ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Nutanix Keluarkan Hasil Riset Terbaru Seputar Hybrid Cloud

Fauzi
7 October 2020 | 12:00
rubrik: Research
Share on FacebookShare on Twitter

Perusahaan cloud computing untuk enterprise, Nutanix, mengumumkan temuan terbaru dalam laporan yang menganalisis tantangan dan peluang utama terkait implementasi hybrid cloud. Ketika sebagian besar perusahaan menilai hybrid cloud merupakan model TI yang ideal, laporan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang masih berjuang untuk menggunakannya. Sebanyak 70% perusahaan meyakini transformasi mereka membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa hampir semua responden (95%) merasa perusahaan mereka akan memperoleh keuntungan dari implementasi hybrid cloud yang menyediakan konstruksi dan operasional TI yang konsisten di lingkungan multi-cloud, sehingga menghilangkan banyak tantangan yang mereka hadapi saat ini mulai dari operasional yang terkotak-kotak hingga kurangnya staff.

Di saat perusahaan-perusahaan di manapun berjuang untuk menghadapi realitas baru, satu hal menjadi lebih jelas: fleksibilitas sangat penting bagi kesuksesan bisnis. Baik kebutuhan perusahaan untuk memanfaatkan public cloud untuk menjalankan remote desktop secara cepat, mengonsolidasikan situs pemulihan bencana, memindahkan beban kerja ke private cloud karena kekhawatiran mengenai kapasitas public cloud, maupun meraih keuntungan dari lonjakan kapasitas on-demand, situasi global saat ini menekankan pentingnya infrastruktur TI yang bisa beradaptasi dengan berbagai perusahaan.

Namun fleksibilitas tak lagi berarti menggunakan public dan private cloud, tapi hal tersebut kini berarti memiliki pengalaman yang konsisten, melalui praktik tooling dan operasional di berbagai cloud, hingga menyederhanakan kemampuan memindahkan aplikasi dan data ke lingkungan cloud yang paling sesuai.

Neville Vincent, Wakil Presiden, South Asia Pacific, Nutanix, mengatakan ketika ASEAN menghadapi munculnya realitas bisnis baru, organisasi modern mencari fleksibilitas tinggi dan desentralisasi berbagai sumber daya agar seluruh sumber daya tersebut tersedia ketika diperlukan.

“Penggunaan multi-cloud (baik public, private, maupun di edge) memungkinkan perusahaan-perusahaan menempatkan infrastruktur TI mereka di tempat yang paling membutuhkan. Riset ini menunjukkan bahwa fleksibilitas akan terus menjadi pertimbangan penting, dan hanya bisa tercapai melalui konstruksi, operasional, dan tool yang konsisten. Hybrid cloud adalah pilihan yang tepat untuk perjalanan ini. Tak hanya memenuhi kebutuhan bisnis dengan cepat, hybrid cloud juga memungkinkan dan mendorong perusahaan dalam mempersiapkan masa depan multi-cloud,” lanjut Neville.

BACA JUGA:  Studi: Ancaman Siber Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Laporan yang inisiatifnya dari Nutanix dan dibuat oleh firma riset pasar independen Vansoun Bourne ini menganalisa berbagai tantangan bisnis utama yang saat ini dihadapi dalam mengelola infrastruktur di public dan private cloud. Firma tersebut melakukan survei terhadap 650 pengambil keputusan di bidang TI yang berasal dari sejumlah industri, dengan berbagai skala perusahaan dan lokasinya yang tersebar di kawasan Amerika; Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA); serta Asia Pasifik dan Jepang (APJ).

Adapun temuan-temuan lainnya meliputi:

Public Cloud Saja Bukan Selalu Menjadi Jawaban
Public cloud merevolusi industri TI, dengan manawarkan kelincahan dan dan efisiensi operasional. Dan meski ini ideal untuk beberapa aplikasi dan beban kerja, tidak semua perusahaan bisa menggunakan infrastruktur hybrid. Menurut riset ini, mayoritas responden khawatir jika harus menjalankan aplikasi-aplikasi bisnis penting mereka di public cloud, terutama karena keandalan (75%), portabilitas (73%), dan biaya (72%). Selain itu, beberapa responden sama sekali tidak bisa memindahkan aplikasi bisnis penting mereka rumit atau kendala biaya. Misalnya, perlunya mengubah arsitektur (re-architect) atau mengubah platform (re-platform) aplikasi (71%) serta kerumitan migrasi (71%) adalah kekhawatiran utama yang menghambat responden untuk memindahkan aplikasi public cloud.

Hybrid Memperluas Kesenjangan Tenaga Kerja TI
Meskipun banyak perusahaan berjuang mencari tenaga kerja TI yang memenuhi kualifikasi, masalahnya timbul ketika mencari tenaga profesional yang bisa mengelola infrastruktur cloud, baik public maupun private karena kedua lingkungan ini membutuhkan keahlian yang berbeda. Sebagian besar perusahaan (88%) menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa staff TI mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mengelola infrastruktur TI hybrid, dan lebih dari setengahnya (53%) menganggap hal ini sebagai kekhawatiran utama.

