Huawei Perkuat Komitmen Dukung Pengembangan Ekosistem Infrastruktur Digital

Penulis Churry

Jakarta, ItWorks- Huawei penyedia solusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) global, kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperkokoh dukungannya kepada Indonesia, khususnya dalam membantu melewati masa sulit akibat pandemi Covid-19, melalui pengembangan ekosistem infrastruktur digital. Dukungan ini diharapkan bisa mendorong upaya pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional di era new normal.

Penegasan tersebut disampaikan oleh CEO Huawei Indonesia, Jacky Chen, serta President of Global Government Affairs, Huawei, Martin Xu, pada seminar daring bertema “ICT for Post Covid-19: From Pandemic Resilience to Economic Recovery” yang adakan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), baru-baru ini.

Huawei Indonesia sendiri, dengan diperkuat oleh 88 persen karyawan lokal, selama ini telah secara aktif berkontribusi dalam mendukung pengembangan sektor TIK di Indonesia. Huawei telah mendukung para pelaku industri dan operator dalam membangun konektivitas broadband nasional berteknologi 2G, 3G, dan 4G untuk melayani layanan konektivitas digital hingga 80 persen dari penduduk Indonesia, serta lebih dari 500 UKM dan Startup di lebih dari 15 sektor berbeda. Antara lain meliputi bidang kesehatan, penelitian, dan pendidikan.

Selama pandemi Covid-19, tiga bidang utama tersebut menjadi bidang yang terlihat makin intensif dalam mendayagunakan solusi TIK. Dukungan pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan dalam mendiagnosis Covid-19 di beberapa rumah sakit dan pembelajaran jarak jauh di beberapa kampus di Indonesia menjadi sedikit contoh dari banyaknya penerapan solusi TIK yang dikontribusikan secara nyata oleh Huawei untuk Indonesia.

Menurut CEO Huawei Indonesia, Jacky Chen, teknologi dan konektivitas terbukti sangat vital perannya dalam mendukung transformasi digital selama PSBB berlangsung. Saat ini layanan digital di seluruh dunia, terutama di Indonesia, yang hadir melalui startup-startup unicorn, tetap memiliki potensi besar untuk terus tumbuh. Dalam hal ini, TIK secara nyata telah menjadi faktor fundamental dari lini-lini produksi dan secara signifikan meningkatkan efisiensi pada proses-prosesnya.

Ditambahkan, SDM dengan keterampilan di bidang digital akan benar-benar menjadi agen perubahan bagi negara manapun di dunia. Selama 20 tahun hadir dan berkiprah di Indonesia, Huawei yakin bahwa pembangunan ekosistem infrastruktur TIK Indonesia yang tangguh, seperti 5G, IoT, Fibre Network, Cloud, dan AI, akan mampu mendukung percepatan ekonomi digital Indonesia, menuju Indonesia yang cerdas dan semakin terhubung.

“Keberadaan selama dua dekade di Indonesia membuat Huawei menjadi bagian dari Indonesia dalam berkembang menjadi negara yang makin maju dan memiliki kompetensi tinggi di dunia internasional. Kami akan terus mengkontribusikan teknologi terdepan kami untuk Indonesia. Terutama di saat negara ini membutuhkan solusi untuk pulih, bangkit, dan tumbuh kembali setelah terdampak pandemi ini,” ujar Jacky Chen, melalui rilis persnya (26/06), di Jakarta.

Sementara itu, Martin Xu, President of Global Government Affairs Huawei, menuturkan, TIK memiliki kemampuan untuk membantu bisnis mengambil langkah-langkah yang lebih cepat dan lebih aman. Sebagai contoh, TIK mampu mewujudkan terselenggaranya transaksi nontunai tanpa kontak yang sangat ideal untuk diadops karena dapat membendung penyebaran virus.

Layanan digital juga dapat membantu kalangan UMKM untuk mampu memperluas jangkuan layanannya, menjadikan beragam layanan menjadi inklusif, dan bisa dimanfaatkan dalam meningkatkan kompetensi SDM yang harus dirumahkan melalui pelatihan-pelatihan. Investasi pada infrastruktur digital menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi dari tradisional ke digital yang kian menjadi tuntutan di era new normal.

Tantangan Pemerataan Broadband

Seminar daring antara lain juga diikuti Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia, Suharso Monoarfa; Dirjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Ismail; Ketua Umum MASTEL, Kristiono, regulator; pengamat industri; praktisi telekomunikasi; dan akademisi.

