Jakarta, ItWorks- Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo menandaskan, di tengah pandemi Covid-19, Kemenparekraf terus mendorong para pelaku industri kreatif dari kalangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk beradaptasi dan menciptakan inovasi dengan merambah pasar online (go online).
“Tantangan dari usaha pengembangan produk kreatif ini adalah karena ada pembatasan-pembatasan pergerakan yang mempengaruhi operasional pelaku UMKM, dari mulai pemasok hingga distribusi yang terhambat serta keleluasaan penjualan secara offline. Tapi kita percaya, dalam setiap tantangan, harus bisa mencari peluang dan jalan keluar. Caranya harus beradaptasi dan berinovasi dengan cepat. Salah satunya dengan go online karena ini dapat membantu banyak usaha termasuk produk kreatif bisa bertahan dan mempunyai pasar yang jauh lebih luas,” ujarnya saat mengikuti talkshow dalam acara “Launching Bangga Buatan Indonesia #PernakPernikUnik” yang digelar Kementerian Perdagangan, sebagaimana dilansir dalam rilis pers Humas Kemenparekraf,(17/09/2020) di Jakarta .
Dikatakan, untuk cepat beradaptasi, pelaku UMKM harus pandai dalam melihat potensi market saat ini. Seperti yang dilakukan Kemenparekraf dalam mendorong produk kreatif melalui Gerakan Masker Kain. “Kami melihat ada potensi yang bisa dikembangkan untuk UMKM sektor fashion, agar segera mengadopsi peluang ini untuk bisa memproduksi masker kain karena memang ada kebutuhan. Inovasi seperti ini yang perlu kita lakukan,” kata Angela.
Dalam upaya mengakselerasi UMKM go online, Kemenparekraf/Baparekraf juga telah meluncurkan program #BeliKreatifLokal untuk mendukung Gerakan Bangga Buatan Indonesia. Dimana programnya adalah membantu UMKM dari offline menjadi go online. Selain itu, Kemenparekraf juga memberikan bantuan berupa pelatihan untuk melakukan promosi secara online yang pastinya berbeda dari cara promosi secara offline.
Ditambahkan Angela, hal mendasar sebagai pelaku usaha yakni harus bisa memadukan kebutuhan antara supply dengan demand. Dalam hal ini, dukungan research development juga sangat penting untuk mendukung pelaku UMKM agar memiliki pemahaman mendasar mengenai target market dan pengembangan produk kreatif.
“Bagaimana pun harus bisa melihat potensi market dan ini harus continue, pergerakan market, tren market harus selalu dipantau, karena tren terus berubah dan kita harus adaptif, bahkan kalo perlu kita harus menjadi tren maker” ujarnya.
Hal senada disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Dikatakan saat ini pelaku UMKM perlu melakukan adaptasi dan inovasi terhadap produk kreatif untuk mengikuti perkembangan market yang baru, dengan cara memanfaatkan platform digital atau media sosial untuk strategi marketing pelaku UMKM. Karena, saat ini penjualan di platform digital tumbuh sebesar 26%. Apalagi dengan adanya penambahan merchant baru sampai dengan 3,1 juta lebih yang terhubung dengan ekosistem digital.
“Dengan adanya teknologi digital atau market online, para pelaku UMKM bisa menembus pasar global. Hal ini sangat potensial dan akan sangat membantu perputaran ekonomi di Indonesia,” kata Teten Masduki.
Sementara itu, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto mengatakan bentuk yang paling sederhana dari wujud kecintaan terhadap Indonesia adalah dengan membeli dan menggunakan produk-produk Indonesia, dalam hal ini buatan dalam negeri. Beranjak dari pemikiran tersebut, pemerintah Indonesia akan berupaya untuk mengajak masyarakat agar selalu bangga akan buatan Indonesia dengan membeli dan menggunakan produk Indonesia, khususnya produk kerajinan pernak-pernik unik asli Indonesia. (AC)














