Jakarta, It Works- PT Xynexis International, penyedia jasa solusi keamanan siber, untuk pertama kalinya ikut ajang penjurian “Top Digital Awards” yang dihelat Majalah It Works bekerjasama dengan sejumlah asosiasi TI Telco, lembaga konsultan dan riset Independent. Presentasi dan wawancara penjurian dilakukan langsung oleh CEO PT Xynexis International, Eva Noor dihadapan tim dewan juri pada (11/10) di Gedung WTC I lantai 18, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, CEO PT Xynexis International, Eva Noor yang didampingi tiga stafnya, selain memaparkan sejarah dan visi misi perusahaan yang dirintisnya, juga memaparkan banyak hal tentang tren ancaman kejahatan cyber global, bahaya dan kerugian yang ditimbulkan, dan pentingnya membangun kesadaran cyber security awareness bagi masyarakat. Terlebih, di tengah gencarnya upaya transformasi digital yang dilakukan banyak kalangan. Baik pelaku usaha, industri dan institusi lainnya sebagai kesiapan dalam memasuki era industri keempat (Industri 4.0).
“Transformasi digital memang sekang ini gencar-gencarnya dilakukan banyak kalangan, termasuk lembaga dan institusi pemerintah, menyusul adanya gerakan smart city, e-government, termasuk tren digital life style di kalangan masyarakat yang makin berkembang. Tetapi banyak di antara mereka yang tidak menyadari betapa pentingnya aspek perlindungan keamanannya informasi dan cyber security. Ibarat bangun rumah, mereka hanya sibuk memikirkan bangunannya tanpa memikirkan celah bagi perlidungan sistem keamanannya. Mereka baru sadar setelah terkena rampok atau penjahat. Ini gambaran umum yang terjadi di tengah gencarnya transformasi digital yang ada saat ini. Padahal ancaman kejahatan cyber juga makin kompleks yang bisa menimbulkan kerugian besar bagi para korbannya. Karena itu, sejak beberapa tahun lalu, kami juga aktif melakukan edukasi dan sosialisasi ke berbagai kalangan mengenai pentingnya membangun mindset dan sistem cyber security ini. Termasuk memikirkan upaya penyiapan SDM-nya (cyber security talent),” papar Eva Noor.
Ditambahkan dalam upaya pecarian dan penyiapan digital talent, khususnya bidang cyber security, pada tahun 2017 pihaknya menginisiasi gerakan pencarian bakat cyber security dari kaum muda melalui program Born to Control dengan mendatangi kampus dan sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Infomatika (Kominfo), serta menggandeng Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM).
“Waktu itu kita melakukan roadshow ke sejumlah kota untuk melakukan penjaringan bakat cyber security ini. Tadinya kita tagetkan ada 1.000 peserta dalam tiap kota yang kemudian diseleksi 100 orang terbaik untuk diberi pembinaan character building serta training khusus cyber security dengan standar internasional. Pembinaan bertujuan untuk menciptakan tenaga IT security sekaligus membangun mindset yang baik di kalangan mereka pentingnya cyber security ini. Terus terang gap tersediaan dan kebutan tenaga cyber security di Indonesia ini masih sangat tinggi. Ke depan kebutuhannya pasti akan makin tinggi. Sayang tahun lalu program pencarian bakat tenaga cyber security ini redup, karena tidak ada support lagi dari Kominfo karena kesibukan Pemilu dan lainnya. Tapi kami dari Xynexsis tetap terus menanjutkannya untuk lebih digalakkan kembali,” ujarnya.
Ditegaskan, kekurangan bakat cyber security jika tidak diantisiapsi dengan baik, bisa menimbulkan masalah yang sangat nyata dalam dunia industri, bisnis, termasuk institusi dan lembaga keperintahan. “Bayangkan jika semua sendi ekonomi dan bisnis sudah serba berbasis digital, sementara aspek perlindungan keamanannya lemah, SDM-nya kurang. Ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal,” tandasnya.
Melalui Xynexis, upaya membangun sistem perlindungan keamanan informasi, keamanan cyber yang kuat. terus didorong melalui berbagai solusi yang kini dikembangkan. Mulai dari solusi layanan membangun sistem architecture keamanan cyber bagi perusahaan, lembaga, institusi dan lainnya, termasuk institusi kepemerintahan. Bahkan tak hanya membangun architecture-nya saja, namun juga menyedikana solusi untuk langsung implementasi hingga manage services keamanan cyber end to end solution.
“Hal yang membanggakan, kami merupakan perusahaan lokal yang tadinya berafiliasi dengan PMA (asing). Setelah banyak belajar dan bisa menyerap ilmu dari mereka, sekarang kami berdiri sendiri. Kami pure lokal dengan tenaga expert di bidangnya. Kami pun sudah banyak mendapat kepercayaan luas dari pelanggan, termasuk dari bank-bank besar papan atas, perusahaan tambang, fintech, transportasi, lembaga pemerintah dan lainnya,” ujar Eva Noor dihadapan empat anggota dewan juri. (AC)














