Penulis: Fauzi
Seiring langkah transformatif PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yang kini menjadi Digital Telco Company, sejumlah gebrakan pun dilakukan oleh perusahaan BUMN ini, terutama kaitannya dengan percepatan transformasi digital di Indonesia.
Mengenai Telkom yang kini beralih peran sebagai Digital Telco Company, hal itu kembali ditegaskan oleh Riza Rukmana, Vice President of Digital Business Telkom, dalam paparannya di hadapan dewan juri TOP Digital Awards 2021.
“Kita punya purpose yang lebih tinggi dari visi. Purpose kami adalah ingin mewujudkan bangsa yang lebih sejahtera dan berdaya saing, serta memberikan nilai tambah yang terbaik bagi para pemangku kepentingan. Hal itu dilakukan melalui peran kita sebagai Digital Telco Company. Jadi, kita ini semula kita adalah perusahaan telekomunikasi, namun adanya perkembangan bisnis, kita akan bertransformasi menjadi digital telco. Sehingga ini adalah perusahaan digital yang berbasiskan telco,” kata Riza yang dalam paparannya mengusung tema ‘Akselerasi Transformasi Digital di Indonesia’.
Lalu untuk visinya sendiri, Telkom seperti dikatakan Riza, ingin menjadi digital telco pilihan utama untuk memajukan masyarakat. “Dan untuk itu kita punya tiga misi, yaitu pengembangan infrastruktur, pengembangan talenta, dan orkestrasi ekosistem digital,” singkatnya.
Lebih lanjut Riza berkata sebagai holding company, Telkom Group disebut mengelola 50 perusahaan dalam tiga domain bisnis, yakni digital connectivity, digital platform, dan digital services. Sementara untuk mendukung program digitalisasi nasional, Telkom menggelar infrastruktur digital, yang terdiri dari jaringan akses, jaringan back bone, dan digital platform. Di samping itu, juga Telkom sudah melebarkan sayap ke sembilan negara.
“Sehingga dapat kita lihat bahwa infrastruktur Telkom ini menyebar dan mengakar. Jadi, kita selain luas, juga kita dalam sampai ke end user, sampai ke pengguna-pengguna akhir. Nah, ini kita menjangkau ke seluruh pelosok Tanah Air dan sekaligus menghubungkan masyarakat Indonesia dengan dunia luar dan sebaliknya,” ujar Riza.
Bisnis Digital
Dalam paparannya, Riza mengatakan bahwa Telkom telah menyeleraskan strategi digitalnya dengan agenda nasional untuk mempercepat digitalisasi di berbagai industri. Secara garis besar terdapat tiga jalur dalam melakukan pengembangan produk digital.
Yang pertama, adalah jalur strategi perusahaan, jalur penugasan dan strategi, di mana ini merupakan arahan strategis perusahaan yang diterjemahkan dan dieksekusi dalam bentuk penugasan. “Di sini Telkom membentuk organisasi yang agile. Agile itu kami bisa membentuk kapan saja dan membubarkan kapan saja, bisa mengubah sesuai dengan kebutuhan, ini kita namakan Tribes,” kata Riza.
Selanjutnya adalah jalur Passion itu melalui minat karyawan. “Jadi, karyawan pun kita encourage untuk melakukan inovasi dan men-develop digital product sesuai dengan passion-nya masing-masing,” jelas Riza.
Adapun yang ketiga adalah jalur Indigo, ini adalah bagaimana Telkom menangkap inovasi-inovasi yang berasal dari luar organisasi, yang diwadahi dalam bentuk Indigo dan melakukan inkubasi. ”Hasil dari inovasi di ketiga jalur ini kemudian kita scale up di CFU (customer facing unit), di anak perusahaan yang related dan bisa juga kita lakukan suntikan modal melalui MDI Venture. Kita punya Corporate Capital Venture namanya MDI, dan ini juga menjadi salah satu jalur kita untuk melakukan pengembangan produk digital sehingga hasilnya diharapkan bisa dalam bentuk Yield artinya kita menghasilkan revenue sampai net income atau bisa juga berupa efisiensi dan efektivitas dan bisa berupa Gain, yaitu valuasi dari produk yang sudah kita kembangkan,” jelas Riza.
