ItWorks.id- Pemanfaatan teknologi dan inovasi riset dinilai menjadi kunci untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah di Indonesia, dari sekadar limbah yang dibuang menjadi sumber energi terbarukan dan produk bernilai ekonomi tinggi.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar BRIN EnviroTalk #56 bertajuk “From Waste to Value: Emerging Technologies for Indonesia” yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kepala Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Ario Betha Juanssilfero, menegaskan bahwa kompleksitas persoalan sampah saat ini membutuhkan solusi berbasis teknologi serta kolaborasi lintas sektor. “Pengelolaan sampah yang semakin kompleks memerlukan dukungan inovasi teknologi serta kolaborasi multipihak,” ujar Ario dirilis Humas BRIN, melalui [ortal web, baru-baru ini.
Urgensi penerapan teknologi pengelolaan sampah semakin besar mengingat Indonesia menghasilkan sekitar 145 ribu ton sampah per hari atau sekitar 68 juta ton per tahun. Namun, hanya sekitar 25-30 persen yang terkelola dengan baik, sementara sisanya masih berakhir di tempat pembuangan akhir dan memicu berbagai persoalan lingkungan, termasuk emisi gas metana.
ECADIN Net-zero Research & Development Lead, Fean D. Sarian, menjelaskan bahwa sampah sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi energi, bahan bakar alternatif, bahan kimia, hingga berbagai produk bernilai tambah. Menurutnya, karakteristik sampah Indonesia yang didominasi limbah organik dengan kadar air tinggi sangat cocok diolah menggunakan teknologi biologis seperti biogas.
Fean menambahkan, sejumlah negara telah membuktikan keberhasilan penerapan teknologi waste to value. Kanada mampu mengubah sampah menjadi metanol dan etanol hingga 38 juta liter per tahun. Amerika Serikat mengolah limbah ban menjadi bahan bakar dan produk kimia, sementara Denmark mengembangkan teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Di Indonesia, inovasi serupa mulai berkembang. Di Bangka, sampah plastik diolah menjadi bahan bakar, sementara Kabupaten Cilacap memproduksi sekitar 60 ton Refuse Derived Fuel (RDF) per hari untuk kebutuhan industri semen. Banyumas bahkan berhasil mengekspor produk hasil pengolahan sampah, sedangkan Banjarnegara mengembangkan bank sampah dan bahan bakar alternatif bernama “petasol”.
Meski demikian, pengembangan teknologi pengelolaan sampah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama rendahnya tingkat pemilahan sampah di sumber dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung. Karena itu, diperlukan dukungan kebijakan, investasi, serta penguatan riset dan inovasi agar teknologi pengolahan sampah dapat diterapkan secara lebih luas.
Melalui kolaborasi BRIN dan ECADIN, webinar tersebut menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi waste to value tidak hanya mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui produksi bahan bakar berkelanjutan seperti SAF, metanol, dan etanol. Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian penting dalam mendorong ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.














