Laporan survei Ipsos Global Trends 2021: Aftershocks and Continuity, yang melibatkan 24.000 responden dari 25 negara, mengungkap banyak hal, antara lain teknologi, perubahan iklim, dan sains.
“Pandemi COVID-19 tentu mempengaruhi semua hal dan mendorong munculnya banyak sinyal perubahan. Namun, berbagai temuan perubahan yang terlihat dalam hasil survei tersebut cenderung didorong tren opini publik yang sudah berlangsung lama sebelum pandemi COVID-19 (macro forces),” kata Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos in Indonesia dalam siaran pers, Senin, 06/12/2021.
Terkait Media Sosial, Data, dan Teknologi, maka laporan Ipsos Global Trends 2021 memperlihatkan pandemi mendorong akselerasi teknologi khususnya penyebaran internet di mana sebesar 80 persen warga Indonesia mengaku kesulitan jika tidak menggunakan internet. Dalam peringkat tersebut, Indonesia menduduki peringkat empat di dunia, mengungguli Inggris, Australia, Thailand, bahkan Amerika Serikat.
Kendati demikian, 84 persen publik di semua negara setuju bahwa perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan. Persepsi itu meningkat di hampir semua negara antara 2019 dan 2021, dengan peningkatan paling menonjol terjadi di China, Indonesia, dan Afrika Selatan.
Anggapan perusahaan media sosial memiliki terlalu banyak kekuatan di China meningkat dari 67 persen menjadi 83 persen. Di Indonesia, proposi tersebut meningkat dari 84 persen ke 97 persen, dan Afrika Selatan meningkat dari 75 persen ke 84 persen.
Sebaliknya, survei tersebut mencatat meningkatnya sikap apatis bahkan keterbukaan untuk berbagi data pribadi. Sebesar 84 responden mengakui bahwa kekuatan teknologi baru membuat batas privasi menjadi sulit dihindari.
Perubahan Iklim dan Lingkungan
Kekhawatiran tentang iklim diidentifikasi sebagai nilai global terkuat dalam survei Global Trends 2019 dengan tren terus menguat selama pandemi.
Mayoritas masyarakat Indonesia juga memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya langkah nyata dalam hal lingkungan, termasuk lebih sedikit melakukan perjalanan (87 persen) guna menanggulagi perubahan iklim dan bencana lingkungan.
Selain itu, pasar di negara berkembang juga melihat bahwa penanganan iklim adalah sebuah keharusan, di mana lebih dari 8 dari 10 orang Kolombia (82 persen) serta proporsi yang sama dari warga China dan Brasil (78 persen) mengatakan bahwa perusahaan yang memprioritaskan lingkungan lebih penting bagi mereka.
Kepercayaan pada Sains
Meningkatnya kepercayaan pada sains menjadi tren jangka panjang di mana enam dari sepuluh responden global setuju bahwa semua masalah medis dapat disembuhkan (60 persen).
Persentase itu meningkat sejak dimulainya rangkaian studi Global Trend pada tahun 2013 dan terus meningkat seiring dengan pengembangan vaksin selama pandemi.
Persentase itu lebih tinggi di negara berkembang, yakni 9 dari 10 orang Indonesia (90 persen), Thailand dan Filipina (84 persen dan 82 persen) setuju bahwa sains akan mengalahkan semua penyakit.
Pada 2020, kepercayaan masyarakat terhadap vaksin COVID-19 sempat mengalami penurunan di beberapa negara, namun mayoritas kembali menguat di China 22 persen, Peru & Chile masing-masing 7 persen, Brasil 4 persen, Indonesia 2 persen, dan India 1 persen.
Sedangkan negara lain seperti Italia (-4 persen), Inggris dan Australia (masing-masing -6 persen), dan Amerika Serikat (-12 persen) masih meragukan manfaat dari vaksin itu sendiri.
Baca: Survei: Belanja Online dan Produk Lokal Jadi Pilihan Konsumen Indonesia














