ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), perusahaan penyedia jasa pusat data (data center) berbasis di Singapura, menjalin kerjasama strategis dengan perusahaan konglomerat Indonesia Triputra Group, dan Temasek, perusahaan investasi global, untuk membangun platform operasi pusat data baru di Indonesia.
Joint venture tersebut berencana membangun kampus pusat data pertama di Greenland International Industrial Center, yang berlokasi di Kota Deltamas, Cikarang, Bekasi. Nantinya, Kampus pusat data ini akan terdiri dari beberapa gedung dengan dukungan kapasitas hingga 72 megawatt untuk memenuhi kebutuhan pengembangan teknologi informasi. Konstruksi fase pertama diharapkan bisa dimulai bulan mendatang dan diperkirakan akan rampung di Q1 2023.
Kemitraan ini untuk menangkap peluang perekonomian digital Indonesia yang diproyeksikan akan bernilai 124 milyar Dolar AS di tahun 2025, dan akan menjadi yang perekonomian nomor 4 terbesar di dunia di tahun 2050. Indonesia telah jadi basis bagi sejumlah perusahaan besar di Indonesia yang turut memicu dan menjadi bagian dalam perkembangan pesat ekonomi digital Indonesia.
Hal ini juga dibantu dengan meningkatnya penetrasi Internet yang mencapai 64,8% atau setara dengan 171 juta orang, dengan sebagian besar adalah penduduk berusia di bawah 35 tahun yang mewakili sekitar 67% dari pengguna Internet di seluruh Indonesia.
Terlebih, pemerintah Indonesia telah mencanangkan Roadmap Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik dan Roadmap Indonesia Digital 2021-2024 untuk mendukung perekonomian digital yang inklusif, serta mempersiapkan akselerasi pertumbuhan digital terutama untuk pelaku usaha lokal.
Kemitraan ini juga merupakan cerminan dari kepercayaan diri Indonesia sebagai penerima Foreign Direct Investment (FDI). Di kuartal pertama 2021, FDI yang masuk mencapai USD 7.72 miliar Dolar AS, meningkat 14% dibandingkan periode waktu yang sama di tahun 2020. Singapura adalah penyumbang FDI terbesar di tahun 2020, dan tetap memimpin di Q12021.
Baca: Wajib Disimak Nih, Penjelasan Menkominfo Tentang Pembangunan Pusat Data Nasional
Dalam siaran pers yang diterima Redaksi It Works, di Jakarta, 28/05/2021, Bruno Lopez, President and Group CEO, STT GDC menjelaskan, “Joint venture ini menandai masuknya STT GDC ke pasar pusat data (data center) Indonesia dan merupakan langkah penting bagi kami untuk bisa menjadi pelaku usaha pusat data yang terdepan di Asia Pasifik.”
“Kami sangat senang bermitra dengan Triputra Group dan Temasek, keduanya memiliki keahlian dan pemahaman pasar yang mendalam di bidangnya masing-masing. Indonesia adalah negara dengan perekonomian berbasis internet yang terbesar dan bertumbuh paling pesat di wilayah Asia Tenggara berkat tingginya tingkat penggunaan aplikasi dan layanan digital oleh masyarakat.”
“Saya sangat yakin bahwa kemampuan kami dalam merancang, membangun dan mengoperasikan pusat data di negara-negara besar lainnya di Asia, digabungkan dengan pengalaman Triputra Group dalam mengoperasikan bisnis di berbagai sektor di Indonesia, serta pengalaman Temasek dalam berinvestasi di Indonesia maupun global, akan menempatkan kami dalam posisi yang baik untuk dapat melayani kebutuhan ekonomi digital di Indonesia yang sedang berkembang pesat,” tegas Bruno Lopez.
Melalui kemitraan ini, STT GDC akan memperluas dan memperkuat jaringan pusat datanya di Asia dan kini mencakup tiga negara dengan populasi terbesar di Asia, yaitu China, India dan Indonesia, serta lokasi-lokasi strategis di Singapura dan Bangkok, sehingga memperkokoh keberadaannya di pasar-pasar Asia yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tertinggi.
Baca: Kominfo: Pusat Data Nasional Akan Berikan Efisiensi Triliunan Rupiah
Sementara Arif Rachmat, Direktur, Triputra Group mengutarakan bahwa kebutuhan akan layanan digital dan cloud di Indonesia bertumbuh secara eksponensial dan ini adalah waktu yang paling tepat untuk masuk ke industri pusat data.
“Triputra Group sangat senang dapat bermitra dengan dua perusahaan besar Singapura yang memiliki rekam jejak sangat baik dalam investasi dan juga keahlian di industri ini. Kami berharap dapat menambahkan pengalaman dan pengetahuan kami atas pasar lokal, untuk mendorong pertumbuhan bisnis ini lebih jauh, karena kami yakin pada potensi pertumbuhan digital Indonesia di masa depan. Terlebih lagi, ini akan menjadi pencapaian yang penting bagi perekonomian Indonesia dan kami ingin mendukung Pemerintah untuk mewujudkannya,” tutur Arif.
Triputra didirikan tahun 1998 oleh T.P. Rachmat, mantan CEO Astra Group. Kini, Triputra Group jadi salah satu konglomerasi terbesar dan terdiversifikasi di Indonesia. Group ini memiliki empat lini bisnis yaitu Agribisnis, Manufaktur, Pertambangan, Perdagangan & Layanan, serta mengoperasikan lebih dari 80 entitas perusahaan.
Temasek adalah perusahaan investasi dengan nilai portofolio bersih sebesar Rp3.284 Triliun (S$306b, US$214b) per 31 Maret 2020.
Baca: Biznet Gio Bangun Pusat Data Ketiga dan Rilis Layanan NEO Web untuk UMKM