Dalam kesempatana itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia, Suharso Monoarfa memberikan apresiasi atas terselenggaranya diskusi dan seminar daring ini. Ia berharap gelaran-gelaran bertema serupa akan banyak terselenggara di masa mendatang.

Suharso mengatakan bahwa konektivitas broadband dan pengetahuan TIK yang merata hingga ke daerah-daerah, menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi, agar manfaat teknologi digital dapat dirasakan oleh semua kalangan dan semua sektor.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Dirjen SDPPI Kementerian Komunikasi
dan Informatika Republik Indonesia, Ismail. Pihaknya juga berterima kasih kepada Huawei Indonesia yang telah berpartisipasi dan turut memberikan masukan pada seminar ini.

“TIK dan pembangunan infrastruktur digital merupakan faktor utama yang harus didukung percepatannya, baik di masa pandemi maupun masa-masa setelahnya. Pandemi telah mendorong banyak perubahan termasuk perilaku masyarakat dan stakeholder yang terlibat langsung di industri TIK harus menangkap dan mengelola dengan baik tantangan dan sekaligus peluang ini. Pemerintah sendiri melihat adanya tantangan-tantangan yang harus dikelola dengan strategis oleh sektor TIK di masa sekarang maupun di era new normal yang menuntut percepatan tranformasi digital di semua sektor, termasuk UMKM,” paparnya.

Tantangan tersebut antara lain adalah penuntasan infrastruktur telekomunikasi yang mendorong percepatan pembangunan konektivitas hingga ke desa-desa, terutama yang belum terjangkau oleh layanan 4G. Tantangan yang kedua adalah menjaga kedaulatan data. Pemerintah berharap, data-data lokal yang berasal dari makin besarnya transaksi akan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi digital Indonesia.

Terkait erat dengan tantangan kedua, Ismail menyebut tantangan ketiga adalah bagaimana mendorong tumbuhnya platform dan aplikasi lokal yang mampu
memberdayakan beragam sektor, dari pertanian, pendidikan, hingga kesehatan.
Tantangan keempat adalah pembangunan talenta digital Indonesia.

“Dalam jangka pendek, pemerintah mendesain model kolaborasi baru untuk pembangunan akses komunikasi yang mampu menjangkau desa-desa yang belum tersentuh teknologi 4G, mendorong terselenggaranya gotong-royong menyediakan platform-platform yang dibutuhkan pada era new normal. Langkah berikutnya adalah menangkap peluang value chain ekonomi digital yang belum terisi,serta meningkatkan adopsi dan utilisasi digital, terutama dalam mendorong UMKM untuk Go-Digital dan membangun kultur baru berbasis teknologi digital di era new normal,” ujarnya.

Sementara itu, Kristiono, Ketua Umum MASTEL DALAM pernyataanya, Menyampaikan 3 (tiga) saran kepada pemerintah untuk:

  1. Menggunakan momentum pandemi Covid-19 untuk membuat program prioritas nasional “penguatan infrastruktur digital”.
  2. Mengharmonikan/mengorkestrasi-kan para penyedia infrastruktur digital dari layer devices, layer network, hingga layer platform & apps & OTT.
  3. Segera membentuk gugus tugas untuk mengkoordinasikan penguatan layer network, yang juga merupakan infrastruktur fisik pembentuk ruang siber Indonesia.

Diakui pandemi Covid-19 sendiri telah berimbas pada semua sektor industri, seperti manufaktur, pendidikan, pariwisata, konstruksi, transportasi, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Situasi pandemi juga telah mengharuskan sebagian besar kegiatan sehari-hari berpindah dari kegiatan tatap muka ke kegiatan daring.

“Mereka bergantung sepenuhnya pada ketersediaan akes internet dengan kapasitas tinggi. Operasional bisnis menjadi Go-Online, sehingga diperlukan infrastruktur TIK untuk mendukung terbangunnya konektivitas. TIK telah menunjukkan perannya sebagai salah satu motor pendorong yang penting bagi pemulihan ekonomi Indonesia, serta dalam meningkatkan mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.

Besarnya peran TIK ini sejalan prediksi dari riset Global Connectivity Index1, di mana dalam setiap US$1 yang diinvestasikan di bidang TIK, akan menghasilkan tambahan US$3 pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Keuntungan ini 6,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di luar TIK. Selain itu, ekonomi digital akan tumbuh 2,5 kali lebih cepat dari ekonomi konvensional, bahkan dalam skala global. (AC)

BACA JUGA

Leave a Comment