Jakarta, ItWorks- Indonesia telah mengalami penurunan sebagai pengguna perangkat mobile (smart phone) yang terpengaruh oleh stalkerware pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun lalu, sebanyak 2.720 pengguna di Indonesia terpengaruh oleh stalkerware, menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2018 yang mencapai 3.381 pengguna.
Laporan terbaru Kaspersky menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami penurunan signifikan dalam pengguna yang terpengaruh oleh stalkerware selama 2019 dibandingkan periode sama tahun selumnya. Statistik ini sekaligus menempatkan Indonesia di peringkat ke-17 secara global dalam hal pengguna yang terpengaruh oleh stalkerware. Stalkerware merupakan situasi dimana pengguna setidaknya menghadapi satu kali upaya instalasi spyware komersial yang sering digunakan sebagai alat untuk spionase domestik.
Program yang disebut sebagai Stalkerware ini memungkinkan untuk melakukan intrusi ke dalam kehidupan pribadi seseorang. Dengan menggunakan stalkerware, pelaku dapat mengakses pesan, foto, media sosial, geolokasi, dan rekaman audio atau kamera korbanny. Dalam beberapa kasus, ini dapat dilakukan secara waktu nyata atau real-time.
Selain menganggu ruang privasi pengguna, akibat lain yang dapat ditimbulkan dari kehadiran stalkerware salah satunya adalah ruang untuk terjadinya sebuah hubungan yang mengganggu. Ketika sebuah privasi seseorang dilanggar, pada saat itulah hak mereka pun dilanggar. Sebuah kasus nyata, di mana seorang suami melakukan pemantauan pada ponsel istrinya menggunakan stalkerware telah menyebabkan hubungan yang seharusnya dijalani dengan kepercayaan, berubah menjadi suatu hal yang tidak sehat. Ini juga membuat stalkerware dikenal luas oleh masyarakat dengan nama “spouseware”.
“Kami selalu menjadi penganjur perlindungan privasi untuk semua pengguna, terlepas dari jenis kelamin dan lokasi dimanapun mereka berada. Dari data terbaru kami, saya harapkan, dapat menjelaskan ancaman online saat ini yang menargetkan perempuan dan langkah-langkah hukum serta tindakan pencegahan lebih lanjut untuk melindungi mereka terhadap bahaya ini. Maret adalah bulan di mana kami berdedikasi untuk memberdayakan perempuan di seluruh dunia. Mari kita lakukan lebih banyak lagi upaya untuk melindungi para ibu, istri, anak perempuan, dan para perempuan independen di luar sana terhadap penguntit virtual,” papar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara Kaspersky, melalui rilis pers yang diterima ItWorks (9/3), di Jakarta.
Disebutkan, meskipun angka tersebut mungkin tampak lebih kecil dari jumlah deteksi jenis malware lainnya, stalkerware penting untuk diwaspadai karena sifatnya yang sudah melanggar privasi dari perspektif konsumen. Untuk mengetahui sejauh mana risiko yang dapat ditimbulkan dari malware ini, di tahun 2019 saja, produk Kaspersky telah mendeteksi 222.434 instalasi stalkerware pada pengguna perangkat Windows, dengan tiga negara yang paling terkena dampak termasuk Rusia (40.912), India (18.549), dan Jerman (15.217).
Dalam kaitan ini, Kaspersky menyarankan langkah-langkah berikut untuk menghindari atau agar terhindar dari serangan stalkerware:
• Jangan pernah ungkapkan kata sandi perangkat seluler (smart phone) Anda, meskipun itu dengan seseorang yang Anda percayai.
• Ubah semua pengaturan keamanan di perangkat seluler, bahkan saat Anda memutuskan koneksi. Orang-orang yang sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan Anda bahkan dapat berupaya untuk mendapatkan informasi pribadi dan memanipulasinya.
• Jangan mengklik tautan dalam email yang tidak dikenal terlebih jika Anda tidak yakin apakah itu legal atau tidak. Selalu periksa keaslian email dengan mengunjungi situs web resmi terlebih dahulu.
• Menggunakan solusi keamanan andal yang dapat memberikan notifikasi tentang keberadaan program spyware komersial yang bertujuan menyerang privasi Anda di ponsel, seperti Kaspersky Internet Security.














