Dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini, Ericsson melihat pentingnya bisnis untuk melakukan digitalisasi. Sebab, konektivitas memungkinkan perusahaan terus terlibat dengan pelanggan serta melakukan transaksi bisnis secara online.
Selain itu, kombinasi 5G dan digitalisasi juga menciptakan peluang baru bagi penyedia layanan untuk memperluas bisnis mereka di luar konektivitas ke berbagai sektor, mulai dari perawatan kesehatan, otomotif hingga manufaktur.
“Jaringan 5G menawarkan kecepatan lebih tinggi, latensi sangat rendah, dan jangkauan luas tanpa batas, yang memungkinkan pengguna memiliki pengalaman cepat dan mulus, yang belum pernah mereka miliki sebelumnya,” ujar Chief Technology Officer Ericsson for Asia-Pacific, Magnus Ewerbring dalam pertemuan virtual, Selasa, 23/6.
Pada tahap awal implementasi 5G, cara operator untuk mengatasi pertumbuhan data traffic yang sangat besar adalah dengan meningkatkan kapasitas jaringan, kecepatan, dan kualitas di wilayah metropolitan dengan peningkatan broadband seluler.
Seiring berjalannya waktu, inovasi 5G untuk bisnis yang baru dan menarik akan hadir bersama dengan penggunaan IoT yang akan semakin membuka peluang bagi operator.
“Kami pun percaya bahwa keamanan 5G akan memberikan kepercayaan yang memungkinkan sistem 5G dapat memenuhi kebutuhan sebagian besar use case,” ujar Magnus.
Ericsson memperkirakan nilai pendapatan tambahan dari layanan digitalisasi yang menggunakan teknologi 5G untuk penyedia layanan mencapai 41 miliar dolar AS pada 2030.
Saat ini, Ericsson memiliki lebih dari 93 perjanjian atau kontrak 5G komersial dengan penyedia layanan komunikasi berbeda, 40 di antaranya merupakan jaringan yang sudah menyediakan 5G secara langsung.














