Jakarta, ItWorks- Selangkah lebih maju, setelah sukses menghadirkan produk layanan tabungan emas dengan dukungan sistem digital, kini PT Pegadaian (Persero) serius mengembangkan inovasi baru bisnis blockchain untuk komoditi emas. Saat ini sedang dibangun infrastruktur dan ekosistem pendukung, dan diharapkan tak lama lagi bisa diluncurkan ke pasar.
Inovasi Tabungan Emas Pegadaian sebagai sistem layanan penitipan saldo emas yang juga untuk memudahkan masyarakat berinvestasi emas, kian berkembang dan banyak diminati. Produk Tabungan Emas Pegadaian memungkinkan nasabah melakukan investasi emas secara mudah, murah, aman dan terpercaya. Apalagi didukung jaringan luas, yakni di seluruh outlet Pegadaian dan melalui Pegadaian Digital Service, Agen Pegadaian dan Marketplace.
Dikelola secara profesional dan transparan, masyarkat bisa mendapatkan layanan tabung emas (top up) cukup mudah. Bisa melalui outlet Pegadaian, ATM, Aplikasi Pegadaian Digital, ataupun Agen Pegadaian. Transaksi top up bisa dimulai dari 0,01 gram dan maksimal 100 gram per hari per CIF. Nasabah juga bisa jual dan beli kapanpun secara digital. Bahkan saldo emas juga dapat dicetak dalam bentuk emas sesuai keinginan, seperti batangan jenis Antam, UBS atau Galeri 24 dengan pilihan keping mulai dari 1, 2, 5, 10, 25, 50, 100 gram. Tak pelak kemudahan dan daya tarik investasi tabungan emas ini kian diminati masyarakat yang secara bisnis juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi usaha PT Pegadaian.
“Tabungan Emas Pegadaian yang kita kembangkan memungkinkan nasabah melakukan investasi emas secara mudah, murah, aman dan terpercaya, sehingga banyak yang tertarik dengan layanan ini, termasuk dari kalangan muda millenial. Dari pengalaman ini, kita akan kembangkan lebih lanjut ke sistem bisnis blockchain. Ini juga bagian dari kelanjutan transformasi digital di PT Pegadaian sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat,” ujar Teguh Wahyono, Direktur Teknologi Informasi & Digital, CTO PT Pegadaian dalam sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri di ajang penjurian “TOP DIGITAL Awards 2021” yang diselenggarakan secara online oleh Majalah IT Works di Jakarta, Jumat, 29 Oktober 2021.
Secara umum Blockchain merupakan teknologi baru yang dikembangkan untuk sistem penyimpanan data digital. Teknologi ini terhubung melalui kriptografi dan penggunaannya sendiri tak bisa lepas dari mata uang atau produk sejenis yang bernilai, seperti bitcoin dan cryptocurrency. Sistem blockchain merupakan rantai blok urut yang dirangkai dan didistribusikan bersama. Setiap blok terdiri dari ledger (buku besar) dan elemen pendukung, antara lain data. Jenis data yang digunakan bergantung pada tujuan blockchain itu sendiri, seperti dalam bitcoin data blok yang berisikan seluruh detail transaksi, mulai dari jumlah koin, pengirim, hingga penerima. “Nah sistem blockchain ini yang akan kita adop dengan menggunakan produk emas. Saat ini sistem dan infrastrukturnya sudah mulai kita bangun dan ekosistem pendukungnya,” ujar Teguh Wahyono.
Pihaknya optimistis, apalagi dengan potensi jangkauan yang makin luas dengan telah bergabung dalam Holding Ultra Mikro. Pemerintah telah membentuk holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai induk, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Pemerintah menilai pentingnya kehadiran lembaga keuangan formal yang berfokus pada sektor usaha ultra mikro ini. Hal itu dikarenakan sektor ini memiliki poptensi dan juga permasalahan yang perlu keseriusan untuk bisa meningkatkan skala usahanya.
