
Reporter: Abi Abdul Jabbar
Editor: Teguh Imam S.
Indonesia memiliki visi ingin jadi Poros Maritim dunia. Visi itu didasarkan letak geografis Indonesia yang sangat strategis, diantara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Menjadikan Indonesia sebagai jalur persilangan dunia yang dilintasi oleh kapal-kapal dari berbagai negara.
Guna mewujudkan visi tersebut, Pemerintah telah memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim. Elemen penting lain yang dibutuhkan agar mampu menjawab tuntutan layanan kepelabuhanan yang berkembang pesat adalah pengembangan SDM.
Menyadari pentingnya kapasitas SDM sebagai faktor kunci kemajuan maritim Indonesia itu, PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI), perusahaan yang menyediakan jasa pengembangan SDM dan konsultansi berusaha secara optimal melahirkan, dan menyiapkan tenaga-tenaga yang berkualitas, terampil dan kompeten di bidangnya, terutama yang berkaitan dengan Personal Mastery (Traits), Leadership Mastery & Business Mastery (Personal, Experience, Expertise).
Revi Kuswara, VP Knowledge Mangement, PT PMLI mengatakan kehadiran PMLI pada tahun 2013, tak terlepas dari transformasi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC menjadi operator pelabuhan berkelas dunia.
“Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja berstandar internasional, PMLI berkomitmen menjadi pusat pengembangan kompetensi unggul yang melahirkan pegawai dan kader pemimpin yang profesional di bidang kepelabuhan, maritim, logistik, manajemen, dan kepemimpinan,” kata Revi dalam Penjurian TOP Digital Awards 2020, yang berlangsung secara virtual pada Jumat (06/11/2020).

Revi memaparkan upaya PMLI melahirkan dan menyiapkan SDM handal dan potensial dilakukan salah satunya dengan penggunaan metode ALPI Multirater Assessment, metode penilaian multi sumber dengan penilaian dari atasan, bawahan, rekan kerja dan penilaian diri sendiri. Penilaian itu, jika relevan, juga mencakup pihak eksternal yang berinterasi dengan karyawan, seperti customer dan supplier atau pemangku kepentingan lain yang terkait.
“ALPI Multirater Assessment merupakan penilaian kinerja untuk menilai prestasi kerja karyawan sesuai perilaku dalam bekerja. Dengan menyediakan multi source feedback, metode ini dapat menyediakan data yang lebih obyektif ketimbang dengan metode single source tradisional yang biasa digunakan.
“Metode ini paling lazim digunakan sebagai sarana pengukuran kinerja. Dengan 5 kegunaan yaitu untuk menilai perubahan budaya organisasi, pengembangan karir, evaluasi kinerja, penilaian potensi dan efektifitas tim.”
“Caranya, menggunakan kuesioner untuk mengukur 4 objek core value, yaitu BUMN AKHLAK (amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif), BUMN Competency Model, Big Five Inventory (BFI), dan Professional Qualification.”
Kuesioner Core Value BUMN AKHLAK disusun dengan merumuskan aspek ke dalam item (drafting). Selanjutnya dilanjutkan dengan proses validasi dengan Subject Matter Expert/Assessor untuk melihat kesesuaian kontrak dengan blueprint/item dan mendapatkan masukkan untuk finalisasi draft uji. Draft uji kemudian diujicobakan ke sampel untuk mengetahui kinerja item dan menyusun norma kuesioner.
“Pada kuesioner AKHLAK, pembobotan terhadap skor masing-masing rater ditentukan dengan kesepakatan user. Lalu setelah mendapat data 360º, maka masing-masing respon tersebut dibobot dan dihitung untuk melihat pencapaian terbobotnya (weighted score). Hasil tersebut kemudian dihitung dan didapatkanlah skor akhir. Skor akhir ini kemudian diperbandingkan ke dalam norma untuk menentukan capaian kandidat terkait Core Value BUMN AKHLAK tersebut,” ungkapnya.
Revi melanjutkan, untuk BUMN Competency Model, kuisioner multirater yang diajukan berdasar atas 10 kompetensi BUMN yakni customer orientation, driving execution, global acumen, digital leadership, strategic orientation, business strategic relationship, managing diversity, leading change, developing organizational chap dan driving innovation.
Sementara Big Five Inventory (BFI)merupakan kuesioner untuk mengukur dimensi kepribadian melalui 5 faktor: Extraversion, Conscienciousness, Agreableness, Stress Tolerance, Openess untuk mendapatkan profil kepribadian seseorang. BFI yang dipakai dalam asesmen ini adalah versi 44 item yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.
“Terakhir Kuesioner Proffesional Qualification: Bertujuan untuk mengukur kapasitas professional subyek di dalam tiga ranah: knowledge, skill, attitude. Pengukuran Proffesional Qualification menilai 5 bidang, yaitu: Financial, Marketing/Commercial, Operation, People dan Technology,” tutup Revi.
Sebagai informasi, sejumlah penelitian memperlihatkan penggunaan metode ini dapat membantu meningkatkan kinerja karyawan. Karena metode ini membantu pihak yang dievaluasi untuk melihat dengan perspektif lain kinerjanya.














