Punya Aplikasi Keuangan Daerah dan QPAP, Bukti Bank Papua Membangun Tanah Papua

Penulis redaksi

Reporter: Busthomi Asyari

Editor: Teguh Imam S.

Inovasi teknologi yang digelorakan PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua atau Bank Papua di provinsi paling timur Indonesia tak pernah berhenti. Meski penuh tantangan, Bank Papua terus menggenjot sistem TI untuk memaksimalkan pengelolaan pendapatan daerah yang dikelolanya dan pengembangan bisnis Bank Papua sendiri.

Di tahun 2020 ini, Bank Papua, yang memiliki tagline “Membangun Tanah Papua”, mengusung solusi digital untuk nasabahnya. Langkah ini tak lepas dari IT Master Plan Bank Papua yang sudah masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) BPD Papua periode 2018-2020. RBB ini terbagi dalam tiga fase yakni fase I back on track (2018-2019), fase II competence enhancement and captive market marking (2020-2021), serta fase III healthy growth (2022).

Demikian disampaikan Andreas Didik Wijayanta, Pemimpin Divisi Teknologi Informasi Bank Papua dalam sesi Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 secara virtual, Kamis (26/11/2020).

“Di RBB tersebut, kami melakukan eksekusi kanal distribusi dan produk dengan target pelaksanaan yakni, revitalisasi kanal distribusi, seperti cabang dan e-channel. Kemudian pengembangan e-channel terbatas/digital banking terbatas, serta memberi prioritas mempertahankan captive market (pemda dan turunannya serta ASN).”

“Untuk jangka menengah-panjang, kami akan meningkatkan utilisasi kanal distribusi, dengan prioritas pada bisnis perkreditan dan dukungan service excellence captive market,” papar Andreas.

Bank Papua dalam sesi Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 secara virtual, Kamis (26/11/2020).
(Dokumentasi IT Works).

Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Papua telah meluncurkan Aplikasi Keuangan Daerah sebagai pengembangan TI bank yang dilakukan di tahun ini. Aplikasi ini sebagai sistem informasi Pemda yang terdiri dari dua modul pokok yaitu modul pengeluaran dan modul penerimaan keuangan daerah. Masing-masing modul itu didukung oleh produk unggulan Bank Papua.

Andreas menjelaskan, “Untuk modul pengeluaran keuangan daerah didukung aplikasi atau kanal elektronik, yakni: Aplikasi CMS Kasda, Aplikasi Create Billing Pajak MPN dan pembayaran Billing MPN, fitur pembayaran payroll/gaji ASN (core banking), internet banking kas daerah (yakni fitur SPJ, pembayaran dan pembelian) dan EDC untuk pembayaran.”

“Sementara untuk modul penerimaan keuangan daerah didukung aplikasi atau kanal elektronik: Sistem Samsat Online untuk penerimaan pajak kendaraan bermotor, H2H Samsat Online Nasional pada kanal ATM dan teller, penerimaan pembayaran pajak daerah seperti PBB, BPHTB, pajak hotel, pajak restoran serta pajak perizinan lainnya melalui kanal ATM, teller, mobile banking dan modern channel seperti GoPay.”

“Serta penerimaan retribusi daerah melalui kanal EDC dan teller seperti retribusi pasar, retribusi parker, dan retribusi sampah,” tambahnya.

Solusi berikutnya, kepada dewan juri, Andreas menjelaskan, berupa peningkatan middleware yaitu Quick Payment Papua (QPAP). Tujuan aplikasi ini sebagai penyediaan solusi teknologi yang terintegrasi dan terkini yang dapat memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis Bank Papua. Saat ini salah satunya adalah Layanan Aplikasi Payment Gateway melalui channel teller/ATM/mobile banking/internet banking.

“Aplikasi ini juga untuk melakukan transaksi pembayaran maupun pembelian seperti pembayaran tagihan PDAM, PLN, SPP sekolah/universitas, RSUD, pajak dan retribusi, Samsat, TV Berlangganan, tiket pesawat, dan lain-lain,” katanya.

“QAP ini banyak manfaatnya, seperti meningkatkan performance aplikasi payment gateway dalam memproses transaksi dan kemandirian dalam penguatan teknologi, sehingga tak tergantung pada vendor khususnya dalam mengelola biller-biller daerah tadi,” imbuh dia.

Untuk strategi peningkatan QPAP, Andreas melanjutkan, dilakukan dengan metode Joint Application Development (JAD) menggandeng pihak eksternal. Dan langkah ini, menurutnya, cukup menguntungkan, karena kerja sama ini diawali pembekalan pengetahuan melalui pelatihan, dan dilanjutkan dengan development aplikasi secara bersama-sama. “Dimana source code aplikasi akan jadi milik Bank Papua,” tegasnya.

Untuk keamanan aplikasi QPAP, di network security pada DC terdapat Firewall dan direncanakan akan mengimplementasikan cyber security unit. Untuk pengelolaan big data-nya pakai Tableau software dengan didukung cloud application server development dari Lintasarta dan Infokom.

“Jadi QPAP ini sebuah solusi teknologi yang terintegrasi dan terkini yang dapat memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis Bank Papua,” klaim Andreas.

Dalam sesi penjurian ini, Andreas didampingi manajemen Bank Papua yaitu: Thomas Rohadi, Pemimpin Dept. Non Core App & Switching; Jacob Kafiar, Pemimpin Dept. Tecnical Support & Infrastructure; Ismail Manurung, Pemimpin Dept. QA; Agus Purnama, Pemimpin Dept. Operasional; dan Ofir Victor, Analis Dept. QA.

BACA JUGA

Leave a Comment