Jakarta, ItWorks- Rumah Sakit Pusat Otak Nasional atau RS PON, telah menggunakan peralatan medis modern berteknologi canggih. Salah satunya, FUJIFILM PACS Synapse berteknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
PACS (Picture Archiving & Communication System) Synapse merupakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dari FUJIFILM dalam bidang perawatan kesehatan berbasis teknologi informasi (IT Healthcare) yang sedang tren dalam bidang radiologi. Teknologi ini berfungsi sebagai penyimpanan image pasien (archiving), viewer image pasien, 3D Post Processing Image, dan teleradiologi untuk menunjang klinik radiologi dalam melakuan diagnosis dengan alur kerja yang efektif, efisien dan tidak repetitif.
Menurut dr. Melita, Sp.Rad – Kepala Instalasi Radiologi di RS PON, dengan adanya AI, dokter – dokter di Indonesia seperti memiliki tambahan rekan kerja baru yang dapat membantu dan mendukung rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang efektif dan efisien kepada para pasien. Hal ini, terutama karena dari pengalamannya ketika harus berjibaku dalam waktu cukup lama dalam mendiagnosis dan merawat pasien akibat tidak adanya alat yang dapat mempersingkat proses kerja membantu menegakan diagnosis pasien stroke kala itu.
“Inovasi dalam Synapse (PACS) mendukung dokter dan tenaga kesehatan meningkatkan efektivitas dan produktivitas alur kerja, sehingga pasien dapat segera ditangani dengan waktu tunggu minimum serta improvement dan akurasi dalam mendiagnosis. Akurasi tersebut menjadi faktor yang penting untuk membantu meningkatkan persentase kesembuhan pasien,” ungkap dr. Melita dilansir dalam siaran pers, di Jakarta, baru-baru ini.
Dengan PACS menjadikan pekerjaan manual yang repetitif menjadi digital serta memberikan kemudahan akses melalui mobile device dan dapat diakses para dokter dan tenaga kesehatan dimanapun. Termasuk ketika pasien ingin melakukan second opinion. Hasilnya pemeriksaan di instalasi radiologi khusus penyakit stroke kini berhasil maksimal 20 menit.
Informasi yang menggembirakan ini telah di presentasikan dalam pertemuan ilmiah Radiological Technologist Conference Chiangmai – Thailand dengan judul Role of PACS in Order to Maximize Stroke Disease Service at National Brain Center Hospital (RS PON) berdasarkan pengalaman pemakaian PACS Synapse. Perubahan paling signifikan yang dirasakan kini adalah semakin singkatnya alur pemeriksaan, sehingga menjadi lebih efektif dan efisien, seperti.
- Hasil dari foto radiologi tidak perlu dicetak dan selanjutnya diberikan ke dokter klinisi karena sekarang dapat langsung dibaca secara otomatis masuk ke dalam rekam medis elektronik pasien.
- Tidak perlu proses konversi format jpeg dan tidak memerlukan proses unggah dan unduh data melalui email.
- Dokter Radiolog kini dapat melakukan 3D Processing di luar rumah sakit terutama dalam kasus CT Angiografi.
- Jika data gambar yang dibutuhkan dirasa kurang, maka dapat menarik data lainnya tanpa perlu melibatkan radiografer di rumah sakit.
Dalam beberapa bulan ini, RS PON juga sudah mencoba FUJIFILM AI Chest yang dapat membantu dokter radiolog dalam menegakkan diagnosis karena dapat menunjukkan kelainan yang ada di tubuh pasien.
Rumah sakit yang berlokasi di kawasan Cawang, Jakarta Timur ini terus berupaya meningkatkan penggunaan teknologi medis yang lebih modern untuk memberikan pelayanan yang cepat dan tepat. Hal ini karena Untuk menangani pasien yang baru terserang stroke, dokter dan tenaga kesehatan lainnya hanya memiliki sedikit waktu yang sering disebut golden time untuk membantu pasien tersebut terhindar dari risiko cacat maupun kematian.
Untuk memberikan pelayanan prima tersebut, RS PON memilih menggunakan teknologi digital dari awal berdiri seperti alat digital radiography dan kemudian di tahun 2014, RS PON memiliki alat CT Scan (Computed Tomography scan)dengan PACS (Picture Archiving and Communication System) Basic.
Pelayanan yang responsif inilah yang menjadi sasaran mutu di instalasi radiologi di RS PON. Seperti kutipan yang dikemukan neurologis dunia, Camilo Gomez, M.D., “Time is Brain” sebagai peraturan fundamental dalam merawat pasien stroke dimana semakin lama perawatan dan terapi dijalankan maka semakin kecil kemungkinan berhasil. (AC)














