Pandemi telah mendorong cloud untuk berevolusi menjadi sebuah strategi pengembangan yang penting bagi banyak perusahaan dan pemerintahan di Asia Tenggara. Menurut IDC, pasar cloud di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh pada CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 18,9% pada 2020-2024.
Melihat peluang pasar itu, Accenture berambisi melewati pertumbuhan tersebut sebesar paling sedikit dua kali lipat,” kata Laurent Gatignol, Cloud First Lead for ASIAM at Accenture (Australia, Southeast Asia, India, Middle East and Africa).
“Di wilayah ini, kami berinvestasi dalam kapabilitas, solusi, kemitraan, dan kerjasama klien baru yang akan memacu inovasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan Strategi Cloud-First Accenture yang ditawarkan untuk klien ditujukan untuk mengakselerasi bisnis di dunia digital — sebuah inovasi yang mempercepat proses satu dekade menjadi hanya tiga tahun.
Perubahan ini dikarenakan banyak perusahaan telah menyadari pentingnya adopsi cloud untuk dapat bertahan menghadapi tantangan di masa depan.
“Kami fokus pada tiga area, pertama, berinvestasi di perencanaan industri, model data, dan solusi untuk memindahkan seluruh industri ke cloud.”
“Kedua, berinvestasi dalam otomatisasi dan teknologi yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas.”
“Serta berinvestasi dalam keberlanjutan bisnis dan sumber daya manusia,” tutupnya.
Baca: Accenture Resmikan Innovation Centre for Cloud in Indonesia














