Jakarta, Itech- Thorium belum dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar pembangkit listrik dalam waktu dekat. Diperlukan penelitian panjang guna mengembangkannya hingga siap untuk digunakan. Salah satu kendala yang dihadapi BATAN karena tidak adanya dana untuk melakukan penelitian dan pengembangan.
“Batan memperkirakan ada sekitar 210.000-280.000 ton thorium yang tersimpan di perut bumi Indonesia. Salah satu jenis nuklir ini memiliki limbah radio aktif yang jauh lebih ramah lingkungan atau lebih rendah dibanding uranium,” kata Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto didampingi pakar PLTT IAEA, Matt Krause di Jakarta, kemarin.
Batan bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) menyelenggarakan FGD dengan mengundang Matt Krause yang memaparkan perkembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di dunia dan pandangan dunia terhadap PLTT.
Untuk pekerjaan pemetaan potensi thorium BATAN perlu dana Rp3 miliar per tahun. Penelitian thorium sampai siap digunakan diperlukan dana sampai 299 juta dolar AS atau sekitar Rp3,9 triliun. “Kami fokus mendata ada di mana saja thorium di Indonesia, perlu Rp3 miliar per tahun untuk cari potensinya. Kemudian untuk penelitian sampai jadi biayanya mungkin sekitar 299 juta dolar AS,” ungkap Djarot.
Sementara itu, Matt Krause mengungkapkan, pembangkit listrik berbahan bakar thorium sudah mulai dikembangkan pada 1965 oleh Glen T Seaborg di Oak Ridge National Laboratory, Amerika Serikat dengan memanfaatkan thorium dalam bentuk cair yang disebut Molten Salt Reactor (MSR). MSR telah beroperasi selama 20 ribu jam atau 4 tahun tanpa masalah.
“Sayangnya program tersebut dihentikan oleh Amerika Serikat yang lebih memilih uranium karena reaksi fissinya dapat menghasilkan plutonium yang saat itu dibutuhkan untuk opengembangan persenjataan berbahan bakar nuklir,” paparnya. Paska dihentikannya program PLTT di Amerika Serikat, pada 1967 Jerman berinisiatif untuk mengembangkan teknologi yang sama dan kemudian diikuti oleh India. Pada perkembangan selanjutnya Tiongkok dan Jepang juga ikut mengembangkan PLTT. (red)














