Gresik – Anggota Tim Percepatan Pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina (Persero), langsung bergerak cepat, paska terbitnya Surat Keputusan dari Menteri BUMN Erick Thohir. Senin (20/1), Kick Off Program Percepatan Pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina ( Persero), dilakukan di Workshop Heavy Machining Center milik PT Barata Indonesia (Persero), Gresik , Jawa Timur.
Hadir dalam acara tersebut, beberapa pejabat Kementerian, diantaranya Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, serta Kepala BPPT dan beberapa pejabat dari perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut.
Tak lupa turut hadir Direksi dari perusahaan BUMN anggota tim Percepatan Pembangunan Kilang Minyak tersebut seperti, PT Pertamina (Persero), PT Barata Indonesia (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Rekayasa Industri, serta PT Tuban Petrochemical Industries (anak perusahaan Pertamina).
Kick Off dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dari semua pihak yang terkait untuk pekerjaan Percepatan Pembangunan Kilang Minyak Pertamina. Penugasan ini juga merupakan wujud nyata dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan persentase TKDN dalam Proyek Strategis Nasional serta untuk menekan jumlah impor migas. Rencananya ada sekitar lima (5) Kilang Minyak serta dua (2) Kilang Gas, yang pengerjaannya diprediksi selesai pada 2027.

Direktur Utama Barata Indonesia F. Harry Sampurno mengatakan “Industri manufaktur memang harus didorong untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas dalam mendukung pembangunan strategis seperti kilang dan industri berat lainnya sehingga dapat menciptakan efek multiplier dalam pertumbuhan ekonomi nasional”.
Ditunjuknya Barata Indonesia sebagai anggota tim percepatan pembangunan kilang minyak, karena Barata dinilai memiliki pengalaman yang panjang di bidang industri manufaktur, termasuk industri migas. Barata beberapa kali juga terlibat dalam proyek di sektor migas, diantaranya LPG Spherical Tank Pulau Layang 2×1500 MT; TBBM Tegal Cap. 14600KL; RFCC Pertamina UP IV Cilacap; Hasanudin Avtur Storage Integrated System; Fuel Tank RU V Balikpapan; dan lain-lain. Produk – produk yang dihasilkan oleh perusahaan juga telah mampu diekspor ke beberapa negara di luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan nilai ekspor perusahaan yang naik tiap tahunnya. Tahun 2019 Barata Indonesia membukukan nilai ekspor sebesar 31 Juta USD. Nilai itu meningkat signifikan jika dibandingkan dengan nilai ekspor pada 2018 yang mencapai Rp. 16 Juta USD.
Barata Indonesia berharap partisipasi perusahaan dalam Proyek Strategis Nasional ini dapat mendorong daya saing industri dalam negeri sekaligus dukungan perseroan dalam rangka kemandirian energi nasional.
PT Barata Indonesia (Persero ) adalah perusahan BUMN yang resmi berdiri sejak tahun 1971. Barata Indonesia begerak di bidang Food, Energy, Water serta Industri Komponen dan Permesinan (dibaca: FEW plus).














