ItWorks- Hasil penelitian terbaru Kaspersky mengungkapkan bahwa peran penting pengajar di Asia Pasifik dalam menyebarkan pengetahuan atau ilmu tentang keamanan Siber, masih rendah dan perlu lebih ditingkatkan.
Peneilitian terbaru Kaspersky menyoroti peran penting pendidik/pengajar di Asia Pasifik (APAC) dalam meningkatkan edukasi siber di Sekolah. Studi dilakukan selama lima minggu dengan berkolaborasi Kaspersky dan Associate Professor Jiow Hee Jhee dari Singapore Institute of Technology. Servei dilakukan terhadap 157 pengajar di India, Singapura, dan Filipina.
“Seiring dengan upaya kami untuk menciptakan komunitas global yang kebal siber, peran pengajar tidak dapat disepelekan. Mengingat bahaya ancaman siber masih menjadi hal mendesak, sangatlah penting bagi para pengajar untuk memiliki pengetahuan memadai tentang praktik kebersihan siber dan memahami manfaat dari kewaspadaan di dunia maya,” kata Trishia Octaviano, Manajer Urusan Akademik untuk Asia Pasifik di Kaspersky dalam rilis pers (13/05/2024) yang di terima ItWorks, di Jakarta.
Penelitian Kaspersky menyoroti bagaimana sekolah dan institusi harus berupaya mengidentifikasi dan menjembatani kesenjangan untuk mempersiapkan generasi berikutnya dalam menghadapi ancaman online yang semakin meningkat yang mungkin mereka hadapi.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pengajar yang mempraktikkan kebersihan siber dengan baik menunjukkan kepercayaan diri lebih besar dalam memberikan instruksi kepada siswa tentang cara mengidentifikasi sumber dan email yang mencurigakan. Kepercayaan ini terutama dirasakan oleh para pengajar yang telah dibekali ilmu dan wawasan dari pelatihan para ahli.
Di antara pengajar yang disurvei, hampir 70% lebih memilih menggunakan data seluler mereka sebagai tindakan pencegahan dibandingkan jaringan publik. Sedangkan untuk link dan lampiran yang tidak dikenal, 70% responden merasa curiga dan tetap waspada terhadap link yang mereka terima dari pengguna atau situs yang tidak dikenal.
Namun, ketika membuat kata sandi yang aman dan kuat, 85% responden mengakui bahwa ada kemungkinan seseorang dapat menebak dan memecahkan kata sandi mereka. 90% juga mengatakan bahwa ada kemungkinan perangkat digital mereka akan diserang di masa depan.
Kendati pencurian data akibat kebocoran kata sandi merupakan ancaman serius terhadap keamanan online, hampir 90% responden menganggap bahwa dampak kebocoran kata sandi, termasuk data pribadi, tidak akan berpengaruh terlalu parah.
Meskipun para pengajar sadar akan cara melindungi diri mereka dari ancaman dunia maya, pengetahuan ini mungkin tidak cukup untuk menjaga mereka tetap aman saat online, dan juga tidak cukup untuk membuat mereka percaya diri dalam mengajarkan ilmu keamanan siber kepada siswanya. Selain itu, mereka mungkin harus menyadari risiko dan dampak yang diakibatkan dari pelanggaran data dan bagaimana data yang tercuri dapat digunakan untuk hal ilegar atau terlarang baik secara online maupun offline.
Dari hasil survei ini, ada beberapa rekomendasi yang disampaikan:
- Memberikan pelatihan keamanan siber bagi para pengajar: Para pengajar harus dilengkapi dengan alat yang relevan untuk meningkatkan kapabilitas mereka dalam menyampaikan pelajaran penting ini kepada siswa. Pelatihan berkelanjutan dan pengembangan keterampilan sangat penting untuk mengatasi semakin canggihnya ancaman dunia maya.
- Inisiatif kesadaran oleh sekolah atau institusi: Sekolah harus melakukan inisiatif kesadaran untuk mempromosikan perilaku siber yang aman di kalangan siswa. Dengan menciptakan lingkungan yang mendorong pembelajaran dan praktik keamanan online, sekolah memenuhi tanggung jawab mereka dalam membimbing dan memberdayakan siswa menerapkan praktik online yang aman.
- Melibatkan orang tua secara efektif. Selain pengajar yang mengajarkan konsep keamanan siber, penting bagi orang tua untuk mendukung dan memperkuat ajaran ini di rumah. Upaya kolaboratif ini meningkatkan pemahaman, retensi, dan penerapan perilaku online yang aman dalam jangka panjang. (AC)














