Indonesia menyumbang 23 persen dari seluruh perusahaan tekfin di Asia Tenggara. Perkembangan ini, dikombinasikan dengan potensi industri tekfin Indonesia, telah menarik minat investor.
Secara akumulatif, jumlah investasi pada industri tekfin di Indonesia mencapai 904 juta dolar AS atau 23 persen dari total akumulasi investasi pada industri tekfin di Asia Tenggara tahun 2021.
Selain menunjukkan signifikansi industri tekfin dalam menarik investasi, angka statistik ini juga menunjukkan peran tekfin yang signifikan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masa depan bagi Indonesia.
Demikian ringkasan eksekutif Survei Anggota Tahunan AFTECH atau Annual Members Survey (AMS) 2021 yang dihimpun Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH).
Baca: Empat Inisiatif AFTECH Wujudkan Digitalisasi Keuangan
“Laporan Survei Tahunan Anggota AFTECH 2021 ini beserta seluruh temuannya diharapkan dapat menyediakan landasan bagi diskusi dan kolaborasi lebih lanjut antara seluruh pemangku kepentingan dalam hal ini,” kata Ketua Umum AFTECH Pandu Patria Sjahrir, dalam pernyataannya, Rabu, 06/04/2022.
Annual Members Survey (AMS) 2021 itu juga megungkap bahwa nilai transaksi uang elektronik secara nasional meningkat 58,5 persen secara tahun ke tahun (YoY) menjadi lebih dari Rp35 triliun di akhir 2021.
Sedangkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang telah melampaui target 12 juta merchant sebelum tenggat waktu akhir tahun 2021.
Pada 2021 telah disalurkan pinjaman melalui tekfin pendanaan bersama ke lebih dari 13,47 juta rekening peminjam senilai kurang lebih Rp13,6 triliun di bulan Desember 2021.
Serta peningkatan pemanfaatan tekfin untuk berinvestasi di pasar modal, dan perdagangan aset digital.
Baca: Pemerintah Gandeng AFTECH Kembangkan Strategi Nasional Ekonomi Digital














