ItWorks.id- Sebagai pelopor Internet Exchange global sejak 1995, DE-CIX telah menjadi tulang punggung lalu lintas data dunia, dengan lebih dari 55 pasar metropolitan di 27 negara. Kini, melalui kehadiran di Jakarta, perusahaan asal Jerman ini membawa infrastruktur interkoneksi digital berstandar global ke jantung Asia Tenggara.
“Ketika kami memutuskan untuk membuka DE-CIX Indonesia, kami tahu ini bukan sekadar langkah bisnis. Ini adalah komitmen terhadap masa depan konektivitas Indonesia,” ujar Thomas Dragono, Direktur Utama DE-CIX Indonesia, dalam presentasi di ajang Top Digital Awards 2025 yang digelar Majalah IT Works secara daring (28/10/2025).
Thomas menegaskan bahwa kolaborasi dengan IDMARCO, bagian dari Salim Group, bukan hanya bentuk investasi, melainkan juga strategi membangun fondasi digital yang tangguh. “Kami ingin semua penyedia—dari operator jaringan, penyedia konten, hingga perusahaan cloud—memiliki akses ke sistem interkoneksi yang netral, aman, dan efisien,” jelasnya.
Misi Meningkatkan Mutu Internet Nasional
Didirikan pada 2023 dan mulai beroperasi penuh sejak Agustus 2024, DE-CIX Indonesia membawa misi besar: meningkatkan kualitas dan stabilitas internet nasional. Thomas menilai, dengan 86% masyarakat Indonesia telah terkoneksi ke internet per 2025, kebutuhan terhadap sistem interkoneksi yang efisien dan stabil menjadi sangat mendesak.
“Internet hari ini tidak lagi sekadar soal kecepatan. Ia harus efisien, aman, dan mampu menampung pertumbuhan data eksponensial. Kami datang untuk menjawab tantangan itu,” ujar Thomas dengan nada yakin.
Sebagai pusat interkoneksi netral, DE-CIX Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai netralitas, keandalan, dan keamanan dalam setiap layanan. Seluruh infrastrukturnya dirancang untuk menjamin latency rendah, SLA (Service Level Agreement) hingga 99,5%, dan dukungan teknis 24 jam setiap hari. “Bagi kami, downtime bukan pilihan,” tegasnya.
Dengan dua pusat data utama di Entity Data Center dan Matrix Data Center JK3 (Cibis 1, Jakarta Selatan), DE-CIX Indonesia mengadopsi arsitektur N+1 redundancy, sistem yang memastikan kelangsungan layanan tanpa interupsi meski salah satu jalur mengalami gangguan.
Selain itu, Thomas menjelaskan bahwa model bisnis DE-CIX Indonesia direplikasi dari kesuksesan global di Frankfurt, New York, dan Dubai. “Kami tidak hanya membawa teknologi, tapi juga pengalaman tiga dekade dalam menjaga stabilitas konektivitas global,” katanya.
Kolaborasi dengan Matrix NOC Indonesia juga memungkinkan DE-CIX memperkuat jalur interkoneksi melalui sistem kabel laut Jakarta–Singapura. Ini menjadikan Indonesia bukan hanya pasar pengguna, tetapi juga simpul penting dalam jaringan digital Asia. “Seluruh ekosistem digital harus saling terhubung—ISP, operator telekomunikasi, penyedia cloud, hingga pemerintah. Itulah makna sebenarnya dari transformasi digital yang kami dorong,” ucap Thomas.
Inovasi Digital dan Transformasi Bisnis
Salah satu kunci sukses DE-CIX Indonesia adalah penerapan sistem otomasi menyeluruh. Dari sisi internal, perusahaan mengandalkan Salesforce CRM, Confluence, HubSpot, dan Docusign untuk efisiensi kerja lintas divisi. Sistem ticketing24 jam memastikan setiap keluhan pelanggan ditangani cepat oleh tim gabungan Jakarta–Frankfurt.“Kami belajar dari pengalaman global. Tidak ada transformasi digital tanpa otomasi. Semua proses harus berjalan cepat, transparan, dan aman,” kata Thomas.
Dalam ranah eksternal, DE-CIX menghadirkan inovasi yang disebut Apollon Platform—teknologi interkoneksi berkapasitas lebih dari 100G+ yang dikembangkan bersama Nokia sejak 2013. Platform ini menjadi tulang punggung bagi berbagai ISP dan perusahaan besar di dunia.“Apollon bukan hanya soal kecepatan, tapi tentang keandalan dan keamanan. Ia dilengkapi sistem mitigasi DDoS, blackholing, serta redundansi multi-layer. Teknologi ini kini kami terapkan juga di Indonesia,” ujar Thomas.
Inovasi lain yang tak kalah penting adalah Customer Portal, platform daring yang memungkinkan pelanggan memantau dan mengelola layanan DE-CIX secara mandiri. Melalui sistem ini, pelanggan bisa melihat performa jaringan secara real-time, menyesuaikan konfigurasi, hingga membuat laporan custom.“Transparansi adalah bentuk kepercayaan. Dengan portal ini, pelanggan tahu apa yang mereka dapatkan dan sejauh mana layanan kami bekerja,” tegas Thomas.
Membangun Ketahanan Digital Nasional
Dalam konteks keamanan, DE-CIX Indonesia menerapkan empat lapisan perlindungan: mulai dari keamanan fisikdengan autentikasi biometrik dan CCTV 24 jam, keamanan logis menggunakan Access Control List (ACL), keamanan jaringan berbasis Resource Public Key Infrastructure (RPKI), hingga infrastruktur redundansi N+1 di semua lapisan sistem.“Serangan siber bukan soal kemungkinan, tapi kepastian. Karena itu kami tidak hanya bereaksi, tapi mencegah,” ungkap Thomas.
Selain melindungi jaringan pelanggan, DE-CIX juga berkomitmen memperkuat ekosistem digital nasional. Kolaborasi dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menjadi langkah strategis dalam mendorong pertukaran data domestik yang efisien dan memperkuat kedaulatan digital Indonesia.
Thomas menilai, Indonesia berada di titik penting menuju lompatan besar dalam ekonomi digital. “Kita sedang menuju masa di mana data adalah energi baru. Maka infrastruktur digital yang kuat adalah fondasi kemandirian bangsa di era digital,” ujarnya.
Dari Frankfurt ke Jakarta: Konsistensi yang Mendunia
Sejak berdiri di Frankfurt pada 1996, DE-CIX telah dikenal sebagai operator Internet Exchange dengan reputasi global. Hingga kini, perusahaan ini telah meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Best Internet Exchange dalam Global Carrier Awards selama delapan tahun berturut-turut.“Prestasi global hanya berarti jika mampu memberi manfaat lokal,” kata Thomas. “Kehadiran kami di Indonesia adalah wujud komitmen membawa standar dunia ke tanah air.”
Penerapan sistem digital otomatis seperti Digital Interconnection Platform (DIP), integrasi data lintas sistem, serta pelatihan berkelanjutan melalui DE-CIX Academy juga menjadi bukti bahwa perusahaan ini tidak hanya menjual layanan, tapi membangun kapasitas digital sumber daya manusia di dalam negeri.
Thomas menutup presentasinya dengan refleksi sederhana: “Kami percaya masa depan internet Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa cepat koneksi, tapi seberapa siap kita berkolaborasi. Dan itulah semangat yang kami bawa bersama DE-CIX Indonesia,”pungkasnya. (Abi Abdul Jabbar)














