Penelitian Kaspersky baru-baru ini menunjukkan korelasi positif antara kesadaran risiko ancaman terkait pembayaran digital dan penerapannya di Asia Tenggara.
Dalam banyak hal, kesadaran ini dapat dikaitkan dengan volume pemberitaan di media tentang insiden keamanan siber, terutama tahun lalu, dan upaya kolektif dari pemerintah bersama sektor swasta dalam meningkatkan kesadaran keamanan di tengah maraknya adopsi mobile banking dan e-wallet di wilayah tersebut,” Sandra Lee, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, dalam keterangannya, 06/04/2022.
Berjudul “Mapping a secure path for the future of digital payments in APAC”, penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden di Asia Tenggara (97%) mengetahui setidaknya satu jenis ancaman terhadap platform pembayaran elektronik, sementara hampir tiga dari empat (72%) secara pribadi mengalami setidaknya satu jenis ancaman yang terkait dengan teknologi ini.
Lebih dari seperempat responden mengalami penipuan rekayasa sosial melalui teks atau panggilan (37%), situs web palsu (27%), penawaran dan transaksi palsu (27%), dan seperempat melaporkan telah menerima penipuan phishing (25%).
Luar biasanya, penipuan rekayasa sosial adalah ancaman yang paling banyak ditemui di sebagian besar negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia (40%), Malaysia (45%), Filipina (42%), Singapura (32%), dan Vietnam (38%). Satu-satunya pengecualian adalah Thailand di mana ancaman yang paling banyak ditemui yaitu situs web palsu (31%).
Mendapatkan paparan mengenai ancaman dunia maya dapat secara langsung berkorelasi dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Penipuan rekayasa sosial, situs web palsu, serta penawaran dan kesepakatan palsu adalah salah satu ancaman yang paling umum ditemui, dengan persentase kesadaran (awareness) yang besar masing-masing sebesar 72%, 75%, dan 64%.
Baca: Startup Pembayaran Digital Berencana Ekspansi ke Asia Tenggara
Ketika mengukur dampak finansial dari insiden siber yang melibatkan pembayaran digital, jumlah kerugian finansial tampaknya sebagian besar dibatasi kurang dari 100 USD hingga 5.000 USD, dengan jumlah responden sangat kecil yang melaporkan mengalami kerugian sebesar lebih dari 5.000 USD.
Mayoritas responden (52%) mengaku kehilangan uang karena penipuan rekening bank dan kartu kredit. Di kelompok mayoritas ini, sebanyak 23% kehilangan kurang dari 100 USD, 13% kehilangan antara 101-500 USD, sementara 48% menunjukkan bahwa mereka tidak kehilangan uang dari ancaman ini.
Peretasan akun akibat pelanggaran data (47%), penipuan aplikasi palsu (45%), ransomware (45%), serta penawaran palsu (43%) juga terdaftar sebagai lima ancaman teratas yang mengakibatkan kerugian finansial di Asia Tenggara.
Pada saat yang sama, dampak ancaman siber terhadap pembayaran digital tidak hanya membebani konsumen secara finansial, tetapi juga memengaruhi mereka dari perspektif psikologis.
Setelah mengalami insiden siber, lebih dari dua dari tiga responden dari wilayah tersebut (67%) mengatakan bahwa mereka menjadi lebih waspada. Lebih dari seperempat (32%) juga mencemaskan apakah mereka bisa mendapatkan kembali uang yang hilang.
Konsumen juga khawatir tentang kepercayaan mereka. Sekitar 36% mengindikasikan mereka masih percaya bahwa bank dan penyedia e-wallet dapat menyelesaikan isu yang ada, tetapi 18% mengatakan mereka kurang percaya pada penyedia pembayaran digital. Meskipun demikian, sejumlah konsekuensi terus berlanjut.
Lebih dari seperempat (30%) responden menyalahkan diri sendiri atas kesalahan tersebut, sementara sebagian kecil (12%) mengakui bahwa mereka terlibat dalam kesalahpahaman dengan pasangan, anggota keluarga dan teman karena hal itu.
Baca: Telah Hadir tara.app, Dukung UMKM Adopsi Pembayaran Digital
Dalam hal tindakan yang dilakukan setelah menghadapi ancaman, hampir dua dari tiga responden (64%) melakukan perubahan terhadap kata sandi dan pengaturan keamanan lainnya di aplikasi perbankan dan e-wallet mereka, setengahnya (50%) menelepon bank atau perusahaan e-wallet terkait, sementara 45% memberi tahu anggota keluarga dan teman-teman mereka tentang insiden tersebut.
Perlindungan keamanan siber menjadi lebih diperhatikan oleh konsumen begitu mereka berhadapan dengan ancaman. Sedikit lebih dari seperempat responden (26%) mengatakan mereka menginstal solusi keamanan pada perangkat yang terinfeksi, sementara persentase yang sama (26%) mengatakan mereka melakukannya terlepas dari apakah perangkat mereka terinfeksi atau tidak.
“Memulai baru dari awal” juga merupakan pilihan, 15% responden mengatakan bahwa mereka mengunduh e-wallet baru dan membuat akun baru hanya untuk keamanan.
Laporan Kaspersky “Mapping a digitally secure path for the future of payments in APAC” mempelajari tentang interaksi kita dengan pembayaran online. Ini juga memeriksa sikap kita terhadap kenyamanan tersebut, yang memegang kunci untuk memahami indikator yang selanjutnya mungkin akan mendorong atau membendung adopsi teknologi ini.
Studi ini dilakukan oleh lembaga penelitian YouGov di wilayah utama di Asia Pasifik, termasuk Australia, Cina, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam (10 negara). Tanggapan survei dikumpulkan pada Juli 2021 dengan total 1.618 responden yang disurvei di seluruh negara yang disebutkan. Responden berkisar antara 18-65 tahun, yang seluruhnya merupakan pekerja profesional dan pengguna pembayaran digital.
Baca: Studi Ungkap Pembayaran Digital Melesat Saat Pandemi, Siapa Mendominasi?














