Penulis: Fauzi
PT Mitratex Konsultan sepertinya cukup jeli melihat peluang bisnis di ranah IT Consulting dan Training. Seiring digitalisasi yang terus melaju ditandai dengan banyaknya perusahaan yang melakukannya, peran perusahaan IT Consulting seperti Mitratex juga tak bisa dikesampingkan untuk mengawal suksesnya proses digitalisasi di suatu perusahaan.
Lebih lanjut mengenai Mitratex, sebagaimana dikatakan Rama Ambara, selaku Co-Founder & Director, perusahaan ini memiliki visi menjadi mitra strategis pelanggan dalam melakukan perencanaan, pengembangan serta implementasi teknologi informasi dan komunikasi, serta sumber daya manusia.
Sementara untuk menyukseskan visi yang diusung, Mitratex mengusung empat misi, seperti dijabarkan oleh Rama dalam paparannya.
“Tentu pertama adalah bagaimana kami bisa memberikan customer satisfaction. Bagaimana kita bisa men-delivery project on budget, on time, on quality tentunya, itu kita sangat mengutamakan di sana untuk kepuasan pelanggan. Kemudian yang kedua adalah kita memberikan layanan yang lengkap dan up to date. Jadi, kami selalu mengadopsi dengan teknologi atau framework yang terkini terkait dengan IT Consulting. Jadi, kami selalu mengutamakan versi-versi terbaru, katakanlah dengan ITIL (Information Technology Infrastructure Library) versi baru, kemudian dengan COBIT 2019, dan sebagainya. Itu kami mengadopsi ke sana, karena kami tahu dari setiap tahunnya perkembangan terkait dengan IT Consulting itu begitu cepat sehingga dari sisi klien-klien kami juga membutuhkan sesuatu framework yang up-to date dan memang dibutuhkan saat ini,” jelas Rama di hadapan dewan juri TOP Digital Awards 2021.
Selanjutnya, misi Mitratex yang ketiga adalah menjadi pusat pengembangan SDM IT. Dikatakan Rama, sebagai perusahaan Consulting, Mitratex sangat mengutakan sumber daya manusianya.
”Karena bagaimanapun, bicara IT Consulting pasti kita akan sangat related terhadap konsultan-konsultan yang memang memiliki kapabilitas dan kompetensi yang sangat baik di bidangnya. Karenanya di sini kita juga sangat meng-encourage sisi tim kami untuk selalu berkembang. Kita juga melakukan berbagai macam pengembangan untuk perusahaan maupun organisasi dan tim dengan melaksanakan seperti Corporate University, yaitu suatu program di internal kita untuk mengembangkan talenta-talenta kita untuk menjadi yang lebih capable di bidangnya,” ujar Rama.
Adapun misi keempat Mitratex adalah mensejahterakan pemangku kepentingan perusahaan. Singkatnya, kata Rama, bagaimana Mitratex bisa mensejahterakan seluruh stakeholder, mulai dari pemegang saham, pihak manajemen, karyawan, klien dan partner-partner perusahaan. “Itu yang selalu kita jaga,” ucapnya.
Milestone dan Layanan Mitratex
Sedikit menoleh ke belakang, Mitratex disebut memulai bisnisnya pada tahun 2012, di mana pada awal kiprahnya perusahaan ini disebut mirip seperti start-up.
”Jadi kita sudah berdiri dari tahun 2012, sudah hampir 10 tahun kita berjalan di dunia IT Consulting, mungkin di tiga tahun pertama kita memang relative bentuknya menjadi seperti startup saat ini, di mana kita berangkat dari small team, small office, kita masih mencari bentuk,” kata Rama Ambara Co-Founder & Director PT Miratex Konsultan saat sesi Penjurian TOP Digital Awards 2021 yang diadakan Majalah It Works secara virtual, (19/11/21).
Seiring perjalanan, lanjut Rama, pada tahun 2015 Mitratex pun sudah lebih stabil. Di mana saat itu Mitratex sudah memiliki brand awareness, karena tiga tahun pertama sudah memiliki klien-klien yang cukup prestisius. “Meskipun mungkin awal-awal kita bekerja, katakanlah seperti Sub-kon, di belakang perusahaan-perusahaan besar. Tapi setelah itu kita sudah bisa berdikari atau mandiri untuk langsung menangani project secara langsung atau direct tender dengan Mitratex,” ungkap Rama.
Mitratex baru mulai menapaki masa pertumbuhan pada tahun 2016, di mana secara tim perusahaan ini disebut telah menjadi lebih besar. Selanjutnya di tahun 2017-2018, Mitratex pun masuk ke fase stabilisasi. Dan di tahun 2019 Mitratex pun mulai expand. ”Artinya kita sudah mulai masuk ke implementasi menggunakan teknologi atau sistem karena kita mostly adalah (perusahaan) consulting,” jelas Rama.
“Dan mungkin di 2020 inilah yang memang menjadi satu hal yang sangat baru, makanya tema yang kami angkat adalah IT Consulting & Training Business Model Transformation. Kita mulai tahun 2020 sampai dengan saat ini,” sambungnya.
Beralih ke soal layanan yang ditawarkan, dalam hal ini Mitratex memiliki tiga lini bisnis utama.
