PT Pegadaian (Persero) sedang gencar melakukan transformasi dengan tujuan menjadi perusahaan finansial terbaik di Indonesia dan sebagai agen inklusi keuangan pilihan utama rakyat Indonesia. Transformasi yang dilakukan mulai dari proses bisnis, budaya kerja hingga produk layanan berupa aplikasi.
Strategi transformasi Pegadaian disebut G5 Star, pertama grow core, menumbuhkan bisnis gadai melalui diversifikasi fitur dan digitalisasi proses, kedua grab new mengembangkan bisnis baru yang potensial dengan dukungan big data analysis dan penguatan risk management. Selanjutnya yang ketiga groom talent, yaitu guna menjaring karyawan potensial serta meningkatkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Keempat gen Z technology menggunakan sistem teknologi yang ter-update guna menunjang proses bisnis dan data analysis, kemudian kelima adalah great culture merubah mindset dan budaya kerja karyawan yang lebih mendorong pada peningkatan kinerja perusahaan.
Kini, banyak produk dan layanan baru yang sudah disiapkan Pegadaian untuk masyarakat. Tujuannya, memudahkan masyarakat mengakses produk keuangan yang ada di Pegadaian. Salah satu yang sedang fokus dikembangkan adalah layanan berbasis digital. Hal ini untuk mengikuti perkembangan zaman yang saat ini berbasis teknologi. Cara digital ini juga memudahkan nasabah mendapatkan layanan produk. Selain itu juga lebih mudah dalam menyosialisasikan kepada masyarakat umum sehingga tertarik menjadi nasabah Pegadaian.
Salah satunya, aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS). “PDS ini memberikan kecepatan dan kenyamanan khususnya bagi generasi milenial,” kata Bhimo Wikan Hantoro, Kepala Divisi Innovation Pegadaian di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019.
Sekarang, 68% orang yang datang ke Pegadaian, usianya di bawah 45 tahun dan 72% perempuan. Ketika kami berikan layanan digital, yaitu PDS, tanpa perlu datang ke kantor fisik Pegadaian, ternyata pengaksesnya mayoritas laki-laki. Kesimpulannya, laki-laki malu datang ke Pegadaian kata Bhimo.
Lewat pengembangan layanan digital, Pegadaian juga tengah membidik kaum milenial untuk menjadi nasabah. Jumlah generasi milenial yang cukup besar ini menjadi potensi menambah jumlah nasabah. Untuk menggaet milenial, Pegadaian juga akan memanfaatkan media sosial milenial. “Kami kembangkan sosialisasi lewat Instagram, Facebook. Kita kerja sama dengan start up untuk menjangkau nasabah-nasabah baru. Pegadaian di medsos digencarkan karena memang kita ingin mengubah image. Milenial kebanyakan menggunakan medsos,” kata Bhimo.
Juga telah dibangun Cafe The Gade sebagai salah satu upaya agar orang yang datang ke Pegadaian bertambah. Asumsinya, selama ini anak-anak muda mungkin malu datang atau tidak tahu Pegadaian itu apa. Padahal, pegadaian itu adalah bisnis yang bukan hanya melayani orang tua. Dengan dibukanya cafe The Gade, semua jadi paham, “Oh ternyata kita bisa kerja di sini sambal kongkow-kongkow.”
“Pengunjung cafe The Gade ini rata-rata anak muda. Awalnya, anak-anak muda mungkin malu, tetapi begitu datang ke The Gade, dia bisa baca di cangkir minumnya “Investasi Emas.” Mereka akan tahu, ternyata ke Pegadaian tidak hanya untuk berutang, investasi emas juga bisa, produk-produk yang lain juga ada, remiten, segala macam. Inilah cara-cara yang telah kami lakukan untuk memperkenalkan produk Pegadaian yang tidak melulu produk kasih pinjaman kepada orang”
Ia menyebutkan saat ini mayoritas nasabah Pegadaian masih berusia di atas 40 tahun. Namun dalam target lima tahun ke depan, ia berharap jumlah generasi muda bisa bertambah. “Kita inginnya 50:50 antara milenial dengan old. Makanya kami sekarang serius menggarap milenial. Karena ke depan mereka sangat potensial,” ujarnya.
Bhimo memaparkan bahwa Pegadaian juga tengah gencar berkolaborasi dengan perusahaan berbagai bidang. Hal itu untuk semakin memperluas cakupan layanan Pegadaian. “Kita bekerja sama dengan fintech untuk menyalurkan pinjaman. Juga untuk memberikan kemudahan produk kami,” ujarnya. Pegadaian juga telah menjalin kolaborasi dengan e-commerce yaitu blibli.com, Grab, Google, tokopedia, dan Gojek.














