Pengembangan energi laut semakin digencarkan di Indonesia. Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menggandeng
Asosiasi Energi Laut Indonesia (Aseli), dan Japan International Cooperation Agency (JICA), menyatakan kesiapan menjalin kerja sama dalam bidang ini.
International Ocean Energy Workshop pun digelar di Surabaya, kemarin. Selain membahas perkembangan teknologi dan industri energi laut, workshop tersebut menyepakati kerjasama internasional antar industri, asosiasi, dan perguruan tinggi, baik dari Jepang maupun Indonesia. Untuk itu, hari ini dikukuhkan kerja sama antara Aseli dan OEAJ, ITS dan Saga University, dan Mitsubishi Heavy Industry dengan PT. Terafulk Mengantara.
“Indonesia dapat menjadi center of ocean energy di Asia Tenggara. Karena itu kerja sama antara Indonesia dan Jepang dalam bidang energi laut bukan hanya berarti bagi kebangkitan industri energi dan kelautan di Indonesia, melainkan juga di ASEAN,” ujar Prof Yasuyuki Ikegami dari Saga University.
Dilanjutkan kerja sama Indonesia dan Jepang di bidang energi laut bukan, hanya berarti bagi kebangkitan industri energi dan kelautan di Indonesia, melainkan juga di ASEAN.
Indonesia merupakan negara dengan wilayah laut atau Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) terbesar ketiga di dunia. Sedangkan Jepang memiliki posisi terbesar keenam. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi kerja sama kedua negara kepulauan tersebut, sambungnya.
Prof Ir Mukhtasor MEng PhD menekankan saat ini para pelaku energi laut Indonesia dan Jepang telah siap. “Kita berharap pemerintah segera merealisasikan kebijakan pengembangan proyek energi laut ini,”ujar Ketua Chairman of ASELI.
Selama ini, lanjutnya, belum banyak program yang serius memikirkan jauh ke depan. Untuk itu perlu adanya sosialisasi lebih lanjut kepada para pemangku kepentingan agar proyek ini lebih ditekuni. Selain pemerintah, ia juga mengungkapkan peran perguruan tinggi sangatlah penting dalam realisasi proyek ini. “Perguruan Tinggi harus menyiapkan SDM dan teknologi dalam hal ini,” tekannya.
Mukhtasor juga Guru Besar Teknik Kelautan ITS menyatakan, ITS harus visioner melihat tantangan ekonomi laut. “ITS harus siap menangkap peluang itu, dengan melakukan riset lebih lanjut ke arah sana misalnya, atau mempersiapkan multi disiplin ilmu pasca sarjana yang fokus mempelajari terkait Teknik Energi Laut,” katanya. (endy)














