Penulis: Fauzi
Saat ini banyak perusahaan melihat teknologi digital atau teknologi informasi tidak sekedar bagian pendukung bisnis belaka. Terlebih bagi perusahaan yang bergerak di industri perbankan, di mana teknologi digital seolah sudah melekat dan menjadi suatu keharusan. Maka dari itu, tak heran bila banyak bank yang begitu gesit dalam melakukan transformasi digital, PT Bank Amar Indonesia Tbk. atau yang biasa disebut Amar Bank adalah salah satu di antaranya.
Terkait Amar Bank yang begitu consern dalam melakukan transformasi digital, setidaknya terlihat dari anggaran TI-nya yang terus ditingkatkan. “Anggaran TI terhadap pendapatan atau omset, sekitar 3-5% di 2020. Dan di 2021 naik, di angka 6-8%. (Sementara) untuk anggaran TI terhadap total biaya, juga mengalami kenaikan, yaitu di angka 13-15% di realisasi tahun 2020. Dan di 2021 itu menjadi 16-18% secara anggaran,” kata Kevin Kane Wardhana, Head of Technology, Amar Bank dalam sesi Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 yang diselenggarakan majalah IT Works secara virtual.
Selain itu, sebagaimana diungkap Kevin, dari struktur organisasi perusahaan, TI juga berada langsung di bawah Presiden Direktur perusahaan.
Terapkan ISO 27001
Secara umum, Kevin mengatakan bahwa IT Master Plan yang diusung Amar Bank tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Yang pertama, Amar Bank selalu menerapkan Cloud First & Microservices architecture transformation. ”Meskipun sama, dari sisi pengembangannya mengalami peningkatan, yang sebelumnya itu untuk Cloud First-nya masih di angka 60 – 70% di tahun lalu, di tahun ini sudah di atas 90%. Microsevice juga seperti itu, yang tahun lalu di angka 50%, sekarang sudah di angka 70%,” ungkap Kevin yang dalam presentasinya mengusung judul ‘Building A Resilient Digital Ecosystem’.
Masih berkaitan dengan IT Master Plan, Kevin mengatakan bahwa Amar Bank memanfaatkan teknologi Big Data sebagai kerangka pengambilan keputusan dan kecerdasan buatan. Selain itu, Amar Bank juga mengimplementasikan DevOps Culture. “Sehingga untuk proses deployment, proses implementasi system baru itu sudah Continuous Integration dan Continous Deployment (CI/CD) Pipeline, tidak ada downtime atau bisa dibilang zero downtime ketika kita mengeluarkan fitur baru atau mengeluarkan produk baru dan itu terjadi secara otomatis. Dan kita merestrukturisasi untuk IT organization kita dengan berdasarkan pendekatan Agile Manifesto,” tandasnya.
Seiring dengan perkembangan, ada beberapa hal berbeda dari kebijakan TI yang diterapkan Amar Bank dari tahun 2020 dan 2021. Seperti dikatakan Kevin, tahun 2020, Amar Bank hanya memiliki dua kebijakan. ”Tahun ini sudah diperbaharui semua dan ada penambahan juga, kita punya SMKI (Sistem Manajemen Keamanan Informasi). Ini (jadi) syarat sahnya mendapatkan sertifikasi ISO 27001, yang mana kita telah mendapatkan tahun lalu di bulan Desember 2020. Dan tahun ini sudah memperbaharui lagi. Kita juga berhasil mempertahankan sertifikasi ISO kami,” ujar Kevin.
Sementara dair sisi kebijakan TI dan Standar Operasional TI, AMar Bank juga telah melakukan upgrade dan improvement dari kebijakan yang lama. Hal itu lantaran adanya perubahan dari POJK (POJK 13/POJK.03/2020 atas perubahan POJK 38/POJK.03/2016 dan SEOJK 21/SEOJK.03/2017). “Sehingga SOP dan policy kita harus berubah,” singkatnya.
Selain itu, Amar Bank juga menerapkan BCP (Business Continuity Plan), yang akan mengatur jika terjadi disasater atau terjadi kerusakan sistem.
