Digitalisasi SPBU, Transaksi BBM Bisa Melalui Perangkat e-payment LinkAja

Penulis adam

Pertamina merencanakan akan melakukan digitalisasi terhadap 5518 SPBU dari 7000 SPBU di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina Mas’ud Khamid saat meresmikan SPBU Coco 11.209.108 dan 11.209.109 di KM 65 Serdang Bedagai.

“Dari 5518 tersebut, sekitar 3600 SPBU sudah selesai. Sisanya kita harapkan akhir April tahun ini selesai. Khusus di Sumut ada sekitar 7 hingga 8 persen dari total SPBU yang didigitalkan atau sekitar 700 SPBU,” ungkapnya.

Mas’ud mengatakan SPBU yang baru diresmikan ini sebagai titik layanan penting bagi Pertamina. Saat kompetisi semakin keras maka kata Mas’ud servis menjadi penentu. Ia mengatakan belajar dari banyak negara maju, tidak ada satu operator oil and gas pun yang bisa mempertahankan market share nya lebih dari 50 persen.

“Sedangkan Pertamina hingga hari ini sudah 98 persen. Maka kalau nanti kompetisi dibuka, regulasi dibuka maka cara satu-satunya mempertahankan ini adalah memperbaik servis. Oleh karena itu Pertamina harus bertransformasi ke digital dan SPBU nya harus digital,” ungkapnya dalam siaran persnya, Rabu (19/2).

Ia menjelaskan digitalisasi SPBU adalah dengan memasang perangkat digital di SPBU. Bentuk dari perangkat digital ini bermacam-macam. Ada alat ukur yang kita pasang di tangki yang tujuannya agar bisa mengukur isi dari volume tangki.

“Lalu ada perangkat data processing yang melalui perangkat ini kita bisa melihat transaksi per nozzle dan stock. Ke depannya kita bisa tambah perangkat di mana kita bisa melihat plat nomor yang membeli produk tersebut,” katanya.

Dari plat nomor, bisa diketahui data pemilik kendaraan dengan data dari Korlantas. Digitalisasi ini juga dilengkapi perangkat e-payment yaitu Android EDC yang nanti dapat comply dengan seluruh metode pembayaran baik kartu kredit, debit, maupun LinkAja.

“Sehingga kedepannya Pertamina akan memiliki minimal tiga data yaitu data stock, data pengguna BBM khususnya yang bersubsidi, dan data profiling konsumen,” katanya.

Data profil konsumen ini manfaatnya banyak. Satu diantaranya untuk kepentingan agar Pertamina lebih tepat melayani customer yang tepat.

“Selain itu Pertamina bisa membuat up selling dan cross selling product. Nah Pertamina bisa dengan mudah juga membuat program royalti karena data profilnya sudah ada,” katanya.

Data ini juga penting, mana kala ada bencana dan masyarakat butuh bantuan, Pertamina bisa dengan cepat tahu siapa masyarakat yang butuh bantuan berdasarkan statistik pembelian BBM.

Ia juga mengimbau agar masyarakat bisa mengurangi penggunaan uang tunai dan menggunakan uang digital.

“Kita simpan di Bank, dari Bank lewat aplikasi LinkAja uang tersebut bisa kita gunakan. Nanti datang ke SPBU langsung download aplikasi My Pertamina. Sehingga kita bertransaksi dengan seluruh produk Pertamina baik LPG maupun BBM bisa memakai My Pertamina, banyak bonus dan keuntungannya,” lanjutnya.

Terkait dengan adanya larangan penggunaan ponsel di area SPBU ia mengatakan penggunaan jarak satu meter masih oke. Namun ke depannya Pertamina akan melakukan sistem bayar lebih dahulu.

“Jadi transaksi aman karena tidak harus di dekat nozzle. Ke depannya pengisian di SPBU itu harus bayar dulu baru isi. Kalau kita ke luar negeri, pelanggan sudah terbiasa letakkan mobil dulu, kemudian masuk kantor, bayar di dalam ruangan lalu keluar lagi bawa struk terus mengisi sendiri,” pungkasnya.

BACA JUGA

Leave a Comment