Konvergensi memastikan keberhasilan virtualisasi ( Bag.2)
Oleh: Sunil Chavan, Senior Director, Solution Sales, Asia Pacific, Hitachi Data Systems
Ini tidak berarti virtualisasi tidak populer. Jauh dari itu. Menurut riset IT Priorities 2013 ZDNet (sumber), hampir setengah (49 persen) dari organisasi Australia dan Selandia Baru sudah melakukan virtualisasi lingkungan server mereka, dibandingkan dengan 43 persen di India dan 41 persen di Asia Tenggara.
Bahkan, selama dekade terakhir, telah terjadi pertumbuhan sepuluh kali lipat dalam penyebaran mesin virtual. Dalam sebuah studi IDC (sumber) baru-baru ini, separuh responden melaporkan bahwa 40 persen dari aplikasi mereka sudah divirtualisasi.
Penelitian HDS sendiri menunjukkan bahwa tingkat virtualisasi server akan meningkat dari saat ini – sekitar 50 persen – sampai lebih dari 80 persen dalam tiga tahun ke depan.
Tantangan nyata yang dihadapi perusahaan adalah bagaimana menerapkan virtualisasi dan mencapai manfaat yang dijanjikan dengan cepat, efisien dan berbiaya efektif. Bagi semakin banyak organisasi solusi yang paling menjanjikan adalah infrastruktur terkonvergensi, dan banyak pebisnis sekarang aktif melakukan evaluasi atau benar-benar menerapkan sebuah model konvergensi.
Sebuah infrastruktur terkonvergensi memiliki empat komponen dasar – server, storage, jaringan dan perangkat lunak – dan mengemas mereka bersama-sama sebagai satu susunan yang sudah diuji terlebih dahulu (pre-tested stack). Pendekatan ini mengurangi risiko implementasi dan mengurangi waktu penggelaran dari bulan ke hari.
Jenis infrastruktur terkonvergensi yang tepat, misalnya Unified Compute Platform HDS, juga dapat mengurangi biaya operasional penggelaran hingga 45 persen, belum lagi penghematan belanja modal yang berkaitan dengan mengkonsolidasikan server dan mengurangi jumlah port. Tapi, bagi banyak pelanggan nilai riilnya terletak pada penghematan yang berasal dari berkurangnya pengeluaran operasional.
Misalnya, perangkat lunak pengelolaan pusat data konvergensi memungkinkan organisasi untuk dengan cepat melakukan penyediaan/provisioning, monitoring dan mengelola layanan TI, yang diterjemahkan ke dalam penghematan staf TI. Kemampuan untuk dengan cepat melakukan penyediaan/provision juga menyebabkan sangat mengurangi waktu pengiriman aplikasi baru dan perencanaan kapasitas yang lebih fleksibel, yang dapat mengurangi biaya operasional dan mengurangi tim IT yang terlalu berlebih.
Organisasi TI semakin kerepotan menghadapi kenyataan bahwa mereka harus mengelola kedua lingkungannya – yaitu virtual dan logam nyata – bersama-sama. Infrastruktur terkonvergensi menawarkan cara untuk membuktikan-masa depan arsitektur data enterprise. Dan pendekatan yang tepat dapat memberikan keuntungan harga/kinerja hingga 30 persen dibandingkan dengan manajemen silo tradisional.