Adapun dalam mekanisme pengambilan kebijakan terkait investasi dan belanja TI, Amar Bank masih memegang prinsip yang diterapkan pada tahun lalu. Dalam hal ini, Amar Bank lebih fokus pada OPEX (Operational Expenditure), bukan pada CAPEX (Capital Expenditure).
”Karena itulah kami mengimplementasi sistem, kalau itu third party services itu sifatnya SaaS, Iaas, atau PaaS. Bukan investasi dalam jumlah besar di server dan lainnya, melainkan kita selalu bayar per use atau per bulan atau per query per bulan. Karena kami sadar dengan mengikuti sistem atau mekanisme Saas, IaaS, atau PaaS ini kita lebih fleksibel jika memang sistem yang kami pakai saat ini sudah tidak up to date lagi. Kalau kita sifatnya investment, bisa jadi terutama kalau kita bicara hardware, itu hardware-nya sudah tidak compatible dengan software yang baru. Nah, itu yang mau kita hindari,” jelas Kevin.
IT Maturity Level & Digital Culture
Sebelum melompat ke soal IT Maturity Level dan pengembangan Digital Culture yang dilakukan Amar Bank, menarik diketahui bahwa saat ini bank yang didirikan pada tahun 1991 ini telah memiliki lebih dari 1200 karyawan dengan 86% di antaranya adalah generasi milenial yang dekat dengan dunia digital.
Berlanjut ke IT Maturity Level, berdasarkan assessment yang dilakukan secara mandiri, Kevin mengatakan bahwa IT Maturity Amar Bank masih di angka 4 (untuk) Measured & Manage and 5 Level untuk Optimized. “Kenapa kami bisa mendefinisikan seperti itu, karena seperti yang disampaikan di sini ada empat big item yang telah kita implementasikan,” kata Kevin.
Empat item yang telah dilakukan oleh Amar Bank tersebut antara lain Big Data Architecture, Data Analytic, Cloud Computing, dan Artificial Intelligence & Machine Learning. Saat ini, tim di Amar Bank terus mengembangkan AI untuk beberapa produk seperti chat robot, voice recognition based scoring dan lain-lain sebagainya.
Sementara dalam upaya untuk membangun digital culture di perusahaan, Amar Bank telah menerapkan sejumlah instrument, antara lain Agile-Scrum Framework; Artificial Intelligence pada sistem; menerapkan Application Programming Interface; menerapkan Cloud Service; menerapkan Big Data; pelatihan kompetensi Talenta TI; dan updated regulasi dan Best Practice.
Produk Unggulan
Bicara mengenai produk unggulan, secara tegas Kevin mengatakan bahwa Amar Bank memiliki dua solusi bisnis yang besar, yakni Tunaiku dan Senyumku.
Dalam paparannya disebutkan bahwa layanan Tunaiku merupakan produk pinjaman digital dengan fitur unggulan yang mengandalkan model penilaian kredit berpemilik berdasarkan big data dan analitik prediktif. Layanan ini memberi manfaat atau dampak bagi perusahaan, yakni memberikan profitabilitas unit dari akuisisi pelanggan baru dan sebagai penghasil pendapatan utama bagi perusahaan.
Lalu untuk Senyumku, ini merupakan solusi perbankan digital yang dihadirkan untuk menciptakan kebiasaan menabung. Senyumku memiliki fitur unggulan berupa solusi banking end to end (deposito, tabungan, transfer online, tagihan pembayaran, kartu, dan lain-lain) yang sepenuhnya digital.
Selain dua aplikasi di atas, Amar Bank juga memiliki satu solusi bisnis baru, berupa Tunaiku Open API (Application Programming Interface) yang diimplementasi tahun 2020. Aplikasi yang dikembangkan secara internal ini ditujukan bagi mitra pihak ketiga. Solusi bisnis ini memiliki fitur unggulan mudah untuk integrasikan untuk semua partner. “Karena ini (Tunaiku Open API), bukan API yang tiap partner berbeda, sehingga tiap partner dapat dokumentasinya. (Selain itu), API-nya juga yang standar,” ujar Kevin seraya mengatakan bahwa API ini memiliki dampak untuk perusahaan sebagai channel aplikasi tambahwan dan aliran penghasilan tambahan. Pun begitu untuk mitra perusahaan, di mana API ini juga bisa menjadi aliran pendapatan.














