Jakarta, Itech – Xiaomi telah mengepakan sayap ke rancah Internasional seperti Rusia, Spanyol, India dan Indonesia, mengingat Xiaomi telah menjadi pemain utama di tanah kelahirannya Tiongkok. Xiaomi sukses menjadi sensasi baru di pasar dengan smartphone berkualitas dan harga terjangkau.
Xiaomi sendiri telah menjual Xiaomi Redmi dan Mi 2 di Eropa Barat pada November 2017.
Kini, Xiaomi ingin mencoba peruntungannya di pasar yang lebih besar yaitu pasar Amerika Serikat (AS). AS adalah salah satu pasar smartphone terbesar di dunia setelah Tiongkok menyusul populasi penduduk yang banyak dan masyarakat AS yang sudah melek gadget.
Namun, Xiaomi harus memikirkan seribu cara untuk bisa jualan di pasar AS karena pemerintah AS kurang begitu ramah dengan vendor smartphone asal Tiongkok.
Xiaomi sendiri telah menjual Mi TV, Mi Robot, Mi Sphere Camera 360, Mi Powerbank dan Mi Headphone di AS tetapi belum memiliki pengalaman dalam menjual smartphone. Xiaomi menjual segala produknya baik offline maupun online melalui Walmart, Amazon.com, dan Mi online store.
“Kami akan masuk ke pasar AS pada akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan,” kata Lei Jun (CEO Xiaomi) seperti dikutip laman Wall Street Journal.
Xiaomi harus mencari mitra operator selular yang tepat karena penjualan smartphone di AS wajib bundling dengan operator selular dan sebagian besar pengguna smartphone AS asal lebih menyukai paket bundling.
Kedua, Xiaomi juga harus memikirkan cara untuk bisa “bersahabat” dengan otoritas AS, mengingat FBI, CIA, dan NSA telah mewanti-wanti masyarakat untuk tidak menggunakan produk dan layanan yang dibuat pabrikan Tiongkok seperti Huawei dan ZTE.
Huawei berencana merilis flagship Mate 10 Pro di Amerika Serikat beberapa saat lalu. Huawei tadinya menggandeng operator AT&T, tetapi kesepakatan dibatalkan di detik-detik terakhir peluncuran.














