Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melakukan terobosan membangun sistem digital terintegrasi (Integrated Operation Center/IOC) guna mengawasi kegiatan usaha hulu migas di seluruh Indonesia. Inovasi tersebut diyakini mampu mengefisienkan anggaran pemeliharaan fasilitas hulu migas.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto saat meluncurkan IOC di Gedung Wisma Mulia, Jakarta, Selasa (31/12/2019) mengatakan, “Sistem ini dapat melakukan monitoring sehari-hari secara realtime operasi hulu migas sehingga memudahkan SKK Migas mendapatkan akses data KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama). Selain itu pengawasan juga akan lebih efektif untuk memberikan masukan kepada KKKS.”
Dijelaskannya, melalui sistem digital terintegrasi ini, SKK Migas dapat lebih efektif dalam melakukan tindakan preventif apabila terjadi gangguan operasional hulu migas seperti terjadinya insiden lapangan YYA-1 Blok ONWJ ataupun insiden lainnya yang dapat menghambat target produksi migas nasional.
Melalui inovasi IOC ini diharapkan dapat mencapai target 1 juta barel pada 2030 mendatang. “Ini merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan produksi guna mendukung visi 1 juta barel pada 2030,” tegasnya.
Ditambahkannya, dengan IOC ini maka SKK Migas tidak lagi pasif menunggu laporan dari KKKS. Akan tetapi akan lebih aktif melakukan pengawasan kepada KKKS. Sejumlah layanan IOC di antaranya, layanan pengelola kinerja yang terhubung dengan KKKS, layanan pengeboran dan kegiatan operasi lifting. “Kegiatan operasi lifting dapat terpantau secara realtime dan secara online oleh SKK Migas,” katanya.
Ditegaskannya pula bahwa dengan kehadiran fasilitas IOC, KKKS tidak bisa santai menjalankan work plan dan budget (WP&B) karena kecepatan dan keakuratan data menjadi salah satu kunci bagi SKK Migas mengambil keputusan.
“Pengembangan teknologi digital informasi di SKK Migas ini akan terus dikembangkan, saat ini baru 11 KKKS yang sudah terkoneksi dengan IOC, harapan kami segera sudah dapat terkoneksi dengan 260 KKKS lainnya,” ujar Dwi.
Sementara itu, Sekretaris Dirjen Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial, mengatakan peresmian IOC ini sebuah bukti capaian kinerja terbaik SKK Migas dalam upaya merealisasikan produksi satu juta barel per hari. Dan tidak hanya itu saja, ini merupakan sebuah upaya untuk menjadikan industri migas ini semakin efisien dan efektif, dan serta handal.
Berdasarkan data SKK Migas per 31 Desember 2019 telah dilakukan pekerjaan workover sebanyak 821 sumur. Sedangkan untuk pekerjaan perawatan sumur minyak (well service) sebanyak 29.365 sumur. Untuk pekerjaan development wells drilling telah mencapai 320 drilling. Adapun untuk seismic 2D telah mencapai 12.169 kilometer.















