ItWorks- Dalam beberapa dekade terakhir, internet telah berkembang pesat berada di ujung jari hanya dengan satu kali klik. Seiring dengan kemajuan ini, banyak tren Teknologi Informasi (TI) baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya cloud.
Muhammad Firdaus Noordin, Product Consultant ManageEngine mengatakan, dalam dekade terakhir, komputasi cloud sudah berkembang di beberapa bidang, dan sudah lebih banyak perusahaan telah mengubah strategi mereka karena tingginya tuntutan untuk beralih ke cloud.
Ada banyak keunggulan dari teknologi cloud ini. Cloud merupakan lingkungan TI yang mengabstraksi, mengumpulkan, dan berbagi sumber daya yang dapat diskalakan di seluruh jaringan. Teknologi ini memungkinkan pengiriman layanan komputasi sesuai permintaan, dari aplikasi hingga penyimpanan dan kekuatan pemrosesan.
Dalam beberapa tahun terakhir, komputasi cloud sudah mendewasa di beberapa bidang, dan sudah banyak perusahaan yang mengubah strategi mereka karena tingginya tuntutan untuk beralih ke cloud.
Pasar Cloud US$ 832,1 Miliar
Menurut sebuah laporan dari Research and Markets, pasar komputasi cloud global diperkirakan akan tumbuh menjadi US$ 832,1 miliar pada tahun 2025. Penganggaran belanja cloud publik di delapan negara dengan ekonomi besar di Asia Pasifik (APAC) seperti Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura , Thailand, dan Vietnam tumbuh pada tingkat yang lebih cepat dibanding di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Di Indonesia, tren komputasi cloud tentunya tengah naik daun.
Menurut laporan Boston Consulting Group, dengan CAGR sebesar 25 persen, pasar cloud dalam negeri diperkirakan akan tumbuh menjadi US$0,8 miliar pada tahun 2023.
Dengan hasil penelitian tersebut dan keunggulan yang ditawarkan, kini saat yang tepat bagi perusahaan beralih ke cloud. Namun demikian, sebelum memutuskan untuk memigrasikan infrastruktur TI ke cloud, para pemimpin TI perlu membangun fondasi bisnis yang kuat untuk mewujudkannya.
Contoh kasus, pada tahun 2008, perusahaan raksasa streaming media Netflix mengalami insiden kritis ketika perusahaan mendorong firmware ke susunan disk yang merusak databasenya. Butuh tiga hari bagi Netflix untuk pulih kembali dari insiden tersebut, yang pada akhirnya mendorong tim manajemen untuk membuat keputusan untuk pindah ke cloud. Contoh kasus lain adalah Swire Coca-Cola, divisi dari perusahaan konglomerat terdiversifikasi yang berbasis di Hong Kong dan London.
Perusahaan ini menghadapi tantangan dalam menykalakan bisnis dan kendala untuk bisa cepat menyesuaikan kecepatan perubahan pasar karena arsitektur TI lawasnya. Menghadapi tuntutan bisnis yang ada, Swire Coca-Cola kemudian menutup tiga pusat data lokalnya dan memigrasikan semua sistem bisnisnya ke cloud.
Cloud menghadirkan sumber daya TI yang andal yang mampu memfasilitasi perusahaan fleksibilitas guna meningkatkan atau menurunkan skala sesuai dengan kebutuhan mereka sekaligus tetap menghemat biaya terendah. Dari contoh kasus di atas, dua faktor penting harus dipertimbangkan saat membangun
fondasi bisnis, yaitu:
a. Pahami betul berapa sesungguhnya biaya infrastruktur yang ada
Beberapa pengeluaran termasuk biaya menjalankan data center, leased line, dan server; rincian spesifikasi seperti CPU, core, dan RAM; serta biaya penyimpanan. Tim TI perlu menghitung biaya aplikasi dan, tergantung opsi mana yang lebih hemat, perusahaan dapat mengganti pusat data lama, menghosting ulang di cloud, membangun kembali untuk teknologi cloud, atau membeli paket Software as a Service. Setiap opsi memiliki implikasi biaya yang berbeda. Biaya lain seperti memiliki tim TI khusus untuk mengelola infrastruktur juga harus dipertimbangkan.
Namun, tanpa opsi untuk mencari tahu dan bekerja sama dengan penyedia lain, pilihan terakhir vendor untuk infrastruktur yang ada dapat membatasi dan merugikan bisnis perusahaan.
b. Tentukan sistem cloud mana yang terbaik untuk perusahaan
Perusahaan harus berhati-hati memutuskan sistem mana yang dapat diterapkan untuk kebutuhan perusahaan. Baik itu cloud on-premise, cloud hosting, atau cloud hybrid, pilihannya tergantung pada kebutuhan dan tujuan perusahaan yang berdasar pada kondisi bisnisnya.
c. Cloud On-Premise
Lingkungan cloud on-premise perlu memiliki pusat data sendiri untuk menghosting server cloud, dan harus memiliki tim TI internal untuk mengelola dan mengontrol penuh infrastruktur, keamanan, database, dan konfigurasi server. Semua biaya dan tanggung jawab terkait pemeliharaan server dilakukan oleh perusahaan sendiri. Disarankan memiliki solusi manajemen pengingat terintegrasi guna memastikan semua sistem dapat terpantau.
d. Cloud Hosting
Karena banyak penyedia cloud menawarkan hosting server di pusat data mereka dan perusahaan hanya perlu membayar untuk perangkat lunak saja, lingkungan cloud hosting adalah pilihan hemat biaya.
Namun, meskipun ini adalah layanan terkelola, tanggung jawab pembaruan sistem keamanan dan keamanan jaringan secara keseluruhan tetap berada di tangan tim TI internal.
Tim keamanan harus mempertimbangkan untuk menerapkan solusi manajemen titik akhir terpadu yang komprehensif untuk mengontrol, mengakses, mengamankan, dan meningkatkan semua titik akhir dan aset perusahaan dari konsol pusat.
e. Cloud Hybrid
Banyak perusahaan menggunakan kombinasi solusi cloud on-premise dan hosting untuk mengelola data mereka dan menyebarkan informasi ke lokasi lain. Layanan ini direkomendasikan bagi perusahaan yang ingin menambahkan aplikasi atau mobilitas ke sistem on-premise mereka.
Dengan setup cloud hybrid, solusi pemantauan performa yang terkonsolidasi dapat membantu mengawasi cloud publik dan privat serta menyelesaikan manajemen log.
Migrasi cloud sangat cocok untuk perusahaan startup yang tumbuh cepat yang ingin meningkatkan skala dengan cepat, tetapi juga patut dipertanyakan apakah mengubah infrastruktur yang ada sejalan dengan strategi perusahaan. Sebelum bergegas bermigrasi ke cloud, sebaiknya pertimbangkan variabel, dampak pro dan kontranya, dan tentunya pilih opsi yang paling menguntungkan bisnis perusahaan.














