ItWorks.id- Pekerja Indonesia tercatat sebagai yang paling merasa puas atas gaji yang diterima dibandingkan dengan yang dirasakan oleh para pekerja di negara-negara Asia Pasifik lainnya. Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru bertajuk Salary Pulse yang dirilis Jobstreet by SEEK berdasarkan hasil survei terhadap 1.010 profesional dengan rentang usia 18-64 tahun yang dilakukan pada Februari 2026.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa 81 persen pekerja Indonesia menilai gaji yang mereka terima saat ini sudah sesuai dengan pekerjaan yang dijalankan. Angka ini menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik yang disurvei. Namun demikian, tingkat kepuasan terhadap nominal gaji masih berada di bawah persepsi kewajaran tersebut. Hanya 66 persen responden yang mengaku benar-benar puas dengan besaran gaji yang diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja tidak hanya menginginkan kompensasi yang sesuai standar pasar, tetapi juga ingin merasa dihargai atas kontribusi yang mereka berikan kepada perusahaan.
Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, mengatakan bahwa gaji merupakan faktor mendasar yang memengaruhi persepsi pekerja terhadap pekerjaan mereka. Lebih dari sekadar angka, kebahagiaan terhadap gaji membawa dampak langsung pada performa bisnis.
“Ketika pekerja di Indonesia merasa bahagia dengan bayaran mereka, mereka hampir dua kali lipat atau sekitar 1,7 kali lipat lebih termotivasi dan bersedia memberikan usaha ekstra di tempat kerja. Sebaliknya, karyawan yang tidak bahagia dengan gaji mereka memiliki kemungkinan 2,2 kali lipat lebih besar untuk memikirkan pindah pekerjaan dan mencari peluang baru,” ujarnya dalam paparan pers (23/06/2026), di Jakarta.
Ditambahkan, ketika para pemimpin mampu menciptakan kesempatan yang transparan untuk mendiskusikan gaji, mereka dapat mengelola ekspektasi dengan lebih baik dan membangun kepuasan finansial yang lebih kukuh di tempat kerja,” ujar Wisnu.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa kepuasan terhadap gaji memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas dan retensi karyawan. Pekerja yang merasa puas dengan bayaran mereka tercatat 1,7 kali lebih termotivasi dan bersedia memberikan usaha ekstra di tempat kerja.Sebaliknya, pekerja yang tidak puas terhadap gajinya memiliki kemungkinan 2,2 kali lebih besar untuk mempertimbangkan pindah kerja dan mencari peluang baru.
Dari sisi preferensi, pekerja Indonesia masih bersedia melakukan sejumlah kompromi demi peningkatan pendapatan. Sebanyak 29 persen responden bersedia tetap siaga (on call) di luar jam kerja, sementara 29 persen lainnya siap pindah ke kota atau negara lain apabila memperoleh kenaikan gaji sebesar 10 persen.
Batasan Tegas Terkait Nilai-Nilai Kerja
Namun, laporan ini juga menunjukkan bahwa pekerja Indonesia memiliki batasan yang tegas terkait nilai-nilai kerja. Hanya 3 persen responden yang bersedia bekerja di lingkungan perusahaan yang memiliki budaya kerja toksik demi kenaikan gaji 10 persen. Sementara itu, hanya 6 persen yang bersedia bekerja di perusahaan yang tidak sejalan dengan nilai dan prinsip pribadi mereka.
Temuan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya tingkat kebahagiaan kerja pekerja Indonesia dibandingkan negara-negara lain di Asia Pasifik.
Dalam aspek negosiasi gaji, pekerja Indonesia juga tercatat paling percaya diri di kawasan. Lebih dari separuh responden merasa nyaman mengajukan permintaan kenaikan gaji kepada perusahaan.
Sebanyak 64 persen pekerja mengaku pernah secara aktif meminta kenaikan gaji, dan langkah tersebut terbukti efektif. Dari kelompok yang mengajukan kenaikan, sebanyak 83 persen berhasil memperoleh tambahan penghasilan.
Tren Kenaikan Gaji Masih Kuat
Selain itu, tren kenaikan gaji masih cukup kuat di Indonesia. Sebanyak 62 persen pekerja melaporkan menerima kenaikan upah dalam satu tahun terakhir. Mayoritas kenaikan tersebut tergolong moderat, dengan 45 persen memperoleh kenaikan hingga 5 persen dan 39 persen menerima kenaikan antara 6 hingga 10 persen.
Menariknya, jenis kenaikan gaji berpengaruh besar terhadap tingkat kepuasan pekerja. Karyawan yang menerima kenaikan berdasarkan kinerja menunjukkan tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi, mencapai 89 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan pekerja yang hanya menerima penyesuaian gaji secara massal di tingkat perusahaan, yakni 67 persen.
Laporan ini juga menyoroti adanya perbedaan persepsi antar generasi. Kelompok Gen Z yang umumnya masih berada di level awal karier atau bekerja paruh waktu justru menunjukkan tingkat kepuasan gaji yang cukup tinggi, yakni 65 persen.
Sebaliknya, kelompok Gen X yang rata-rata memiliki pendapatan lebih tinggi menjadi generasi yang paling merasa kurang dihargai. Hanya 41 persen dari mereka yang merasa digaji secara memadai. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh persepsi ketidakadilan antara tanggung jawab yang lebih besar dengan pertumbuhan pendapatan yang dianggap tidak sebanding, ditambah kecenderungan mereka yang lebih jarang meminta kenaikan gaji secara proaktif.
Rekomendasi Jobstreet
Sebagai langkah antisipasi terhadap ekspektasi karyawan yang tidak terpenuhi, Jobstreet by SEEK merekomendasikan perusahaan untuk memperkuat komunikasi yang transparan terkait kompensasi dan jenjang karier.Ketika permintaan kenaikan gaji ditolak, sebanyak 27 persen pekerja memilih melakukan negosiasi ulang, sementara 28 persen lainnya berupaya mendapatkan kompensasi dalam bentuk tunjangan tambahan.
Menurut laporan tersebut, bonus berbasis kinerja, asuransi kesehatan, serta berbagai tunjangan kesejahteraan menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan daya tarik perusahaan sekaligus mempertahankan talenta.
“Kami sangat menganjurkan para pemimpin perusahaan untuk mengedepankan komunikasi yang transparan dan menetapkan target capaian yang jelas guna mencegah risiko karyawan menarik diri secara sepihak atau quiet withdrawal yang dapat mengganggu produktivitas bisnis. Gaji yang adil adalah fondasi, tetapi kenyamanan bekerja dibangun di atas apresiasi oleh perusahaan yang bijak terhadap pekerja potensial,” pungkasnya.














