Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar Pelatihan Digitalisasi Kelompok Ekonomi Ekspekerja Migran Indonesia (eksPMI). Pelatihan itu ditargetkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mantan pekerja migran agar memiliki bekal mengembangkan usaha produktif dan inovatif.
“Pelatihan dan pendampingan ini dirancang untuk membekali sumberdaya manusia, terutama ekspekerja migran agar bisa memanfaatkan teknologi informasi agar siap memasuki industri 4.0.” jelas Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo, Basuki Yusuf Iskandar dalam Pembukaan Pelatihan Digitalisasi Kelompok Ekonomi Eks Pekerja Migran Indonesia yang berlangsung secara virtual dari Jakarta, Senin (07/09/2020).
Bekerja sama dengan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, pelatihan batch pertama melatih 90 orang mantan pekerja migran atau anak buruh migran dari Kabupaten Banyumas, Cilacap dan Wonosobo.
Pelatihan Digitalisasi Kelompok Ekonomi Ekspekerja Migran Indonesia merupakan salah satu pelatihan Thematic Academy dalam Program Program Digital Talent Scholarship (DTS) Tahun 2020.
Baca: Program DTS Jembatani Calon Tenaga Kerja dengan Kebutuhan Industri TIK
Pelatihan Digitalisasi Kelompok Ekonomi Eks Pekerja Migran Indonesia terdiri dari tiga kluster yaitu Digitalisasi Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Sistem Akuntansi, Manajemen Promosi dan Pemasaran Digital dan Pengembangan Produk Inovatif Kelompok Ekonomi Berbasis Digital.
Mitra Penyelenggara Pelatihan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto telah menyiapkan silabus pelatihan dan pendampingan bagi ekspekerja migran. “Pelatihan akan berlangsung selama lima hari dan pendampingan dilakukan selama 2 minggu,“ jelas Dekan Fakultas Teknik Unsoed Suroso yang hadir dalam pembukaan secara virtual.
Selama pendampingan, peserta juga dilatih dan diberikan peluang untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual merek produk atau paten sederhana serta pendaftaran online untuk sertifikasi produk dalam bentuk ijin usaha (NIP), Sertifikasi Halal, hingga pengenalan prosedur ekspor online.
“Pada level proses bisnis, setiap peserta yang akan mengikuti pelatihan dibekali dengan pengelolaan lembaga dan manajemen organisasi bisnis dengan baik. Dalam tahapan berikutnya diharapkan dapat mengeksplorasi potensi sumberdaya lokal agar bisa dikelola dan dipasarkan secara daring,” paparnya.
Menurut Dekan Suroso, pelatihan yang dirancang dan dilaksanakan secara praktis dengan komposisi lebih banyak mengembangkan kompetensi keterampilan.“Hasil akhir yang diinginkan akan dapat memberikan tambahan tambahan peningkatan penghasilan bagi keluarga kelompok usaha,” harapnya.














