ItWorks.id-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas jejaring kolaborasi riset internasional dengan menggandeng perguruan tinggi (PT) dan lembaga riset dunia. Kali ini, BRIN menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Bern serta the European Organization for Nuclear Research (CERN) di Swiss, dalam upaya memperkuat kapasitas riset nasional sekaligus mendorong pengembangan sumber daya manusia iptek Indonesia.
Kerja sama dengan Universitas Bern terjalin melalui riset bersama di bidang Earth Sciences, Geology, Geophysics, and Maritime, khususnya pada kajian Danau Poso terkait Paleoseismology, Paleoclimate, and Paleoenvironment. Kolaborasi ini merupakan bagian dari program Swiss Programme for International Research by Scientific Investigation Teams (SPIRIT) yang didanai oleh Swiss National Science Foundation (SNSF).
Dalam diskusi yang diselenggarakan di Bern Swiss, beberapa waktu lalu, yang dihadiri Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Ocky Karna Radjasa, bersama periset BRIN Sri Yudawati Cahyarini, dibahas peluang memperluas kerja sama pada topik kebencanaan geologi, hidrometeorologi, klimatologi, hingga riset multidisiplin terkait danau, lake sediment coring, serta daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia.
Tak hanya aspek teknis, kolaborasi juga akan menyentuh dimensi sosial dan budaya. Selain riset, BRIN juga berkomitmen memperkuat kapasitas SDM iptek melalui program degree by research (S2/S3 DbR), Postdoctoral Research, serta Joint Research Visit.
Deputi Bidang SDM Iptek BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menegaskan BRIN siap melakukan co-funding untuk mempercepat peningkatan kualitas talenta riset nasional. Tahun ini, BRIN telah menyiapkan pendanaan bagi lima mahasiswa S2/S3 DbR di ITB dan Unpad, serta satu peneliti postdoc yang akan bekerja selama dua tahun di BRIN.
“Seluruh mahasiswa DbR tersebut juga memiliki kesempatan melakukan riset di Universitas Bern selama enam bulan bersama periset BRIN. Ini bentuk nyata manajemen talenta yang terintegrasi dengan kolaborasi internasional,” jelas Edy dilansir melalui portal web BRIN (02/09/2025).
Di sela kunjungan ke Universitas Bern, delegasi BRIN juga melakukan pertemuan di CERN, Jenewa, untuk membahas penyelesaian International Collaboration Agreement dengan lembaga riset fisika terbesar dunia tersebut. Kolaborasi ini mencakup pemanfaatan fasilitas Large Hadron Collider (LHC) serta keterlibatan dalam eksperimen internasional A Large Ion Collider Experiment (ALICE).
Dengan perjanjian tersebut, peluang periset dan mahasiswa Indonesia untuk berkontribusi pada riset Big Science semakin terbuka lebar. Mereka dapat memanfaatkan berbagai skema mobilitas, mulai dari Joint Research Visit, Postdoctoral, hingga program DbR untuk S2 dan S3.
“Kontribusi Indonesia dalam aktivitas riset di CERN akan meningkatkan pengakuan terhadap kapasitas periset nasional sekaligus memperluas kiprah Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global,” ujar Edy.
Ditambahkan, kerja sama dengan Universitas Bern dan CERN menjadi bukti nyata komitmen BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional melalui sinergi internasional. Hal ini juga selaras dengan misi BRIN untuk mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta dan kontributor utama dalam riset global.














