Jakarta, Itech- Pilot dalam menerbangkan pesawat di Indonesia maupun di negara berkembang lainnya pastinya membutuhkan informasi yang lengkap serta akurat mengenai cuaca penerbangan, namun dugaan kuat informasi cuaca dalam bentuk real time belum sesuai dengan harapan sang pilot.
Padahal informasi cuaca dalam dunia penerbangan memiliki peranan yang besar. Informasi cuaca memiliki berbagai peran. Salah satunya untuk peningkatan efesiensi dan efektivitas penerbangan. Selain itu, informasi cuaca menjadi bahan pertimbangan bagi pilot dalam menentukan potensi-potensi yang membahayakan, baik saat take-off, cruising dan landing.
Dalam Seminar Nasional ‘Meteorologi untuk Penerbangan’ bertema ‘Kajian Akademis Informasi Cuaca untuk Keselamatan Penerbangan’, di kampus Akademi Meteorologi dan Geofisika, Kamis (15/1). Kajian tersebut bertujuan untuk melihat hubungan terjadinya kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501 dengan aktivitas badai yang terjadi di selat Karimata. Kondisi cuaca yang memungkinkan saat terjadinya kecelakaan tersebut adalah icing . Peristiwa icing memungkinkan mesin pesawat mengalami kerusakan karena pendinginan. Hasil penelitian ini masih bersifat sementara dan disempurnakan berdasarkan data data terbaru. Kepala Pusat Meteorologi BMKG Syamsul Huda mengatakan informasi meteorologi penerbangan berisi informasi cuaca di sepanjang jalur penerbangan termasuk di bandara asal maupun tujuan.
“Tujuan seminar tersebut dengan menggundang para pakar bertujuan guna mempelajari cuaca saat kejadian kecelakaan Air Asia, sehingga informasi bertambah baik sehingga lebih aman pilot dalam menerbangkan pesawat. Dalam hasil pengamatan BMKG, kondisi cuaca saat itu dalam kondisi buruk, namun semua itu terpulang dari hasil penelitian KNKT seperti apa,” kata Deputi Klimatologi BMKG, Widada Sulistya.
Dugaan sementara,cuaca buruk yang dimaksud, adalah adanya awan putih pekat yang diduga awan penghasil badai atau awan Comulonimbus (Cb).Hasil kajian tersebut metologi yang digunakan menyebutkan bahwa pembentukan awan Cb berasal dari teori peredaran udara umum dalam arah ekuator-kutub. Pertemuan aliran udara atau ITCZ belahan bumi selatan dan belahan bumi utara selain menyebabkan udara naik, juga merupakan tempat tekanan udara yang rendah karena mengikuti gerak garis edar matahari.
Sementara itu, Paulus Agus Winarso, dosen Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Perlu kajian dan telaahan ilmiah terkait kondisi udara penyebab awan Columnimbus atau awan badai terbentuk. Awan Cb ini dipastikan dapat mengganggu dan menghambat transportasi udara dan laut.
“Hal ini perlu diketengahkan, terlebih mulai dari pencarian hingga evakuasi korban dan pengangkatkan bangkai pesawat terkendala cuaca buruk yang berlanjut dengan adukan di perairan yang memperpendek jarak penglihatan di dasar laut,” kata Paulus yang juga anggota Komite Nasional Keselamatan Terbang (KNKT) ini. (*)














