Pandemi COVID-19 tentu mempengaruhi semua hal dan mendorong munculnya banyak sinyal perubahan sebagaimana terangkum dalam laporan Survei Ipsos Global Trends 2021: Aftershocks and Continuity yang melibatkan 24.000 responden dari 25 negara.Namun, berbagai temuan perubahan yang terlihat dalam hasil survei tersebut cenderung didorong tren opini publik yang sudah berlangsung lama sebelum pandemi COVID-19 (macro forces).
Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos in Indonesia dalam siaran pers, Senin, 06/12/2021 menjelaskan, “Yang mana macro forces tersebut mendorong adanya shifts atau pergeseran perilaku masyarakat yang diukur dalam banyak penelitian yang kita lakukan. Kemudian, dari pergeseran tersebut, kita melihat adanya sinyal-sinyal perubahan pada seluruh masyarakat., seperti konsumerisme dan pilihan merek konsumen, isu perubahan iklim dan lingkungan, serta banyak isu lainnya. Ketiga hal tersebut mempengaruhi satu sama lain dan kita perlu untuk memahami perubahan pada setiap levelnya untuk secara efektif memahami bagaimana masa depan.”
Konsumerisme dan Pilihan Merek
Laporan Ipsos Global Trends 2021 menemukan adanya kenaikan belanja online di masa pandemi COVID-19. Delapan dari sepuluh pasar di dunia menyatakan belanja online lebih mudah daripada berbelanja di toko tradisional, di mana Indonesia memiliki persentase tertinggi (73 persen) di antara 25 negara yang disurvei. Sementara, masyarakat di beberapa negara merasa berbelanja online lebih sulit dibandingkan di toko tradisional atau offline, antara lain di Afrika Selatan (59% persen), Kenya (60 persen) dan Nigeria (65 persen).
Mayoritas konsumen dunia dapat menemukan penawaran lebih baik saat berbelanja online dibandingan di toko konvensional. Misalnya di Indonesia yang menempati urutan ke-4 di antara negara tersurvei lainnya dengan presentase 83 persen. Konsumen Indonesia setuju bahwa mereka dapat menemukan penawaran lebih baik saat berbelanja online dibandingkan di toko. Sebesar 81 persen konsumen di Indonesia mengaku percaya pada rekomendasi online dari aplikasi atau situs terkenal.
Tujuh dari 10 responden dari 25 pasar di dunia setuju bahwa mereka cenderung membeli merek yang mencerminkan nilai pribadi mereka (70 persen). Hubungan ini paling kuat di Nigeria (91 persen), China (86 persen), Kenya & Filipina (keduanya 85 persen), dan Indonesia (81 persen), sementara orang Meksiko dan Denmark paling tidak setuju (masing-masing 51 persen).
Terkait pemilihan merek, mayoritas pasar di dunia masih belum banyak memilih merek lokal. Mereka berpendapat bahwa merek global memilik produk yang lebih unggul dibandingkan merek lokal negaranya, seperti di Nigeria (77 persen), Kenya (67 persen), India (62 persen), Thailand (58 persen), dan Singapura (55 persen). Hal itu berbeda dengan pasar Indonesia di mana 59 persen konsumen tidak setuju bahwa merek global memiliki produk yang lebih baik daripada merek lokal. Data itu selaras dengan data survei yang sama bahwa 87 persen konsumen di Indonesia lebih cenderung untuk memilih membeli produk lokal dibandingkan produk global.
“Untuk pasar Indonesia, dari data hasil survei Ipsos Global Trends 2021 terlihat nyata bahwa belanja online dan pilihan merek lokal sangat menonjol dan peningkatannya sangat signifikan bila dibandingkankan sebelum pandemi,” kata Soeprapto Tan.
Selain karena faktor kemudahan penggunaan saluran belanja online, seperti aplikasi, situs, sosial media, dan lainnya, faktor kemudahan menemukan penawaran atau promo lebih banyak dan lebih baik menjadi salah satu pertimbangan konsumen lebih cenderung memilih belanja online dibandingkan di toko. “Dan untuk pilihan merek lokal, konsumen merasakan merek lokal Indonesia saat ini dapat bersaing bahkan dengan merek global. Untuk itu, saya melihat produk lokal dan belanja online masih akan tetap menjadi pilihan konsumen ke depannya,” prediksi Soeprapto.
Baca: Kearifan Lokal Bantu Perusahaan Rintisan Lokal Berkompetisi dengan Pemain Global














