ItWorks.id- PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatat pertumbuhan positif arus peti kemas di Terminal Petikemas Panjang hingga Mei 2026. Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan logistik di Provinsi Lampung, perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan guna mengimbangi tren trafik peti kemas yang terus meningkat belakangan ini.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, throughput peti kemas di Terminal Petikemas Panjang mencapai 50.287 TEUs, naik 7,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 46.824 TEUs. Capaian tersebut menempatkan Area Panjang sebagai wilayah dengan pertumbuhan throughput tertinggi kedua di lingkungan IPC TPK hingga Mei 2026.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas distribusi barang dan perdagangan yang dilayani melalui Terminal Petikemas Panjang. “Pertumbuhan throughput di Area Panjang yang berada di atas rata-rata pertumbuhan IPC TPK secara nasional menunjukkan peran strategis terminal dalam mendukung kelancaran arus logistik dan perdagangan di wilayah Lampung. Kami akan terus menjaga keandalan layanan untuk memastikan kebutuhan pengguna jasa dapat terpenuhi secara optimal,” ujarnya dalam rilis pers (25/06/2026).
Kenaikan arus peti kemas ditopang oleh meningkatnya ekspor sejumlah komoditas unggulan Lampung. Komoditas tapioca starch mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 267,37 persen, disusul frozen shrimp sebesar 28,90 persen, nanas 22,93 persen, dan refined glycerine 21,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi layanan, pertumbuhan terjadi baik pada segmen domestik maupun internasional. Hingga Mei 2026, throughput domestik mencapai 28.163 TEUs atau tumbuh 10,04 persen secara tahunan. Sementara throughput internasional tercatat 22.124 TEUs, meningkat 4,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara umum layanan peti kemas modern sangat bergantung pada Teknologi Informasi (TI) untuk mempercepat proses bongkar muat, mengurangi waktu inap (port stay), dan menekan biaya logistik. Digitalisasi operasional ini mencakup berbagai sistem cerdas yang mengintegrasikan seluruh proses kepelabuhanan dari hulu ke hilir.
Tren peningkatan aktivitas perdagangan di Lampung juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada April 2026, nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$504,59 juta atau melonjak 43,29 persen dibandingkan April 2025. Sementara nilai impor mencapai US$172,40 juta, naik 51,56 persen secara tahunan. Pertumbuhan perdagangan tersebut turut mendorong peningkatan kebutuhan layanan logistik dan pergerakan peti kemas melalui Terminal Petikemas Panjang.
Mengantisipasi tren tersebut, IPC TPK Panjang terus memperkuat layanan operasional melalui peningkatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan pelayaran hingga pengguna jasa. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran operasional dan stabilitas layanan di tengah meningkatnya arus barang.
Kinerja Area Panjang juga berkontribusi terhadap pertumbuhan IPC TPK secara nasional. Hingga Mei 2026, IPC TPK membukukan throughput sebesar 1,49 juta TEUs atau tumbuh 6,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan pertumbuhan trafik yang terus meningkat, IPC TPK Panjang menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan keandalan layanan dan kapasitas operasional sehingga mampu mendukung kelancaran arus perdagangan domestik maupun internasional serta memperkuat posisi Lampung sebagai salah satu gerbang logistik strategis di Indonesia.














