Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebut pengelolaan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) dilakukan menggunakan metode termal atau panas. Ada empat teknologi yang bisa digunakan dalam pengelolaannya.
Pertama adalah insinerator, yakni membakar limbah medis di suhu 800 derajat celcius. Teknologi ini mampu mereduksi volume limbah mencapai 90 persen. Namun, kekurangannya yakni bisa menghasilkan dioksin atau senyawa yang berbahaya bagi kesehatan.
Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ajeng Arum Sari, menjelaskan insinerator ini memiliki dua ruang. Ruang pertama untuk suhu 800 derajat celcius dan ruang kedua memiliki suhu 1.000 derajat celcius.
“Prosesnya dapat diintegrasikan dengan pembangkit listrik, jadi catatan harus ada alat pengendalian pencemaran udara, supaya tidak terbentuk dioksin,” kata Ajeng dalam seminar berbasis web, Rabu, 22 April 2020.
Kekurangan lainnya dari penggunaan insinerator yaitu membutuhkan lahan yang luas. Seringkali, Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) kesulitan mendapatkan lahan. Belum lagi kemungkinan penolakan dari warga sekitar, karena khawatir emisinya bisa mempengaruhi kesehatan.
Teknologi selanjutnya adalah autoclave, teknologi yang biasa digunakan di laboratorium untuk sterilisasi ini juga bisa dipakai untuk mengelola limbah medis B3. Alat ini menggunakan sistem uap dengan tekanan. Selain efektif, teknologi ini juga tidak menghasilkan emisi.
“Mematikan mikroorganisme 120-121 derajat celcius selama 30 menit. Tapi ternyata ada jurnal 50 derajat celcius 90 menit sudah efektif menginaktivasi virus korona,” jelasnya.
Kedua teknologi tersebut yang diizinkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Surat Edaran No. SE.2/MLHK/PSLB3/P.LB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) tertanggal 24 Maret 2020.
Sementara, dua teknologi lainnya yakni dengan hydrothermal dan microwave. Hydrothermal secara sistem sama dengan autoclave yakni menggunakan tekanan uap untuk sterilisasi. Namun, perbedaannya terletak pada tekanan yang lebih tinggi.
“Autoclave satu sampai tiga atmosfer, kalau hydrotermal 18-25 (atmosfer), waktu lebih cepat, kurang 30 menit. Hanya saja kelemahannya investasinya mahal, karena membutuhkan tekanan tinggi, otomatis material lebih tebal,” terangnya.
Sedangkan, bila menggunakan microwave, sterilisasi dilakukan pada suhu 100 derajat celcius, dengan waktu 30 menit. “Keuntungan tidak ada emisi, aman juga dibuang tempat pembuangan selanjutnya, efektif,” kata Ajeng.