Produk Unggulan
Sebagai perusahaan ‘Digital Telco’, Telkom tentunya sudah mengembangkan begitu banyak produk. Namun, dalam paparannya Riza hanya menyebutkan 46 produk yang merupakan produk prioritas bagi Telkom untuk dikembangkan. Produk-produk tersebut terbagi ke dalam lima kelompok.
“Yang pertama adalah kelompok yang kita tekankan pada valuation, harapannya produk-produk ini akan memberikan benefit kepada perusahaan dalam bentuk value, di mana nanti niliainya/valuasinya akan meningkat. Yang kedua adalah ICT/short term revenue, di sini harapannya adalah produk-produk ini bisa menghasilkan pendapatan baru, pendapatan di kelompok digital revenue bagi Telkom Group sehingga bisa menopang pendapatan konektivitas yang selama ini dominan di kami,” ujarnya.
Selanjutnya, kategori ketiga adalah produk-produk yang sifatnya Add-ons, merupakan produk yang selama ini Telkom kembangkan seperti Indibox, IndiHome Study, dan Game Qoo yang melengkapi produk IndiHome kami.
“Kemudian kita juga lakukan digitization. Digitization ini bagi kami definisikan sebagai perbaikan proses internal yang dimaksudkan untuk melakukan efisiensi atau juga bisa mempermudah, mempercepat proses meningkatkan proses kepada pelanggan. Yang terakhir adalah Platform. Platform ini adalah basis dari produk-produk yang tadi kita kembangkan sehingga ini merupakan fondasi yang digunakan oleh produk-produk yang running di atasnya,” tandas Riza.
Bicara soal produk unggulan yang telah dikembangkan Telkom, salah satu yang paling popular dan saat ini banyak diakses adalah Peduli Lindungi yang dikembangkan untuk Kominfo. Riza mengatakan semenjak aplikasi ini dijadikan persyaratan untuk mobilitas masyarakat Peduli Lindungi mengalami peningkatan yang luar biasa. “Sehinga saat ini user aktifnya per bulan sudah mencapai 63 juta, dan ada 50 aplikasi yang terintegrasi dengan aplikasi Peduli Lindungi,” jelas Riza.
Masih satu paket dengan Peduli Lindungi, Telkom juga mengembangkan Platform Vaksin untuk mempercepat implementasi vaksinasi, mengadministrasikan proses pendaftaran, mencatat pada saat pelaksanaannya. “Sehingga kita dapat memonitor jumlah orang yang sudah mendapatkan vaksinasi dan menerbitkan sertifikat vaksin,” ucap Riza.
Tidak berhenti sampai di situ, Telkom juga telah produk lain, yang mencakup sektor industri kesehatan, agrikultur, UMKM dan edukasi. Di industri kesehatan, umpamanya, Telkom memiliki Fit Aja. “Ini adalah pengelolaan fasilitas kesehatan karyawan untuk BUMN. Jadi, ini digunakan oleh karyawan BUMN,” papar Riza.
Kemudian di sektor agrikultur, Telkom memiliki Agree, yang dikembangkan untuk membantu petani dalam hal memberikan akses ke financing, kemudian mempertemukan seller dengan buyer di ekosistem pertanian termasuk membantu menghubungkan petani dengan perusahaan agribisnis maupun membantu petani menjual dan mendistribusikan hasil pertaniannya.
Di sektor UMKM, Telkom juga telah membuat suatu marketplace bernama Padi UMKM (Pasar Digital UMKM) untuk memfasilitasi para UMKM dalam menjual produk-produknya ke seluruh BUMN. Saat ini, kata Riza, sudah ada 25 ribu pengusaha yang terhubung, dan 78 BUMN yang menjadi marketnya.
Sementara di sektor edukasi, telkom membentuk apa yang disebutnya sebagai Pijar (Pintar Belajar). “Ini adalah platform untuk membantu di segmen pendidikan, di sini bisa sebagai platform untuk di kampus, di sekolah, atau di perusahaan-perusahaan,” kata Riza.
Selain produk yang dipaparkan di atas, sejatinya masih banyak produk unggulan lain yang telah dikembangkan oleh perusahaan yang menempati status High Maturity level berdasarkan Gartner IT Score dengan perolehan score 4,2 dari skala 5 ini.