Pertama, layanan yang ditawarkan Mitratex adalah Consulting. “Di sini semua pekerjaannya dilakukan oleh tim kami. Jadi dari sisi assessor, kemudian dari sisi consulting-nya itu memang pure dilakukan oleh kami. Atau data-data yang kami terima dari sisi klien kita akses, kemudian nanti dari sisi klien hanya tahap diskusi atau interview, atau konfirmasi. Jadi, pure kita yang melakukan assessment,” kata Rama.
Kedua, layanan Mitratex adalah Training. Layanan ini dilakukan terutama berkaitan dengan strategy management dan IT Governance, baik dilakukan secara in house training maupun dengan cara membuka kelas secara khusus. “Artinya kita bisa ketemu langsung ke klien sesuai dengan kebutuhan mereka atau dari kami juga kadang beberapa lalu juga selalu mengadakan secara berkala di kantor kami yang kita fasilitasi dengan trainer dan instruktur yang memang sudah punya pengalaman di bidangnya dan tentunya sertified,” jelas Rama.
Ketiga, layanan Mitratex berupa Advisory. “Di sini kita lebih banyak justru memberikan coaching atau memberikan guidance, atau memberikan advise. Tapi mungkin secara pekerjaan dilakukan sebagian besar oleh klien itu sendiri. Jadi, mereka mungkin melakukan assessment, self assessment, kemudian mereka hanya mengisi dari form-form isian yang kita sudah miliki (base on template) dan sebagainya, dan kita hanya sifatnya coaching hanya memberikan advise,” papar Rama.
Sekadar diketahui, dari sejak berdiri hingga saat ini, Mitratex secara total telah memiliki sekitar 242 project, dengan sebagian besar menangani bidang IT Service Management dan Enterprise Architecture. “Kenapa kita banyak mengerjakan (bidang) ini, karena kebetulan kita memiliki expertise yang cukup kuat di bidang IT Service Management (ITSM), ITIL, dan di Enterprise Architecture. Dan kami juga berpartner dengan principal untuk memintasi tools yang mereka miliki terkait dengan Tool ITSM maupun tool Enterprise Architecture. Jadi, kami sudah dibantu juga dengan adanya teknologi tidak melulu menggunakan paper, menggunakan Excel dan Visio, tetapi sudah menggunakan tools yang memudahkan kami untuk menerjemahkan keseluruhan proses mereka menjadi digital,” tandasnya.
Terus Bertransformasi
Dalam paparannya Rama juga mengungkap beberapa model transformasi yang telah dan akan dilakukan Mitratex di masa mendatang. Pertama, Technology-Free, fase di mana sebagai perusahaan konsultan dalam melakukan kegiatannya tanpa melibatkan teknologi. ”Artinya proses assessment dan sebagainya dilakukan secara manual, kita face to face dengan klien kita catat mungkin dokumentasinya by Word atau by Excel, tapi mostly tidak ada teknologi secara khusus, hanya komputer dengan aplikasi Office seperti biasa,” ungkap Rama.
Lalu, yang kedua adalah Technology-Assisted. Di mana pada fase ini Mitratex sudah menggunakan teknologi dalam men-delivery produk. “Di Technology-Assisted kita sampaikan bahwa kita sudah menggunakan tools ITSM ataupun EA, untuk kita bisa men-deliver solusi-solusi kami ke klien,” ucapnya.
Yang ketiga adalah Technology-Facilitated, di mana dalam berinteraksi dengan customer tidak lagi face to face secara langsung. “Ini tentunya sudah dengan teknologi, kita membangun sistem, (atau) juga bisa menggunakan sistem yang sudah ada katakanlan seperti Zoom meeting. Jadi, tidak lagi harus face to face atau kita bisa menggunakan project sharing seperti Open Project dan sebagainya, untuk kita bisa sharing dokumen dan kolaborasi,” kata Rama.
Dan yang keempat, ini yang disebut menjadi satu andalan Mitratex sekarang, yakni Technology-Mediated. “Di mana kita bisa memberikan produk dan layanan kita tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan customer. Di sini kita memiliki solusi namanya Ascent untuk assessment center. Ini terkait bagaimana dari sisi klien bisa melakukan assessment tanpa perlu kontak langsung dengan kita secara fisik. Mereka bisa mengisi dengan berbagai macam form seperti quesioner dan sebagainya, dan sistem juga bisa langsung memberikan semacam scoring terkait dengan IT Maturity Level-nya. Itu semua bisa dilakukan by system. Jadi, kita bisa lihat secara langsung efeknya seperti apa dari sisi revenue dan lain sebagainya dari sisi jumlah project itu akan berpengaruh sangat signifikan ketika kita mengimplementasikan ini,” jelasnya.
Terakhir, atau yang kelima adalah Technology-Generated, ini transformasi yang tengah disiapkan Mitratex untuk masa yang akan datang. “Di sini harapannya adalah teknologi bisa memudahkan kami. Artinya ketika meng-assess kita bisa memanfaatkan yang namanya teknologi Artificial Intelligent (AI) atau Machine Learning based on data-data yang sudah kita miliki selama ini. Itu sangat memungkinkan nantinya untuk kita melakukan semacam scoring atau assessment secara otomatis by system,” kata Rama.
Jadi, lanjut Rama, tidak lagi perlu ada konsultasi secara manual oleh Mitratex sebagai konsultan ketika harus menelaah lebih jauh, semuanya bisa by system.
“Ini memang belum kami lakukan, tapi inisiatif ini sudah ada, karena kami akan sudah mulai masuk ke arah sana, sudah mulai mengembangkan yang namanya Artificial Intelligent,” tutupnya.














