Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berkomitmen melakukan pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung pembangunan infrastruktur industri kereta cepat dan memperkuat struktur industri Nasional, melalui MoU dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan Indonesia Railway Manufacturer Association (IRMA) di Jakarta, Selasa (26/7).
Proyek strategis kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditargetkan beroperasi tahun 2019. MoU tersebut disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dan Menteri Perindustrian Saleh Husin. Kerjasama aketiga pihak tersebut antara lain meliputi penelitian dan pengembangan teknologi, pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan dan penerapan hasil-hasil kerekayasaan yang telah ada, pemanfaatan sarana dan prasarana, dan bantuan teknis sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Ruang lingkup kerjasama tersebut adalah untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan industri kereta cepat, mencakup bidang teknologi yakni track construction, signal and comunication, rolling stock, dan railway traction power supply. Selain itu, juga mencakup teknologi comprehensive maintenance, dispatching, safety & emergency response, passenger service, surveying technology, dan disaster prevention technology.
Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan penandatanganan MoU ini ditujukan guna pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung pembangunan infrastruktur industri kereta cepat dan memperkuat struktur industri nasional. Unggul juga berharap dengan adanya kerja sama ini dapat mempercepat proses alih teknologi pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142 kilometer ini. TKDN pun ditargetkan mencapai 60 persen. Hal senada juga dikatakan Menristekdikti M Nasir. Menurut dia, kajian riset dan penyiapan SDM menjadi dukungan dari Kemristekdikti.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Api Cepat Indonesia China (KCIC) Hanggoro Budi menargetkan konstruksi kereta cepat dilakukan dalam 3 tahun dan operasionalnya selama 50 tahun. Pihaknya juga sudah melakukan kajian mitigasi bencana. Ia pun berharap BPPT bisa menjadi clearing house untuk mengkaji teknologi yang akan diadopsi dari Tiongkok tersebut. Jika Indonesia sukses membangun kereta cepat Jakarta-Bandung, tentunya ini merupakan kereta cepat pertama di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Selain mengurangi kemacetan, proyek dengan nilai investasi sekitar Rp 5,1 miliar bisa menjadi loncatan Indonesia alih teknologi hingga bisa mengekspor teknologi kereta cepat 15 tahun mendatang.
Menteri BUMN Rini Soemarno meyakini transportasi massal yang cepat sudah menjadi kebutuhan, sehingga proyek ini memang menjadi batu loncatan yang harus diambil pemerintah. Nah, untuk mencapai kesejahteraan merata maka transportasi massal menjadi keharusan, sehingga proyek ini juga menjadi salah satu unggulan program dari Kementerian BUMN. Sedangkan Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia memang perlu kajian lebih lanjut dari berbagai kementerian dan lembaga untuk mengembangkan transportasi massal yang tepat. Belajar dari China yang “mengcopypaste” teknologi Jepang untuk industri teknologi kereta cepat akhirnya membuat negara Tirai Bambu tersebut mampu menguasai teknologi tersebut dengan cepat.
Seperti diketahui, nota Kesepahaman antara BPPT – KCIC dan IRMA ini berlandaskan pada tugas pokok, fungsi dan wewenang dari masing-masing pihak, dimana BPPT sebagai lembaga pemerintah non kementerian yang bergerak di bidang pengkajian dan penerapan teknologi; PT. KCIC sebagai suatu perseroan terbatas yang memegang izin pembangunan dan pengoperasian kereta cepat di Indonesia untuk trase Jakarta – Bandung; dan IRMA sebagai asosiasi yang terdiri dari perusahaan-perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang manufaktur perkeretaapian.(red/ju)














