Home Indeks Forti Semen Indonesia Terapkan Teknologi WHRPG untuk Efisiensi Energi

Semen Indonesia Terapkan Teknologi WHRPG untuk Efisiensi Energi

Semen Indonesia Gunakan Teknologi WHRPG untuk Efisiensi Energi

Industri semen ini tak luput dari persoalan pengelolaan lingkungan. PT Semen Indonesia Tbk. (SI) telah menuangkannya dalam visi dan misi serta kebijakan perusahaan. Visinya menjadi perusahaan semen internasional di Asia Tenggara dibarengi dengan misi ‘mewujudkan tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan.’

Menurut Senior Manager Biro Lingkungan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., Rahadi Mahardika, kebijakan perusahaan juga tercantum mengenai pengelolaan lingkungan guna antisipasi dampak pemanasan global, pengurangan pencemaran udara, pengurangan dan pemanfaatan limbah B3, konservasi air, dan efisiensi energi.

“Kami juga telah memiliki sistem manajemen terintegrasi elektronik melalui aplikasi ‘e-Doc Semen Indonesia’ yang syarat akan management continuous improvement dan manajemen inovasi ditunjang penerapan risk management & GCG,” kata Rahadi, (11/6).

SI yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur,  menerapkan prinsip triple bottom line 3P (profit, people, planet) dengan mengutamakan pertumbuhan usaha. Konsistensi dan komitemen dalam pengelolaan perusahaan berdasarkan prinsip GCG juga menjadi bagian SI dalam mengelola bisnisnya.

Baca: Usai Gabung Semen Indonesia, Holcim Umumkan Nama Baru Solusi Bangun Indonesia

Strategi tata kelola lingkungan dilakukan SI dengan Program Pemantauan Lingkungan yang telah menetapkan aktivitas secara rutin yaitu pemantauan emisi cerobong, kualitas udara, pemantauan lingkungan kerja, pemantauan kualitas air limbah domestik, dan kebisingan.

“Pengukuran dilakukan secara rutin (3 bulanan) oleh Laboratorium Lingkungan terakreditasi dan hasil pengukuran selalu dilaporkan ke KLHK, DLH Jatim, dan DLH Tuban. Target pemantauan lingkungan adalah 100% taat atau memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan,” ungkapnya.

Sementara itu, inovasi yang telah diimplementasikan dalam program penurunan emisi CO2 dari proses produksi semen adalah dengan memanfaatkan biomass sebagai bahan bakar alternatif.

Pemanfaatan biomass ini untuk mensubtitusi batubara (fossil fuel). Selain itu, optimalisasi peralatan produksi dilakukan dengan menutup kebocoran pada ducting (false air) sehingga proses pembakaran berjalan dengan optimal, dan pembangunan belt panjang untuk transportasi batubara dari pelabuhan menuju pabrik, meminimalisir pemakaian transportasi darat.

Baca: Anak perusahaan PT Semen Indonesia luncurkan platform Forca ERP

“Pembangunan fasilitas feeding transport biomass dimulai  tahun 2009 di Pabrik Tuban 1 dengan biaya investasi Rp20 miliar berkapasitas design sebesar 20 ton/jam. Tahun 2012 dibangun lagi di Pabrik Tuban 3 dengan biaya investasi sebesar Rp25 miliar dengan kapasitas design sebesar 25 ton/jam,” jelasnya. Hasilnya, tahun 2017, emisi CO2 yang dihasilkan di pabrik Tuban sebesar 0.642 ton CO2/ton semen, menurun 5.95% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam bidang efisiensi energi,  sejak 2017 SI pabrik Tuban telah berhasil mengimplementasikan teknologi WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation) dari gas panas buang sebagai pembangkit listrik.

Penerapan teknologi ini mampu memanfaatkan panas gas buang dari proses pembakaran sebagai energi pembangkit listrik. Implementasi WHRPG di Pabrik Tuban menggunakan skema JCM (Join Credit Mechanism) antara Indonesia dengan Jepang dan terbesar di Asia.

Pembangunan WHRPG di Pabrik Tuban untuk pembangkit listrik sebesar 28,6 MW saat ini telah beroperasi. Proyeki ini akan mengurangi penggunaan listrik PLN sebesar 152 juta KWh per tahun, menghemat biaya listrik hingga Rp120 miliar per tahun, dan menekan emisi CO2 sebesar 122 ribu ton per tahun.

“Dalam setahun biaya penggunaan listrik dapat mencapai Rp1-1,5 triliun, sehingga dengan WHRPG bisa menghemat 20-25% ketergantungan listrik PLN,” paparnya.

Terkait penurunan dan pemanfaatan limbah B3, perusahaan telah memanfaatkannya dari industri lain sebagai bahan baku alternatif melalui metode co-processing. Manfaat yang diperoleh adalah menghemat pemakaian bahan baku utama dan membantu mencegah pencemaran lebih lanjut dari limbah B3 yang dihasilkan oleh industri lain.

Limbah B3 yang digunakan sebagai bahan baku alternatif adalah fly ash, blas furnace slag (BFS), cooper slag, bottom ash, paper sludge, spent earth, filter aid, dan COCS (tanah terkontaminasi minyak).

“Pengelolaan limbah B3 internal dimanfaatkan menjadi bahan bakar dan bahan baku alternatif. Majun bekas, bag filter bekas, dan oli bekas, dan batu tahan api bekas (refraktori) digunakan sebagai bahan baku alternatif. Sedangkan limbah lampu TL bekas, aki bekas, dan limbah kimia laboratorium dibawa ke pihak ketiga yang berizin,” jelas Rahadi.

Selain program-program diatas, SI juga menggalakan efisiensi air dengan pemanfaatan air hujan sebagai air proses dan air sanitasi.

Sedangkan untuk implementasi program perlindungan keanekaragaman hayati dilakukan dengan peningkatan fauna (jenis burung) dan penghijauan kembali 60 ribu tanaman mangrove serta cemara laut di garis pantai Socorejo dengan panjang 1,7 km dan luas 6 ha.

Juga dilaksanakan program penguatan ekonomi masyarakat melalui program ternak mandiri di tahun 2016 diwujudkan melalui pelatihan yang disebut dengan ‘Desa Perkasa.’

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here