Pemilik perusahaan sendiri harus membangun budaya perusahaan yang dapat diikuti oleh seluruh orang dalam perusahaan. Kiat inilah yang diangkat pada acara “EFounders Firechat” di Jakarta, (26/6) yang diselenggarakan oleh Alpha JWC Ventures, STOQO dan AwanTunai.
Dengan bertemakan “Building a Lasting Startup Culture” acara ini membagi kiat-kiat bagaimana perusahaan baru (startup) membangun budaya yang terus bertahan lama dan menjadi ciri khas perusahaan.
Aswin Andrison dari STOQO dan Windy Natriavi dari AwanTunai menjadi pembicara dengan berbagi pengalaman mereka saat belajar di Alibaba Business School, langsung dari Jack Ma sendiri, dalam Program EFounders Fellowship.
Alibaba adalah contoh perusahaan yang mampu menjaga ciri khasnya meski telah memiliki lebih dari 60.000 karyawan.
Windy sebagai pembicara pertama, memberikan pengetahuan tentang budaya yang sudah ditetapkan oleh Jack Ma semenjak membangun Alibaba dari awal. Alibaba menekankan bahwa fokus kepada pelanggan menjadi faktor terpenting dan hal yang terus menerus ditekankan di seluruh aspek budaya perusahaan.
Puncaknya di tahun 2002 saat terjadi bencana SARS di China, penjualan Taobao, anak perusahaan Alibaba, meningkat dengan pesat. Hal tersebut tidak bisa tercapai tanpa budaya perusahaan yang berfokus kepada kepuasan pelanggan dan tanpa partisipasi seluruh orang di dalam perusahaan.
“Kita tidak bisa merencanakan suatu keadaan atau kejadian, namun kita bisa merencanakan bagaimana budaya dapat membantu setiap orang di perusahaan bersikap menghadapi suatu kejadian” ujar Windy.

Aswin sebagai pembicara kedua, menceritakan sosok Jack Ma. Menurutnya, Alibaba menjadi perusahaan besar bukanlah dicapai dengan mudah jika tidak memiliki prinsip dan sifat yang teguh. Sosok Jack Ma, menurutnya, merupakan sosok wirausaha yang memiliki 3 sifat kuat yang dapat menjadi acuan bagi para pengusaha lain. Sifat itu adalah visioner, mengayomi, dan mampu menempatkan diri sesuai keadaan.
Sifat visioner Jack Ma ditunjukkan dengan mentalitas: “Jika bukan kita yang menjadi solusi, setidaknya kita berkontribusi untuk membuat orang lain menciptakan solusi.”
Hal itu pula yang menjadi salah satu inspirasi bagi STOQO dalam membantu para pemilik bisnis kuliner, tegas Aswin.
“STOQO memiliki misi untuk memberdayakan usaha kecil yang tidak memiliki akses ke tingkat distribusi yang lebih luas. Hal ini selalu ditekankan dalam budaya perusahaan. STOQO sangat percaya bahwa memilih orang-orang yang tepat dan mau mengemban misi bersama tersebut merupakan hal yang penting,” jelas Aswin.

Kesimpulannya, Windy dan Aswin sepakat bahwa kultur bukanlah tentang saya, tapi tentang tim, hingga tentang seluruh orang dalam perusahaan. Sehingga penting untuk adanya proses pembelajaran secara terus menerus.
Pemilik bisnis harus membuat ukuran performa yang jelas sehingga mereka dapat membantu setiap orang di perusahaan mencapai target yang sudah ditetapkan.
Selain itu, mentalitas untuk selalu belajar dari kesalahan, memahami permasalahan utama tiap pelanggan, dan konsisten merupakan kunci untuk kultur perusahaan yang dapat diterapkan dan bertahan lama.














