Maraknya pertumbuhan industri voice over di Tanah Air yang tidak disertai adanya standarisasi di industri tersebut, mengakibatkan luasnya diferensiasi kualitas hasil voice over yang diproduksi. Hal itu menjadi pasar potensial bagi penyedia jasa voice over.
Melihat peluang itu, sekelompok anak muda pun mendirikan start-up Inavoice.com, tepatnya pada 1 September 2020 di Sleman, Yogyakarta. Mereka menawarkan pengalaman dalam industri produksi audio dan jaminan hasil kualitas terbaik dengan konsistensi yang tetap terjaga.
“Kami memiliki 2 jenis bisnis, pertama, Digital Voice Over Agency, ini pemilihan Voice Actor dan Voice Style terbaik dari berbagai bahasa untuk membawakan berbagai brand. Kedua, Audio Marketplace, semacam ‘pasar background musik’ dimana setiap kontributor musik terpilih dapat menjual musiknya melalui platform yang dikelola Inavoice,” jelas Jatmiko Kresnatama, CEO Inavoice, dalam keterangan resmi kepada Redaksi It Works, di Jakarta, 11/07/2021.
“Dalam 2 jenis bisnis ini, kami juga membuat 2 model bisnis yang berbeda, yaitu B2B untuk Digital Voice Over Agency, dan B2C untuk Audio Marketplace. B2B untuk klien yang akan menggunakan jasa kami, dan B2C agar setiap customer memiliki akses mudah untuk membeli lagu berlisensi untuk setiap konten digital yang mereka produksi,” tambah Miko, panggilan akrabnya.
Perkembangan Inavoice
Meski masih terbilang berusia muda, namun start-up ini sudah mampu mencatat mencatat kinerja yang cukup lumayan. “Dalam 4 bulan pertama kami berdiri, kami telah memiliki 200 Voice Over talent dari 30 negara berbeda di dunia, 6 Music Contributor yang tersebar dari 4 Negara berbeda di Dunia, dan juga telah memiliki 20 klien yang telah menggunakan jasa kami, baik jasa pembuatan voice over, ataupun produksi musik,” ungkap Miko.
Ia memaparkan cara kerja Inavoice cukup simple, yaitu dengan mengupayakan optimisasi Google Index (baik on page maupun off page) untuk menarik calon client dan customer backround music yang akan menggunakan jasa mereka. “Optimasi ini pun diimbangi dengan Content Marketing melalui channel distribusi kami, baik melalui Blog, Instagram, LinkedIn, Facebook, dan Youtube channel kami,” jelas Miko.
“Kami upayakan memaksimalkan distribution channel kami agar bisa menambah jumlah traffic dan memaksimalkan kemungkinan converting melalui upaya tersebut”
Jatmiko Kresnatama, CEO Inavoice
“Voice over talent dan musik kontributor yang bergabung bersama kami semuanya adalah freelancer yang mana tidak ada kontrak terikat untuk terus berada dalam agency kami. Dengan cara seperti ini, kami menawarkan win-win solution bagi mereka. Dimana mereka dapat dengan bebas mendistribusikan karya-karya mereka pada agency dan marketplace lain diseluruh dunia,” lanjutnya.
Inavoice pun selalu membuka kesempatan bagi mereka yang ingin bergabung. “Untuk menjaga kualitas dari produk yang kami tawarkan pada klien, tentu ada proses seleksi yang kami lakukan,” tutur Miko.
Pengaruh Pandemi Covid-19 pada Bisnis
Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia dan mendisrupsi seluruh segi kehidupan, diakui Miko juga memberi dampak bagi bisnis Inavoice. “Perubahan behaviour target market, perubahan gaya produksi voice over dari client visit session menjadi remote recording system tentunya sangat mempengaruhi bagaimana kita melangkah dan menentukan business plan kami.”
“Namun kami juga sadar betul bahwa pandemi merupakan starting point baru bagi setiap orang, sehingga bagi bisnis yang terus konsisten dan survive melewati kondisi new normal, bisa menjadi leader baru dalam market persaingan, khususnya industri voice over dan audio marketplace,” tegasnya.
Miko menjelaskan bahwa Inavoice sama sekali tidak berupaya untuk mencari funding, penggalangan dana, atau apapun bentuk sejenisnya. “Yang sedang kami upayakan adalah memaksimalkan distribution channel kami agar bisa menambah jumlah traffic dan memaksimalkan kemungkinan converting melalui upaya tersebut,” jelasnya.
Namun ia juga megakui proses bootstraping start-up yang dipimpinnya jadi berjalan sedikit lambat “Hal itu terjadi mengingat kami merupakan start-up digital voice over agency dan audio marketplace pertama di Indonesia berbasis self funding, dengan kondisi pasar yang sedang kurang baik dikarenakan pandemi.”
“Saat ini dan ke depan, target kami adalah, memaksimalkan kemampuan dan pengalaman yang kami miliki di bidang audio untuk menjadi ‘win-win solution’, baik bagi talent dan music contributor dan juga klien yang nantinya akan menggunakan jasa kami,” tutup Miko.
Baca: Intip Yuk 7 Startup yang Lolos Bacth 1 Indigo Creative Nation 2021