BACA JUGA:  Cari Tahu Rahasia Sukses: Daryush Ashjari Jabat CTO Nutanix APJ!

Kesenjangan Tenaga Kerja Menciptakan Pengkotak-kotakan (Silo) dan Inefisiensi
Dengan kebutuhan keterampilan yang berbeda untuk mengelola infrastruktur public dan private, perusahaan seringkali harus mengandalkan tim-tim yang berbeda dan menciptakan pengkotak-kotakan (silo mentality). Hal ini dialami oleh hampir semua responden (95%). Yang terpenting, hal ini kadang berdampak pada pendapatan bisnis perusahaan, hal yang selalu menjadi kekhawatiran ketika perusahaan fokus pada optimalisasi sumber daya. Hampir setengah responden menyatakan kekhawatiran mereka adalah sumber daya yang terpecah-pecah (49%), peningkatan biaya (45%), dan/atau sumber daya yang tidak temanfaatkan (43%).

Portabilitas Bersifat Wajib dan Bukan Hanya Untuk Aplikasi
Bagi sebagian besar perusahaan (88%), lisensi software adalah aspek penting dalam infrastruktur TI, karena banyak yang memiliki kesulitan terkait lisensi (58%) atau terkunci pada satu vendor (58%) ketika hendak pindah ke public cloud. Selain itu, hampir dua pertiga (65%) responden akan mempertimbangkan ulang langganan lisensi infrastruktur TI mereka.

Perusahaan-perusahaan mencari fleksibilitas. Ini bukan lagi pilihan antara private atau public atau antara beberapa penyedia public cloud. Organisasi/perusahaan harus mencari solusi yang menyediakan pengalaman yang konsisten, melalui praktik tooling dan operasional yang merata di multi-cloud untuk mengatasi tantangan dan inefisiensi operasional yang dihadapi saat ini.

Lingkungan hybrid cloud yang optimal memungkinkan konsistensi yang dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan sepenuhnya dari fleksibilitas penggunaan multi-cloud, baik private maupun public. (Fauzi)

Tags: Nutanix
Previous Post

Bulan Inklusi Keuangan, LinkAja Terus Berkomitmen Wujudkan Kemandirian Ekonomi Indonesia

Next Post

Vivo V20 dan V20 SE Sudah Tersedia di Pasar Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: Bangun Ekosistem Digital Terintegrasi, MTF Pangkas Proses Input Kredit Jadi 18 Menit

TOP Digital Awards 2026: Bangun Ekosistem Digital Terintegrasi, MTF Pangkas Proses Input Kredit Jadi 18 Menit

Busthomi
6 November 2026 | 15:56

TOP Digital Awards 2026: Dari Pengajuan hingga Bayar Angsuran, FIFGROUP Hadirkan Kemudahan Lewat FIFGO

TOP Digital Awards 2026: Dari Pengajuan hingga Bayar Angsuran, FIFGROUP Hadirkan Kemudahan Lewat FIFGO

Mi’roji
6 November 2026 | 13:59

TOP Digital Awards 2026: Diskominfo Merauke Kembangkan Si-POTEM, Perkuat Layanan Pengaduan Publik Berbasis Digital

TOP Digital Awards 2026: Diskominfo Merauke Kembangkan Si-POTEM, Perkuat Layanan Pengaduan Publik Berbasis Digital

Agus Haryanto
6 November 2026 | 11:21

TOP Digital Awards 2026: Andalkan JOSS, PA Sidoarjo Optimalkan Layanan untuk Pencari Keadilan

TOP Digital Awards 2026: Andalkan JOSS, PA Sidoarjo Optimalkan Layanan untuk Pencari Keadilan

Albarsah
5 November 2026 | 16:16

TOP Digital Awards 2026: PELNI Tancap Gas Transformasi Digital, AI Jadi Kunci Efisiensi dan Layanan

TOP Digital Awards 2026: PELNI Tancap Gas Transformasi Digital, AI Jadi Kunci Efisiensi dan Layanan

Mi’roji
4 November 2026 | 15:41

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Ekosistem Bisnis, Linknet Berkolaborasi dengan Mitra Bukalapak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP DIGITAL: Transformasi Digital Dorong BPR Penataran Blitar Bangkit Dari Kondisi Sulit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital Awards 2026: Diskominfo Merauke Kembangkan Si-POTEM, Perkuat Layanan Pengaduan Publik Berbasis Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TOP Digital: Bethsaida Healthcare Andalkan AI, Pangkas Waktu Tunggu Pasien Hingga 50%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Lenovo Tunjuk Presiden Motorola Mobility Baru

Lenovo Tunjuk Presiden Motorola Mobility Baru

Fauzi
5 November 2026 | 14:38

ItWorks.id - Lenovo mengumumkan penunjukan Amar Babu sebagai Mobile Business Group General Manager and Motorola Global President, efektif mulai 1...

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto