
Reporter: Abi Abdul Jabar
Editor: Teguh Imam S.
PT Pegadaian (Persero) telah mengidentifikasi sejumlah tantangan baru yang akan dihadapi bisnis pegadaian di masa depan seiring perkembangan zaman. Tantangan itu antara lain, adanya regulasi berupa Peraturan OJK No. 31 Tahun 2016 tentang Usaha Pergadaian, perkembangan teknologi fintech & e-commerce, keharusan mengadopsi teknologi digital, adanya perubahan perilaku masyarakat, serta berkembangnya potensi bisnis produk non gadai.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Pegadaian telah menyusun roadmap atau peta jalan yang dibagi dalam 3 tahap, yaitu pertama, 2018-2019 menjadi perusahaan fully financial services berbasis digital; 2019-2022 membangun skala bisnis pembayaran digital dan akses ke pasar modal; 2020-2023 menjadi perusahaan finansial terbaik dan agen inklusi keuangan.
Dengan mengusung semangat “Digital is Me”, Pegadaian sebagai salah satu BUMN tertua di Indonesia, yang tahun ini berusia 119 tahun, menegaskan bahwa dirinya telah bertransformasi menjadi sebuah organisasi modern yang ditunjang dengan teknologi digital.
“Transformasi yang kami lakukan tentu sejalan dengan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat yang memerlukan layanan yang efisien, cepat dan akurat, kapanpun dan dimanapun berada,” demikian disampaikan Teguh Wahyono, Direktur Teknologi Informasi dan Digital, PT Pegadaian dalam sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2020 yang diselenggarakan secara online oleh Majalah It Works di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2020.
Hadirnya era disrupsi teknologi, menurut Teguh, mendorong Pegadaian untuk memanfaatkan teknologi digital dalam meningkatkan perannya di ekosistem keuangan digital. Saat ini, Pegadaian merupakan perusahaan top of mind di sektor gadai dengan menguasai 90 persen pangsa pasar pergadaian di Tanah Air, dan memiliki 4.115 outlet di Indonesia.
Solusi Bisnis Unggulan
Saat ini, proses Digitalisme yang dijalan Pegadaian telah menggunakan Konsep Lean yaitu meningkatkan kecepatan proses dan kualitas produk. Dengan menghilangkan proses dan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah atau pemborosan dan menghilangkannya.
Teguh memberikan contoh di internal yaitu Lean Operations, Inventory Management System Pegadaian telah menerapkan penggunaan Radio Frequency Identification (RFID) Method yang sedang diuji coba berupa Pilot Implementation di Pegadaian Cabang Pungkur (Kantor Wilayah Bandung) dan Cabang Kramat Raya (Kantor Wilayah Jakarta).
Prosesnya mulai dari transaksi pencairan kredit di outlet pegadaian. Dimana semua data yang dihasilkan dalam proses ini akan tersimpan dalam bentuk digital di Master Data Inventory. Penggunaan RFID Method berlanjut saat penjaga gudang menyimpan barang jaminan dalam kluis atau brankas; juga saat dilakukan kegiatan stock opname di kluis. Jika ditemukan ada data yang tidak konsisten, akan ada alert yang dikirim ke sistem. Kemudian, sistem akan me-monitor data inventory di kluis dan mencocokan dengan Master Data di Inventory.
“Divisi Treasuri juga sedang melakukan Pilot Implementation Lean Operations dengan menggunakan RPA (Robotic Process Automation). Dengan target pencapaian berupa penurunan Waktu Proses dan Human Error serta peningkatan Akuntabilitas dan Transparansi,” ungkap Teguh.
“Di sini RPA digunakan dalam kasus-kasus umum, seperti kegiatan Validasi/Quality Control, Pengkinian Data, Look Up dan Recon Data, Audit/Pengecekan Data,” tambahnya.
Kemudian, Lean Processing dengan menerapkan kebijakan e-KYC (Know Your Customer – Kenali Pelanggan Anda). Caranya dengan menggunakan teknologi identifikasi pengenalan wajah (face recognition) yang akan mengidentifikasi foto dari nasabah Pegadaian yang diambil cukup pakai smartphone.
Terakhir, Lean Administration berupa e-Office dan Digital Signature Pegadaian. Ini adalah nota dinas elektronik untuk internal dan eksternal Pegadaian.

Membangun Ekosistem Digital Pegadaian
Pegadaian terus membangun ekosistem digital melalui kerja sama dengan berbagai pihak melalui sejumlah program, antara lain, Channeling Kreasi & UMI: Bank BRI, agen BRILink, Mitra Buka Lapak, dan LinkAja; Channeling Amanah: JD.id, OLX, dan Blibli; Tabungan Emas & GTE: Tokopedia, Mitra Buka Lapak, PNM, Bank BRI; Digital Lending: Akseleran, Investree, Koin Works; Perluasan Channel collection/cash-in/out: GoPay, Ovo, Tokopedia, Dana; Partnership: Grab, Google, Gojek.
Produk Inovasi Digital
Pegadaian memiliki 14 jenis produk inovatif mulai dari Gadai Tabungan Emas hingga Marketplace Expansion – Arrum Haji.
Saat pandemi saat ini, dengan Pegadaian Digital Services (PDS) diharapkan nasabah tetap dapat melakukan berbagai transaksi dengan mudah, simpel, efisien, dan fleksibel, karena dapat diakses di mana saja tanpa harus datang ke outlet layanan Pegadaian (kantor cabang/unit layanan Pegadaian).
PDS telah memiliki fitur yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan nasabah Pegadaian seperti: membuka tabungan emas, gadai tabungan emas, perpanjangan gadai, pelunasan gadai, membayar angsuran, MPO (multi payment online) serta melakukan top up tabungan emas. Layanan digital seperti ini memang dapat menjadi andalan ketika mobilitas masyarakat terbatas.
“Pegadaian Digital mencatat sampai Oktober 2020, nominal transaksi mencapai Rp 3,3 triliun, dengan 3 juta total pengguna dan terus bertambah, dan jumlah transaksi 1.358.762,” ungkap Bhimo W. Hantoro, Digital Transformation Leadership, Pegadaian kepada Dewan Juri TOP DIGITAL Awards.
Pegadaian juga memiliki produk Gadai Efek, Layanan Gadai dengan jaminan saham, obligasi, Surat Utang Negara (SUN) ataupun Obligasi Negara Ritel (ORI). Gadai On Demand, Layanan yang diberikan kepada nasabah untuk menggadaikan barangnya melalui kerjasama ojek online.
Pegadaian Gold Card, Kartu Emas dengan underlying Tabungan Emas yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan alat bayar. Terakhir, G-Cash, Akun virtual untuk transaksi secara digital tanpa harus memiliki rekening bank.
Lingkungan Kerja Kolaboratif
Digitalisasi di Pegadaian juga menjangkau lingkungan kerja, dengan adanya lingkungan kerja kolaboratif. Salah satunya, memanfaatkan G-Works Collaboration Tools yang digunakan di kantor pusat dan kantor wilayah.
“Jumlah karyawan sebagai user aktif G-Works Collaboration Tools di kantor pusat tercatat 99,29 persen, dan 91,15 persen di kantor wilayah,” jelas Bhimo.
Tools ini memiliki g-work calendar untuk mengatur jadwal; g-work drive untuk berbagai file/dokumen; g-work mail untuk mengelola email In & Out; g-works meet untuk mengadakan virtual meeting dengan video conference.
Membangun Experience Management
Tidak berhenti sampai lingkungan kerja, tahun 2020, Pegadaian mengimplementasikan VELINA (aplikasi Survei Online & Analisa) berbasis Qualtrics untuk membangun Employee Experience (EX) dan Customer Experience (CX). Ini dalam format survei/feedback kepada karyawan (SOLID) dan survei kepada customer melalui ITSQM (IT System Quality Management).
“Survei ITSQM pada Aplikasi SELENA & Microsite telah kami lakukan. Misalnya untuk Employee Engagement yaitu pengukuran keterlibatan seluruh karyawan untuk menciptakan lingkungan kerja yang semakin produktif,” kata Bhimo.
SDM
Dalam upaya meningkatkan kemampuan SDM Pegadaian khususnya di Direktorat TI & Digital, Transformation Office, dan juga Squads yang merupakan roda penggerak dari proses Transformasi Pegadaian maka Pegadaian membuat wadah pembelajaran yang dapat menunjang upaya tersebut.
Bhimo mengatakan untuk melengkapi karyawan dengan pengetahuan spesifik, terkait langsung pada bidang pekerjaan, serta meningkatkan kapabilitas dan keahliannya maka dibuatlah wadah pembelajaran yaitu Breakfast Talk.
Sedangkan Gade Meetup: Engaging Minds adalah acara yang menghadirkan narasumber terkemuka di bidang tertentu.
“Ke depan, Pegadaian terus bertransformasi untuk menjadi perusahaan yang peka dan cepat dalam menangkap peluang perkembangan di pasar, serta kuat menghadapi persaingan bisnis,” tutup Teguh.
![Usung Semangat “Digital[is]Me”, Bisnis Pegadaian Makin Ter-Digitalisasi](https://www.itworks.id/wp-content/uploads/2020/10/Pegadaian.jpg)













