seberapa sering pengguna diserang oleh penyebaran malware melalui drive USB yang dapat dilepas, CD dan DVD, dan metode “offline” lainnya.
“Kehadiran AI kini dapat dirasakan dalam aktivitas yang paling sederhana sekalipun, mulai dari smartwatch yang dapat menghitung detak jantung hingga mobil tanpa pengemudi bahkan untuk. AI, seperti ChatGPT, juga menunjukkan kemungkinan terobosan dan manfaat luar biasa yang dapat dibawanya ke semua industri dan fungsi bisnis. Namun, statistik kami untuk Indonesia tahun lalu menegaskan bahwa adopsi teknologi canggih harus terus disertai dengan antisipasi dan respons perusahaan yang tepat terhadap serangan siber,” komentar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, dalam rilis pers (06/03/2023), di Jakarta.
Ditambahkan, untuk membangun langkah-langkah keamanan siber dalam teknologi yang sedang berkembang ini, sebaiknya pahami cara kerja AI modern dan disiplin yang mendasarinya saat ini. Sehingga penerapannya dalam bisnis dapat berjalan dengan baik dan aman. “Dari sudut pandang kami sebagai ahli, pengesahan undang-undang perlindungan data di Indonesia telah membuka jalan bagi perusahaan domestik untuk lebih percaya diri dalam mengembangkan ekosistem bisnis digital mereka dengan AI dan kepercayaan ini harus sejalan dengan komitmen negara untuk memperkuat kemampuan pertahanan TI nya,” tambah Yeo.
Bagi perusahaan untuk melindungi bisnis mereka dari ancaman dunia maya terbaru dan menggunakan AI dengan aman, Kaspersky merekomendasikan hal berikut:
• Selalu pantau tren keamanan siber terbaru baik lokal maupun global
• Melakukan pelatihan keamanan siber secara rutin yang akan memberikan edukasi mengenai ancaman terbaru dan yang lebih penting untuk meningkatkan kebiasaan karyawan dan membentuk pola perilaku baru demi menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.
• Berinvestasi dan tetap fokus pada masa depan dengan teknologi Anda. Kerugian akibat teknologi yang sudah ketinggalan zaman atau penggunaan tenaga kerja manual secara berlebihan akan jauh lebih besar karena ancaman menjadi lebih kompleks.
• Perbarui kebijakan data secara rutin untuk mematuhi undang-undang yang berkembang. Privasi data telah menjadi titik fokus bagi badan pengatur di seluruh dunia
• Instal perangkat lunak keamanan komprehensif untuk server apa pun, PC, perangkat lain yang terhubung secara berkala.
• Perkuat Tim manusia (non robot) masih tetap penting. Pada akhirnya, pemikiran kritis dan kreativitas akan menjadi vital untuk pengambilan keputusan.