Dalam presentasinya berjudul “Percepatan Transformasi Digital Pegadaian di Era New Nomal & Beyond”, Direktur Teguh Wahyono juga memaparkan banyak hal tentang inovasi dan terobosan kelanjutan digitalisasi di Pegadaian, baik di sistem manajemen maupun pengembangan produk dan layanan untuk kelangsungan bisnis di tengah pandemi Covid-19 ini. Turut hadir mendampingi saat presentasi di depan tim juri yang dipandu Moderator Juri -Melani Hariman (Melani K. HarrimanAssociate), di antaranya -Kepala Divisi PMO & Manajemen Perubahan, Plt Kepala Divisi Innovation Center- Mirza Yunan Rivai, Kepala Divisi Pengembangan Aplikasi TI- Noor Hidayanto, Kepala Divisi IT Security- Eko Haryono, Kepala Divisi Strategi Arsitektur dan Perencanaan TI- Supriyanto, Kepala Divisi Operasional dan Infrastruktur TI- Alfian Noor, Kepala Divisi Data Management- Moh Syaiful Anam, serta Kepala Divisi Digital Lending & Payment- Teguh Budi Ismanto.
Dengan sederat inovasi dan dinamika digitalisasi yang terus dilakukan, tahun ini PT Pegadaian kembali masuk dan terpilih sebagai peserta atau kandidat pemenang di ajang penghargaan bidang inovasi Teknologi Informasi dan Komuiniikasi (TIK) Tingkat Nasional “TOP DIGITAL Awards 2021”. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan, organisasi, instansi pemerintahan yang dinilai berhasil dalam hal implementasi dan pemanfaatan teknologi digital, untuk meningkatkan kinerja, daya saing, layanan pelanggan maupun layanan kepada masyarakat. Tahun ini mengusung tema “Accelerating Digital Transformation in Business & Government”.
“Ini merupakan tahun ketiga kami mengikuti ajang penjurian TOP Digital Awards. Terima kasih kepada panitia dan dewan juri, di mana inovasi dan transformasi digital yang terus kami lakukan selama ini, juga mendapat pengakuan luas dan bisa memberi manfaat bagi masyarakat dan juga bisa meningkatkan performa usaha kami,” ujar Teguh Wahyono didampingi tim.
Dijelaskan, kian derasnya arus digitalisasi dan era disrupsi teknologi, mendorong Pegadaian untuk terus meningkatkan akselrasi transformasi digital dengan memanfaatkan teknologi informasi dan digital technology untuk meningkatkan peran di ekosistem keuangan digital. Pegadaian merupakan perusahaan top of mind di sektor gadai dengan menguasai 90% pangsa pasar pergadaian di Tanah Air, dan memiliki lebih dari 4 ribu outlet di seluruh Indonesia.
Proses Digitalisme yang dijalan Pegadaian di antaranya menggunakan Konsep Lean yaitu meningkatkan kecepatan proses dan kualitas produk. Dengan menghilangkan proses dan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah atau pemborosan dan berupaya menghilangkannya.
Digitalisasi di Pegadaian juga menjangkau lingkungan kerja, dengan adanya lingkungan kerja kolaboratif. Salah satunya, memanfaatkan G-Works Collaboration Tools yang digunakan di kantor pusat dan kantor wilayah.
Dalam upaya meningkatkan kemampuan SDM Pegadaian khususnya di Direktorat TI & Digital, Transformation Office, dan juga Squads yang merupakan roda penggerak dari proses Transformasi Pegadaian. Dalam kaitan ini maka Pegadaian membuat wadah pembelajaran yang dapat menunjang upaya tersebut. Untuk melengkapi karyawan dengan pengetahuan spesifik, terkait langsung pada bidang pekerjaan, serta meningkatkan kapabilitas dan keahliannya maka dibuatlah wadah pembelajaran yaitu Breakfast Talk. Selain itu ada Gade Meetup: Engaging Minds, yakni acara yang menghadirkan narasumber terkemuka di bidang tertentu.
“Ke depan, Pegadaian terus bertransformasi untuk menjadi perusahaan yang peka dan cepat dalam menangkap peluang perkembangan di pasar, serta kuat menghadapi persaingan bisnis di era digital ini. Dalam hal ini pegadaian telah menerapkan sistem agile management, sehingga bisa lebih cepat bergerak menyesuaikan diri dengan tuntutan dan tantangan bisnis yang kian cepat berkembang ini,” pungkasnya. (AC)















