Jakarta, Itech- Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan Internasional Ocean Discovery Program (IODP) memanfaatkan teknologi pengeboran laut untuk mengetahui sifat material dari zona subduksi yang menjadi kunci dari proses tektonik yang menyebabkan terjadinya gempa Bumi dan tsunami di Aceh beberapa tahun silam.
Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan, dalam penelitian pengeboran laut, BPPT bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Maritim (Kemenko Maritim), Kementerian Kelautan dan Perikanan, LIPI, PPGL, universitas dan ilmuwan dunia seperti dari USA, Inggris dan Jepang. “Ini adalah penelitian besar, karena melibatkan peneliti terbaik dari Indonesia dan internasional. Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa kini Indonesia sudah lebih sadar akan bahaya bencana alam dan bagaimana cara memitigasinya melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek),” kata Unggul, di acara International Workshop on IODP – 362 Sumatera Seismogenesis, di Gedung BPPT, Jakarta, (27/5).
Lebih lanjut Unggul menjelaskan, riset ini menggunakan kapal pengeboran laut dalam Joides Resolution yang mampu melakukan pemboran dasar laut dengan kedalaman hingga 8 kilometer (km) untuk mengambil sampel. Ekspedisi ini akan dimulai 31 Juli sampai 31 Agustus 2016. “Saya berharap ekspedisi ini bisa berjalan dengan baik untuk mengetahu dasar-dasar terjadinya gempa Bumi dan bagaimana cara mitigasinya,” harap Unggul.
Sementara, Kepala Bidang Mitigasi Bencana BPPT, Udrekh menjelaskan, ekspedisi yang diperkirakan menelan dana Rp600 miliar ini akan mengambil sampel batuan dan sedimen di bawah laut dalam zona subduksi barat Sumatera bagian utara.”Ini adalah ekspedisi pertama kalinya mengebor laut. Akan banyak rahasia alam yang diketahui, sehingga mengerti karakter gempa dan bangsa ini memiliki upaya mitigasi bencana yang tepat,” tuturnya.
“Kami sejak sembilan tahun lalu sudah membuat proposal untuk mengatasi permasalahan ini, kami mecoba mengajukan pendanaan riset ini ke National Science Foundation Amerika Serikat melalui IODP , akhirnya perjuangan kami selama 9 tahun terjawab sudah. Dari riset drilling ini, kapal pembor laut dalam “Joides Resolution” dijadwalkan akan melaksanakan kegiatan riset drilling di dua titik sampling di daerah laut dalam Barat Sumatera. Kapal ini mempunyai kemampuan drilling sedimen dasar laut hingga 8.000 meter dengan ketebalan sedimen 2.000 meter,” jelas doktor lulusan Tokyo University Jepang. (ju)














